JawaPos Radar | Iklan Jitu

Menilik Kisah Si Tuupai, Startup Jasa Bikinan Pemuda Surabaya

22 September 2018, 11:10:59 WIB | Editor: Fadhil Al Birra
tuupai, aplikasi jasa tuupai, tuupai aplikasi jasa
CEO & Founder Tuupai, Anthony Gunawan (tengah) bersama para vendor jasa pijat di campaign aplikasi Tuupai di Jakarta. (Istimewa/Tuupai)
Share this

JawaPos.com – Saat ini apa-apa serba online. Hanya dengan smartphone, hampir semua kebutuhan kita mudah didapatkan. Salah satunya adalah si Tuupai (Tupai), startup marketplace yang menyediakan layanan jasa yang dibikin oleh pemuda asal Surabaya.

Duduk Santai, Ada Tuupai. Demikian tagline yang menyertakan aplikasi tersebut. Seperti pernah diberitakan sebelumnya, Tuupai menyediakan beragam pilihan kebutuhan jasa yang sebelumnya tidak ada di aplikasi lain. Tuupai hanya fokus memberikan layanan jasa saja. Misalnya service AC, jasa bor sumur, perbaikan rumah, dan masih banyak lagi hingga jasa perbaikan kompor rusak pun ada.

Anthony Gunawan. Dialah CEO dan Founder Tuupai. Menurut dia, aplikasi Tuupai dibuat berdasarkan pengalaman pribadi. Menariknya, sebagai pemilik dan pendiri startup digital yang bergelut dengan aplikasi dan IT, Anthony ternyata bukan seorang dengan latar pendidikan teknologi.

tuupai, aplikasi jasa tuupai, tuupai aplikasi jasa
CEO & Founder Tuupai, Anthony Gunawan memberikan sosialisasi aplikasi Tuupai di momen Car Free Day, Jakarta. (Istimewa/Tuupai)

Pada 2008 lalu, dia berangkat ke Los Angeles (LA), Amerika Serikat guna menempuh studi di Loyola Marymount University. Anthony menekuni jurusan Financial & Entrepreneurship. “Tidak ada hubungannya dengan teknologi, empat tahun di sana, satu tahun setelah lulus saya bekerja sebagai staf financial di perusahaan telekomunikasi tower,” ujarnya kepada JawaPos.com.

Setahun bekerja, lanjut Anthony, dia kembali ke Surabaya pada 2013. Sekembalinya ke Indonesia, dia tidak langsung membuat aplikasi Tuupai. Sebab kurang lebih setahun setelah kepulangannya ke Surabaya, dia sempat membuat produk camilan yang dijual secara online bernama Almond Crispy Surabaya.

“Dari sana saya melihat potensi jasa di Surabaya untuk home industry misalnya masih sangat kurang. Saya merasakan susahnya cari tenaga jasa seperti perbaikan kompor rusak, atap bocor, AC, dan sebagainya. Saya melihat dari sektor jasa seharusnya segampang kaya kita jual beli online,” katanya bercerita asal mula Tuupai.

Setelah mendapatkan ide soal aplikasi yang bergerak di sektor jasa, tahun 2016 akhir dia memulai konsepsi tim IT aplikasi jasa tersebut dan memulai uji coba beta pada 2017. Tidak mudah, namanya saja startup alias rintisan. Jatuh bangun di awal menjadi makanan sehari-hari Anthony dan tim kecilnya.

Menurutnya, yang paling terasa adalah mengenalkan teknologi kepada masyarakat di Surabaya. Terlebih para vendor atau mitra penyedia jasa seperti service AC, jasa tukang untuk memperbaiki rumah, dan jasa-jasa lainnya yang selama ini masih berkutat dengan kegiatan yang serba konvensional.

Kegiatan tersebut seperti promo dari mulut ke mulut, tempelan di dinding dan tiang listrik, hingga macam-macam cara tradisional lainnya. “Digitalisasi memang tidak mudah,” ujar Anthony.

Apalagi kebanyakan dari masyarakat juga masih menggunakan feature phone atau handphone standard. Anthony mengaku benar-benar merasakan sulitnya mengenalkan teknologi. "Belum lagi masalah trust atau kepercayaan. Bagaimana meyakinkan mereka bahwa lewat aplikasi mereka bisa lebih sejahtera dengan usahanya yang dikenal banyak orang,” terangnya.

Ketika mulai berjalan, Tuupai dengan wadah PT Ilios Studio Teknologi ini perlahan mulai mendapat kepercayaan. Banyak vendor yang bergabung, angka unduhan yang bertumbuh juga transaksi mulai berjalan. Hal ini membuat Tuupai berani hijrah ke Jakarta.

Ya, arek-arek Suroboyo ini melihat adanya peluang di ibu kota. Dengan harapan pemain aplikasi sejenis yang masih sedikit, Tuupai pede merebut hati warga Jakarta melalui aplikasi jasa yang dibawanya.

Datang ke Jakarta dengan nama Tuupai tidak takut olok-olokan? Pertanyaan tersebut agaknya sering dihadapi Anthony. Dengan santai, pria berkacamata itu menjawab bahwa asal-usul nama Tuupai memang berangkat dari kemudahan nama itu sendiri: hewan Tupai.

“Kita ingin namanya mudah dikenal. Kalau unik kan orang mudah ingat. Nah hewan Tupai ini kan representasi dari kecerdasan, gesit, cerdik, cepat tanggap, dan ramah. Hal itu setelah kita riset, ternyata sifat alamiah Tupai memang seperti itu,” katanya bercerita.

“Sebagai startup kita ingin cerdik, cerdas, baik, ramah dan gesit seperti Tupai. Apalagi startup yang bergerak di sektor jasa. Sementara kalau huruf 'U'-nya itu karena Tupai giginya dua keluar, untuk lucu-lucuan saja,” imbuhnya.

Kendati sudah memiliki wadah berbentuk PT, menurut Anthony, Tuupai masih menjadi startup yang ‘membakar uang’ atau belum mendatangkan keuntungan. Anthony bersama Tuupai pun sebagai sebuah perusahaan teknologi rintisan masih mencari investor untuk mewujudkan mimpinya menjadi startup besar.

“Kita masih bakar uang, mencari investor untuk mengembangkan startup ini. Namun ada angka-angka yang harus dipenuhi seperti jumlah transaksi perhari. Saat ini kita sudah berada di angka 40-an transaksi perhari, baik di Surabaya dan Jakarta serta daerah penyangga,” jelas Anthony.

Untuk menarik investor, lanjutnya, paling tidak Tuupai harus bisa menerima 100 transaksi perhari di aplikasinya. Hal itu disebut untuk meyakinkan investor. “Sebagai startup yang lahir di Surabaya, persentase transaksi masih paling banyak di Surabaya ketimbang di Jakarta. Persentasenya sekitar 60-40 lah. Namun Jakarta juga tumbuh pesat banget karena campaign yang kita push terus,” katanya dengan semangat.

Dia menyebut bahwa bulan Oktober nanti, Tuupai akan menghadiri sebuah acara teknologi yang bisa mempertemukan bermacam startup dengan para investor. Harapannya, tahun depan sudah dapat investor dan terus berkembang hingga dirasakan manfaatnya tidak hanya bagi pengguna. Namun dapat membantu pemerintah menciptakan lapangan kerja.

Soal model bisnis, Tuupai yang merupakan marketplace mengambil keuntungan dengan menyewakan tempat. Adapun nantinya para vendor atau penyedia jasa, jika sudah berjalan akan dikenakan biaya sekitar Rp 200 ribu per bulan.

Biaya tersebut merupakan biaya untuk memperoleh fitur Pro dengan serangkaian benefit yang akan diterima para vendor. Meski begitu, vendor yang ingin mencoba dulu juga tetap diberikan kesempatan mendaftar secara gratis, namun tidak mendapatkan fitur yang bisa didapatkan dari vendor yang berbayar tadi.

“Jadi sistem kita adalah menyewakan tempat ke vendor-vendor jasa, mereka bayar bulanan dan jadi member premium dan mereka akan dapat benefit tertentu. Jadi sama sekali kita tidak minta komisi,” terangnya.

Menurut dia, dengan sistem marketplace dan sewa tempat sendiri lebih menciptakan kompetisi. Hal tersebut berbeda ketimbang Tuupai menentukan harga, lantas meminta komisi dari vendor dengan potongan-potongan tertentu. Itu dimaksudkan agar vendor bisa menentukan sendiri harganya dengan tolok ukur vendor lain.

“Oh ini kemahalan, kita turunin deh, atau dengan promo-promo yang mereka buat sendiri. Karena dengan adanya potongan komisi, vendor pasti mahalin,” ujarnya.

Seperti dijelaskan sebelumnya,Tuupai sendiri dirancang dalam bentuk mobile application yang berbasis service marketplace di Indonesia. Semua orang bisa menggunakannya setelah men-download gratis di handphone berbasis Android.

User bisa memilih teknisi sendiri berdasarkan review yang tersedia. Semua teknisi diklaim sudah melalui proses screening sehingga user bisa tenang dalam menggunakan Tuupai. Harga juga bisa ditanyakan dulu di depan untuk perbandingan.

Sebagai startup teknologi yang masih baru, Tuupai mengaku saat ini telah memiliki sebanyak 2.000 active user. Sementara untuk vendor atau penyedia jasa terdaftar di platform Tuupai sudah ada sekitar 500-an dengan bermacam kategori kebutuhan jasa.

(ryn/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up