JawaPos.com - CEO Nvidia Jensen Huang mendesak Washington untuk tidak membatasi penggunaan model AI open source asal Tiongkok. Menurutnya, teknologi seperti Kimi milik Moonshot AI harus dimanfaatkan, bukan dilarang, meski Amerika Serikat tengah meningkatkan kewaspadaan terhadap perkembangan AI Tiongkok.
Seruan Huang muncul ketika model AI open source dari perusahaan seperti DeepSeek, Alibaba, dan Moonshot AI mulai menarik perhatian global. Model-model tersebut mampu menawarkan kemampuan yang mendekati produk AI tertutup milik OpenAI dan Anthropic dengan biaya lebih rendah, sehingga memicu perdebatan di Washington mengenai risiko keamanan nasional dan daya saing industri AI Amerika Serikat.
Dilansir dari Fortune, Kamis (23/7/2026), Huang menolak gagasan agar pemerintah Amerika Serikat membatasi penggunaan model AI open source asal Tiongkok. Dia juga membantah anggapan bahwa model-model tersebut dapat menjadi "pintu belakang" bagi pemerintah Tiongkok untuk melakukan pengawasan.
Baca Juga: Tesla Tertekan, Ambisi AI dan Robotika Elon Musk Diuji di Tengah Perlambatan Bisnis Mobil Listrik
"Itu adalah kesalahpahaman," ujar Huang. Menurutnya, model open source dapat diunduh, sementara mekanisme pengaman (guardrails) di dalamnya dapat disesuaikan oleh pengguna sehingga tidak otomatis menimbulkan risiko seperti yang dikhawatirkan.
Selain itu, Huang menegaskan bahwa model AI terbuka dari Tiongkok tidak akan menggeser dominasi AI Amerika Serikat. Sebaliknya, dia menilai ekosistem AI justru membutuhkan keberadaan model terbuka dan model tertutup secara bersamaan.
"Model-model Tiongkok itu luar biasa. Model open source yang sangat baik seharusnya digunakan," kata Huang. Dia menambahkan bahwa keberhasilan AI tidak ditentukan oleh asal negaranya, melainkan oleh manfaat yang dihasilkannya bagi pengguna dan industri.
Di Washington, kekhawatiran terhadap model AI asal Tiongkok telah mendorong munculnya wacana pembatasan penggunaan teknologi tersebut oleh perusahaan Amerika Serikat. Menurut laporan Axios, Gedung Putih bahkan mempertimbangkan penggunaan kewenangan eksekutif untuk mewajibkan perusahaan pengguna memberikan jaminan keamanan serta menanggung tanggung jawab apabila terjadi pelanggaran. Hingga laporan itu diterbitkan, Gedung Putih belum memberikan tanggapan resmi.
Di sisi lain, semakin banyak perusahaan teknologi Amerika Serikat mulai memanfaatkan model AI open source asal Tiongkok untuk menekan biaya operasional. Salah satunya adalah perusahaan pengembang perangkat lunak Cursor yang beralih ke model terbuka karena biaya penggunaan model AI Amerika dinilai jauh lebih tinggi, terutama untuk kebutuhan komputasi berskala besar.
Sorotan terbaru tertuju pada Moonshot AI yang pada 16 Juli lalu meluncurkan Kimi K3, model open source paling canggih yang pernah dikembangkannya. Dalam sejumlah pengujian pemrograman, Kimi K3 mampu bersaing dengan Fable 5, model publik tercanggih milik Anthropic.
Dari sisi biaya, Kimi K3 dipatok sekitar 15 dolar AS atau sekitar Rp268.800 (dengan kurs Rp17.920 per dolar AS) per satu juta token keluaran, sedangkan Fable 5 mencapai 50 dolar AS atau sekitar Rp896.000 untuk jumlah token yang sama. Sementara itu, model DeepSeek V4 bahkan hanya sekitar 0,87 dolar AS atau sekitar Rp15.590 per satu juta token.
Huang memandang tren tersebut justru akan memperluas pemanfaatan AI di berbagai sektor ekonomi. Menurutnya, semakin banyak model AI berkualitas yang tersedia, semakin besar pula kebutuhan terhadap infrastruktur komputasi berperforma tinggi, yang pada akhirnya menguntungkan Nvidia sebagai pemasok utama cip AI dunia.
"Jika ada AI yang hebat, sekalipun bersifat open source dan berasal dari mana pun, penggunaannya akan semakin luas," kata Huang.
"Ketika penggunaannya meningkat, kami akan menjual lebih banyak komputer Nvidia. Kami harus membangun lebih banyak pusat data, menyediakan lebih banyak layanan, dan teknologi itu akan menyebar ke semakin banyak industri," lanjutnya.
Pernyataan Huang memperlihatkan adanya perbedaan pandangan di dalam ekosistem teknologi Amerika Serikat mengenai cara menghadapi kemajuan AI Tiongkok. Di saat sebagian pembuat kebijakan menitikberatkan aspek keamanan dan pembatasan teknologi, Huang justru menilai keterbukaan inovasi akan mempercepat adopsi AI global sekaligus menciptakan permintaan baru bagi infrastruktur komputasi yang menjadi fondasi perkembangan industri AI dunia.
Baca Juga: Jepang Bangun Pabrik AI Nasional Bersama Nvidia, Targetkan 10 Juta Robot pada 2040