← Beranda
Nvidia Bahas Dukungan Rp 4.512 Triliun untuk OpenAI, Taruhan Infrastruktur AI Hadapi Gelombang Penolakan Pusat Data
Mellyna Putri DiniarRabu, 29 Juli 2026 | 05.40 WIB
CEO Nvidia Jensen Huang memperkuat kerja sama dengan OpenAI dalam perlombaan membangun infrastruktur AI global (Al Jazeera)

 

JawaPos.com - Perlombaan membangun infrastruktur kecerdasan buatan (AI) memasuki fase baru setelah Nvidia dilaporkan tengah menyiapkan dukungan pembiayaan senilai USD 250 miliar atau sekitar Rp 4.512 triliun (kurs Rp 18.050 per dolar AS) untuk membantu ambisi infrastruktur OpenAI. Langkah tersebut menunjukkan semakin besarnya kebutuhan modal, energi, dan pusat data untuk menopang perkembangan AI generatif global.

Rencana itu berkaitan dengan pembangunan pusat data raksasa berkapasitas 10 gigawatt di Piketon, Ohio, Amerika Serikat, yang dikembangkan oleh SB Energy, anak usaha SoftBank. Proyek tersebut diperkirakan membutuhkan biaya lebih dari USD 500 miliar atau sekitar Rp 9.025 triliun, termasuk kebutuhan cip yang akan digunakan di dalam fasilitas tersebut. Tahap awal pusat data itu ditargetkan menghasilkan daya hingga 800 megawatt pada 2028, cukup untuk memasok listrik sekitar 640.000 rumah.

Dilansir dari Al Jazeera, Selasa (28/7/2026), jaminan Nvidia senilai USD 250 miliar atau sekitar Rp 4.512 triliun tersebut akan membantu OpenAI menyewa fasilitas itu. Namun, nilai tersebut belum mencakup pembelian cip yang diperkirakan mencapai USD 350 miliar atau sekitar Rp 6.318 triliun. Nvidia yang dipimpin Jensen Huang juga disebut tengah membahas kemungkinan pendanaan untuk kebutuhan cip tersebut.

Baca Juga: Maskapai AS Larang Robot Humanoid di Pesawat, United dan Delta Perketat Aturan Bagasi di Era Robotika

Proyek Ohio menjadi simbol perubahan strategi OpenAI, yang selama ini banyak menyewa kapasitas komputasi dari perusahaan teknologi besar seperti Microsoft, Amazon, dan Oracle. Jika terealisasi, fasilitas tersebut akan menjadi bagian dari kemitraan publik-swasta setelah Departemen Energi AS mengizinkan SoftBank membangun salah satu pusat data AI terbesar di dunia di lahan sewaan pemerintah. Ohio sendiri memiliki 166 pusat data yang beroperasi dan 57 lainnya dalam tahap perencanaan, menjadikannya negara bagian dengan jumlah fasilitas terbanyak keempat di AS setelah Virginia, Texas, dan California.

Namun, besarnya investasi tersebut memunculkan kekhawatiran mengenai keberlanjutan model bisnis industri AI. Analis mempertanyakan kemampuan OpenAI membiayai ekspansi infrastruktur ketika perusahaan tersebut masih belum menghasilkan keuntungan, sementara mitra penyedia pusat data, cip, dan daya komputasi disebut memiliki utang hingga USD 96 miliar atau sekitar Rp1.733 triliun.

Aleksandar Tomic, wakil dekan di Boston College, menilai model pendanaan seperti ini dapat membuat batas antara kebutuhan bisnis yang sebenarnya dan dukungan finansial antarperusahaan menjadi semakin sulit dibedakan.

"Yang terjadi saat ini dengan OpenAI dan perusahaan lainnya adalah mereka membutuhkan komputasi, tetapi tampaknya mereka belum memiliki pendapatan atau kemampuan finansial untuk melakukan belanja modal yang diperlukan guna mendukung aktivitas mereka," kata Tomic kepada Al Jazeera.

Tomic juga memperingatkan adanya kemiripan dengan praktik pendanaan pada era gelembung dot-com tahun 1999.

"Perusahaan-perusahaan akan melakukan kesepakatan pendanaan sirkular, ketika mereka pada dasarnya membeli satu sama lain dan membuatnya terlihat seolah-olah ada permintaan yang lebih besar terhadap layanan mereka daripada yang sebenarnya terjadi. Pada titik tertentu, uang akan habis," ujarnya.

Meski demikian, Michael Monaghan, pendiri Founder’s ETF, melihat fenomena tersebut dari sisi berbeda. Menurutnya, hubungan investasi antara perusahaan teknologi tidak selalu berarti pembiayaan berputar yang bermasalah.

"Itu tidak selalu merupakan pendanaan sirkular. Itu hanya aktivitas ekonomi biasa," kata Monaghan. Dia menilai transaksi semacam itu tetap dapat menjadi mekanisme bisnis yang wajar selama didukung oleh permintaan pasar yang nyata.

Di luar persoalan finansial, ekspansi pusat data AI juga menghadapi hambatan politik di Amerika Serikat. New York menjadi negara bagian pertama yang menghentikan sementara pembangunan pusat data baru selama satu tahun, sementara sejumlah negara bagian lain mengusulkan aturan serupa karena kekhawatiran terhadap konsumsi energi dan dampak lingkungan. Di Texas, Gubernur Greg Abbott bahkan menyerukan pembatasan pembangunan pusat data di wilayah pedesaan.

Dengan demikian, proyek Nvidia dan OpenAI tidak hanya menjadi pertaruhan teknologi, tetapi juga mencerminkan tantangan terbesar industri AI global: bagaimana membangun kapasitas komputasi raksasa tanpa menciptakan tekanan finansial maupun politik. Perlombaan menguasai infrastruktur AI kini bergantung pada kemampuan perusahaan menyediakan modal, energi, dan dukungan publik untuk menopangnya.

Baca Juga: Jepang Bangun Pabrik AI Nasional Bersama Nvidia, Targetkan 10 Juta Robot pada 2040

EDITOR: Candra Mega Sari