← Beranda

Mengunjungi 4 Lokasi Bersejarah di Jakarta: Kenangan Kemerdekaan yang Tak Terlupakan

Ryandi ZahdomoSenin, 18 Agustus 2025 | 04.45 WIB
Museum Perumusan Naskah Proklamasi awalnya dibangun untuk perusahaan Asuransi Jiwasraya pada 1927 oleh arsitek Belanda Johan Frederik Lodewijk Blankenberg. (Ryandi Zahdomo/Jawapos)

 

JawaPos.com - Jakarta bukan hanya Ibu Kota Negara, tetapi juga saksi lahirnya Republik Indonesia. Di kota inilah sejumlah peristiwa bersejarah terjadi, mulai dari perumusan hingga pembacaan naskah Proklamasi.

Di sudut-sudut tertentu, Jakarta masih menyimpan jejak perjuangan yang tak lekang dimakan waktu. Dari masjid tua yang disebut-sebut menjadi tempat Bung Karno salat pertama setelah membacakan Proklamasi, hingga rumah sederhana di Pegangsaan Timur 56 yang menjadi saksi detik-detik lahirnya sebuah bangsa merdeka.

Bagi sebagian orang, tempat-tempat ini mungkin sekadar bangunan atau monumen biasa. Namun, bagi sejarah Indonesia, keempat lokasi tersebut adalah saksi bisu lahirnya kemerdekaan.

Berikut empat jejak kemerdekaan di Jakarta yang masih bisa kamu kunjungi hingga hari ini.

1. Museum Perumusan Naskah Proklamasi

Tak banyak yang tahu, naskah proklamasi hanya disusun dalam waktu kurang dari 2 jam di rumah Laksamana Tadashi Maeda. Rumah itu kini dikenal sebagai Museum Perumusan Naskah Proklamasi.

“Sekitar pukul 22.00 WIB di tanggal 16 Agustus, tokoh-tokoh ini mendatangi rumah Maeda. Disitulah akhirnya memutuskan bahwa rumah Maeda itu dijadikan tempat untuk membuat naskah proklamasi,” ujar Aidil Fitra, Edukator Museum.

Soekarno, Hatta, dan Ahmad Subarjo merumuskan naskah, lalu Sayuti Melik mengetiknya menggunakan mesin ketik pinjaman militer Jerman. Mesin itu dipinjam oleh ART Maeda, Satsuki Mishima.

Diorama proses perumusan naskah Proklamasi, Museum Perumusan Naskah Proklamasi, Jakarta, Kamis (14/8). Naskah Proklamasi disusun hanya dalam waktu 2 jam. (Ryandi Zahdomo/Jawapos)
Diorama proses perumusan naskah Proklamasi, Museum Perumusan Naskah Proklamasi, Jakarta, Kamis (14/8). Naskah Proklamasi disusun hanya dalam waktu 2 jam. (Ryandi Zahdomo/Jawapos)

Pengetikan naskah proklamasi oleh Sayuti Melik tidak berjalan mulus. Terdapat sejumlah kesalahan dalam penulisan yang membuatnya harus mengulang ketikan. 

"Sampah-sampah kertas itu di dekat meja pengetikan. Nah, di situlah BM Diah yang mengambilnya. Dan disimpan baru dikembalikan itu sekitar tahun 1992," jelas Aidil.

Gedung ini kini ditata menyerupai suasana malam perumusan proklamasi. Menurut Aidil, koleksi utamanya bukan benda, melainkan bangunannya itu sendiri yang menjadi saksi sejarah.

2. Taman Proklamasi: Lokasi Detik-detik Proklamasi Dibacakan

Pagi itu, 17 Agustus 1945, Jakarta masih mencekam. Tentara Jepang berjaga, tapi semangat merdeka menyalip rasa takut. Pukul 10.00 WIB, Soekarno berdiri di teras rumahnya di Pegangsaan Timur 56, kini Jalan Proklamasi, membacakan teks yang mengubah arah bangsa. 

Kini rumah pendiri bangsa itu menjelma jadi Taman Proklamasi, kompleks monumen yang merangkum detik-detik paling menentukan Republik.

Gedung Joang
Gedung Joang

Rumah itu kini sudah berubah menjadi Taman Proklamasi, lengkap dengan berbagai monumen:

- Tugu Peringatan Satoe Tahoen Repoeblik Indonesia (1946), tanda peran perempuan dalam memperingati kemerdekaan.

- Tugu Petir, penanda titik Bung Karno membacakan proklamasi.

- Monumen Pahlawan Proklamator Soekarno-Hatta, patung perunggu raksasa yang ikonik.

Dari halaman rumah sederhana inilah suara kemerdekaan Indonesia terdengar ke seluruh dunia.


3. Gedung Joang ’45: Tempat Pemuda Digembleng Arti Kemerdekaan

Gedung Joang ’45 di kawasan Menteng awalnya adalah Hotel Schomper pada tahun 1930. Saat Jepang datang, hotel ini diambil alih dan kemudian diserahkan kepada pemuda Indonesia.

"Yang tadinya Hotel Schomper menjadi Asrama Angkatan Baru Indonesia pada tahun 1942," ungkap Muslim, Edukator Museum Joang 45.

Di sinilah pemuda-pemuda revolusioner seperti Soekarni, Chaerul Saleh, Adam Malik, hingga M. Hanafi digembleng semangat nasionalismenya. Meski Jepang berniat memanfaatkannya untuk propaganda, para tokoh bangsa justru menanamkan cita-cita kemerdekaan.

Al-quran jumbo Masjid Jami Matraman, Jakarta Pusat, Kamis (14/8). (Ryandi Zahdomo/Jawapos)
Al-quran jumbo Masjid Jami Matraman, Jakarta Pusat, Kamis (14/8). (Ryandi Zahdomo/Jawapos)

Pasca-Proklamasi, gedung ini menjadi pusat aktivitas pemuda Menteng 31 dan Cikini 71. Dari sini pula lahir gagasan Rapat Raksasa Ikada yang mempertemukan rakyat dengan para pemimpin bangsa.

Kini, gedung tersebut menjadi Museum Joang 45 dengan koleksi menarik, termasuk mobil kepresidenan Bung Karno dan Bung Hatta.

4. Masjid Jami Matraman: Masjid Bung Karno

Masjid Jami Matraman di Menteng, Jakarta Pusat, bukan sekadar tempat ibadah. Jaraknya hanya 200 meter dari Tugu Proklamasi, menjadikannya bagian penting dari sejarah bangsa.

Awalnya, kawasan ini menjadi basis perjuangan Sultan Agung saat melawan VOC pada 1628–1629. Sisa laskar yang bertahan kemudian membangun langgar kecil di tepi Kali Ciliwung. Pada 1837, langgar itu berkembang menjadi masjid dengan nama Masjid Jamik Mataraman Dalem, yang akhirnya dikenal sebagai Masjid Jami Matraman.

"Matraman Dalem karena artinya 'masjid jami para abdi dalem' atau para pengikut Kerajaan Mataram," ujar H. Syamsudin, Kepala Rumah Tangga Masjid Jami Matraman kepada JawaPos.com.

Photo
Photo

Masjid ini juga disebut-sebut menjadi tempat Bung Karno melaksanakan salat Jumat pertama usai membacakan proklamasi.

Terdapat tiga versi cerita terkait Bung Karno pasca pembacaan naskah Proklamasi. Pertama, Soekarno mengikuti salat Jumat bersama di masjid Jami Matraman. Kedua, Soekarno tidak mengikuti sholat jumat lantaran kondisinya yang sedang sakit. 

Dan ketiga, Soekarno langsung pergi menggunakan kereta usai pembacaan Proklamasi guna menyelamatkan diri. Meski tak ada bukti tertulis, cerita itu terus hidup di kalangan warga.

"Jadi, emang hitam di atas putih nggak ada, jadi nggak ada bukti-bukti. Informasi ini cuma dari cerita-cerita orang tua kita terdahulu aja," jelas Syamsudin.

Yang jelas, kata Syamsudin, Bung Karno dan Bung Hatta memang kerap salat di masjid ini sebelum kemerdekaan Indonesia. Mereka kerap tetap ngobrol berdiskusi selepas salat.

Terdapat pula cerita unik dari masjid ini. Konon, tokoh besar yang langsung mendapat jabatan di pemerintahan setelah salat di masjid ini. Mulai dari Basofi Sudirman, Sutiyoso, Anies Baswedan, Sandiaga Uno, hingga Mahfud MD.

"Rata-rata yang salat di Masjid Jami Matraman ini jadi pejabat," ujar Syamsudin.

EDITOR: Estu Suryowati