← Beranda
Layanan Premium di Lounge Bandara Semakin Diminati Wisatawan Indonesia
Nanda Prayoga• Selasa, 22 September 2026 | 19.04 WIB
Ilustrasi lounge bandara. (Istimewa)

JawaPos.com - Kebiasaan wisatawan saat menghabiskan waktu di bandara mulai berubah. Bandara yang sebelumnya identik dengan aktivitas check-in dan menunggu jadwal penerbangan kini semakin dipandang sebagai bagian dari pengalaman perjalanan.

Menurut data statatistik terbaru Airport Experience Study 2026 (AX26) yang dirilis Airport Dimensions, sebanyak 57 persen wisatawan domestik mampir ke lounge sebelum terbang. Hal ini menunjukkan meningkatnya penggunaan lounge sebagai tempat untuk beristirahat, bekerja, makan, hingga menikmati waktu sebelum pesawat berangkat. 

“Para wisatawan (Indonesia) sudah memandang pengalaman di bandara secara positif, dengan tingkat kepuasan mencapai 89 persen, jauh di atas rata-rata global sebesar 82 persen. Tingkat kepuasan tersebut juga tercermin dari tingginya penggunaan lounge, dengan 57 persen wisatawan Indonesia memanfaatkan fasilitas tersebut, dibandingkan dengan 52 persen wisatawan global,” kata Airport Dimensions dalam keterangannya.

Perubahan tersebut menunjukkan bahwa kebutuhan wisatawan tidak berhenti pada tersedianya fasilitas dasar di bandara. Kenyamanan, pilihan layanan, serta pengalaman yang sesuai dengan kebutuhan pribadi semakin menjadi bagian dari pertimbangan ketika menghabiskan waktu sebelum penerbangan.

Wisatawan Mulai Terbuka dengan Layanan Premium

Ketertarikan terhadap pengalaman yang lebih personal juga terlihat dari kesediaan wisatawan Indonesia untuk membayar layanan tambahan. Sebanyak 50 persen pengguna lounge menyatakan bersedia mengeluarkan biaya untuk layanan premium, seperti pilihan makanan dan minuman yang lebih eksklusif serta ruang privat.

Jika dihitung berdasarkan wisatawan secara keseluruhan, 62 persen menyatakan kesediaan untuk membayar layanan premium. Temuan ini memperlihatkan adanya permintaan terhadap pengalaman yang menawarkan lebih dari sekadar tempat menunggu penerbangan.

Tren tersebut juga terlihat pada kelompok Affluent Leisure Travellers (ALTs). Segmen wisatawan bernilai tinggi ini hanya mencakup 26 persen dari total wisatawan, tetapi menyumbang 57 persen dari keseluruhan pengeluaran di bandara.

Rata-rata pengeluaran ALTs bahkan mencapai empat kali lipat dibandingkan wisatawan pada umumnya. Selain memiliki kontribusi besar terhadap pengeluaran, sekitar 75 persen dari kelompok ini juga menggunakan lounge sebagai bagian dari perjalanan mereka.

 

Lounge Tak Lagi Sekadar Tempat Menunggu

Perubahan perilaku tersebut ikut mendorong berkembangnya fungsi lounge. Wisatawan kini dapat menggunakan fasilitas tersebut untuk berbagai kebutuhan, mulai dari menikmati makanan hingga menyelesaikan pekerjaan sebelum keberangkatan.

Pada jaringan lounge yang dioperasikan Airport Dimensions dan Blue Sky, misalnya, tersedia area live cooking, buffet, healthy corner dengan jus segar dan jamu, serta pilihan kopi premium. Fasilitas Wi-Fi eksekutif juga disediakan bagi wisatawan yang tetap perlu bekerja, sementara area khusus merokok dibuat terpisah dari ruang bersama.

Dengan pilihan fasilitas tersebut, waktu sebelum penerbangan dapat digunakan secara lebih fleksibel. Wisatawan dapat makan, bekerja, beristirahat, melakukan rapat online, maupun menikmati waktu bersama keluarga tanpa harus sekadar menunggu panggilan keberangkatan.

Pengalaman Lokal Ikut Jadi Daya Tarik

Selain kenyamanan dan fasilitas, karakter lokal juga menjadi bagian dari pengalaman yang ditawarkan di sejumlah lounge. Sejumlah lounge tidak membuat seluruh lounge memiliki konsep yang sama, tetapi memadukan standar layanan dengan identitas daerah masing-masing.

Di Surabaya, misalnya, lounge mengangkat konsep “Kota Pahlawan” melalui interior yang terinspirasi motif batik dan sajian Rawon Surabaya. Sementara itu, lounge di Makassar menghadirkan hidangan seperti Coto Makassar dan Pisang Ijo. Di Balikpapan, lounge menyajikan mantau khas daerah itu yaitu mantau.

Pendekatan tersebut membuat pengalaman di lounge tidak hanya berkaitan dengan fasilitas, tetapi juga dapat menjadi pengenalan terhadap karakter destinasi sebelum wisatawan benar-benar meninggalkan bandara.

 

EDITOR: Diar Candra
Tags:lounge