← Beranda
Mengenal Jajanan Jalakotek, Pastel Lokal yang Menjadi Primadona Kabupaten Majalengka
Elista Ita YustikaRabu, 8 November 2023 | 22.21 WIB
Jalakotek, Jajanan Khas Majalengka/Infomajalengka./Instagram Infomajalengka

JawaPos.com - Sering disebut-sebut sebagai makanan khas Cirebon, ternyata Jalakotek sebenarnya berasal dari Kabupaten Majalengka, Jawa Barat.

Radar Cirebon Edisi 30 Desember 2013 menyebutkan bahwa jalakotek adalah primadona Majalengka.

Selain rasanya yang pedas dan harganya yang terjangkau, sangat tepat juga untuk dijadikan oleh-oleh ketika kamu berkunjung ke Majalengka.

Bentuk Jalakotek hampir mirip dengan pastel, namun kulit luar Jalakotek lebih mirip dengan cireng karena terbuat dari aci atau tepung tapioka.

Selain berbeda dari segi kulitnya, isinya pun berbeda. Pastel berisi sayur atau bihun, dikombinasikan dengan pilihan daging, ayam, atau telur, lalu digoreng.

Sedangkan Jalakotek kebanyakan berisikan tahu kuning, namun saat ini tidak sedikit juga Jalakotek yang berisi suwir ayam, dan isian lainnya juga.

Adapun persamaan Pastel dengan Jalakotek adalah isiannya dipadukan dengan bumbu-bumbu tradisional yang khas, namun tentu bumbu keduanya diracik dengan cara berbeda.

Jalakotek memiliki tekstur yang renyah diluar dan lembut di dalam, serta umumnya memiliki cita rasa yang gurih dan sedikit pedas.

Meskipun terkenal karena rasanya yang cukup pedas, seiring berjalannya waktu masyarakat dapat memilih ingin pedas atau pun tidak, karena beberapa pedagang Jalakotek biasanya membuat adonan pedas dan original.

Tidak perlu susah payah untuk menemukan makanan satu ini. Jalakotek merupakan salah satu jajanan yang dapat dengan mudah ditemui di pinggir-pinggir jalan (street food).

Seseorang yang mencobanya dapat pergi ke beberapa titik di Majalengka seperti taman raharja, GGM, atau di sekitar alun-alun Majalengka, lebih ramai lagi jika berkunjung pada malam hari sambil menikmati gemerlap lampu di wilayah Majalengka Kota.

Baca Juga: ​Main Kano Sepuasnya di Pantai Drini Jogjakarta, Berikut Info Lokasi, Rute, Harga Tiket

Selain mudah ditemui, harganya juga terjangkau. Jika beruntung, seseorang bisa menikmati jajanan ini hanya dengan seribu rupiah saja per pieces nya.

Dan jangan takut menunggu lama, karena pedagang menjual Jalakotek yang sudah berbentuk adonan, jadi tinggal menggorengnya saja.

Pada satu waktu, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Sandiaga Uno mengunjungi pelaku UMKM di Cirebon yang merupakan peserta dari program Apresiasi Kreasi Indonesia (AKI) 2022, Senin (19/6).

Kemudian disana ia mencicipi dan mengapresiasi jalakotek, salah satu jajanan lokal khas Majalengka. Ia mengatakan bahwa Jalakotek ini sangat menginspirasi.

Selain itu ia juga mendoakan supaya Jalakotek ini dapat menjadi ikon berharga dari Apresiasi Kreasi Indonesia (AKI) tersebut.

Cara pembuatannya mudah, akan tetapi untuk mendapatkan rasa khas dari Majalengka tersebut, diperlukan latihan berulang kali.

Berikut ini merupakan bahan dan cara pembuatan Jalakotek yang dikutip dari Budaya Indonesia.

Cara Membuat Jalakotek

Bahan-bahan:

· Tepung terigu ¼ kg

· Tepung tapioka (aci) ¼ Kg

· Tahu/daging ayam suwir/isian lainnya

· Cabe merah atau cabe rawit

· Bawang merah & Bawang putih

· Penyedap rasa (sejenisnya)

· Garam

· Sasa

· Air secukupnya

Bumbu luar:

· Bumbu atom

· Bumbu cabe

· Bumbu rumput laut

· Bumbu keju

Cara membuat:

1. Ulek Bawang Merah serta Bawang putih hingga halus

2. Ulek Cabe merah atau Cabe rawit secara terpisah dengan ulekan bawang hingga terlihat seperti sambal.

Baca Juga: Menilik Kampung Lukis Ruslan, Wisata Edukasi di Kediri yang Baru Diresmikan

3. Iris Tahu hingga seperti dadu kecil kemudian tumis dengan minyak goreng, anda juga bisa tambahkan ayam iris atau sosis iris tergantung selera dan pemesanan.

4. Masukkan Tepung terigu dan tepung aci kedalam adonan, lalu masukan air, aduk hingga merata.

5. Tekan adonan hingga menipis pipih lalu masukkan adonan isi seperti sambal cabe merah dan tahu iris lalu ulir-ulir.

6. Panaskan minyak goreng, dan goreng jalakotek sampai terendam minyak hingga warna kuning kecoklatan dan sajikan.

EDITOR: Hanny Suwindari