← Beranda
Riset IWG: Teknologi Penghubung Otak Manusia ke Komputer Bakal Masuk Kantor pada 2050
Nanda Prayoga• Senin, 8 Juni 2026 | 22.36 WIB
Ilustrasi otak manusia. (Dok. pngtree)

 

JawaPos.com - Teknologi yang memungkinkan otak manusia terhubung langsung dengan perangkat digital diperkirakan akan menjadi bagian dari dunia kerja pada 2050. Prediksi tersebut muncul dalam laporan terbaru bertajuk Work Reimagined: The Office of 2050 yang diterbitkan oleh International Workplace Group (IWG), perusahaan penyedia solusi ruang kerja global yang menaungi merek Regus dan Spaces.

Laporan tersebut mengumpulkan pandangan para profesional sumber daya manusia (SDM) dan pekerja dari berbagai negara mengenai bagaimana perkembangan teknologi akan membentuk lingkungan kerja dalam seperempat abad mendatang.

CEO dan Pendiri International Workplace Group plc, Mark Dixon, menilai percepatan inovasi teknologi saat ini berlangsung pada tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya.

“Teknologi selalu membentuk cara kita bekerja. Perbedaannya saat ini adalah kecepatan di mana perubahan tersebut terjadi. Kemajuan dalam AI mempercepat dunia kerja dengan kecepatan yang saat ini sulit dipahami oleh sebagian besar organisasi dan individu,” kata Mark dalam keterangannya, Senin (8/6).

Hasil survei menunjukkan mayoritas responden memperkirakan transformasi besar akan terjadi di tempat kerja dalam beberapa dekade mendatang. Sebanyak 68 persen pemimpin SDM dan 72 persen pekerja meyakini teknologi kantor akan mengalami perubahan drastis pada 2050. Keyakinan tersebut didorong oleh kemajuan neuroteknologi yang saat ini tengah dikembangkan sejumlah perusahaan, termasuk Synchron dan Neuralink.

Selain itu, sistem berbasis kecerdasan buatan diperkirakan mampu mengambil alih berbagai proses kerja yang rumit, menyesuaikan pengalaman kerja sesuai kebutuhan individu, hingga mempercepat pengambilan keputusan secara signifikan.

AI juga dipandang sebagai teknologi yang akan mengubah sebagian besar pekerjaan kantoran. Sebanyak 71 persen pemimpin SDM dan 73 persen pekerja memperkirakan otomatisasi dan AI akan menjadi bagian penting dari hampir seluruh fungsi pekerjaan. Bahkan, sekitar dua pertiga responden percaya AI nantinya dapat menentukan waktu dan lokasi paling efektif untuk berkolaborasi.

Pemanfaatan AI dalam pelatihan dan pendidikan juga diyakini akan mempercepat proses pembelajaran. Dengan dukungan teknologi tersebut, generasi mendatang diperkirakan dapat menguasai keterampilan baru dalam waktu yang jauh lebih singkat dibandingkan generasi sebelumnya. Efisiensi yang dihasilkan AI dinilai akan memberikan ruang lebih besar bagi manusia untuk berfokus pada kreativitas, inovasi, dan pemecahan masalah.

Seiring perkembangan itu, ritme dunia kerja diprediksi semakin cepat. Sebanyak 74 persen pekerja dan 70 persen pemimpin SDM memperkirakan kecepatan operasional bisnis akan meningkat secara signifikan dalam beberapa dekade ke depan.

Laporan tersebut juga memperkirakan pola kerja konvensional akan semakin ditinggalkan. Hampir tujuh dari sepuluh responden meyakini perjalanan harian menuju kantor dan jam kerja tetap dari pukul 09.00 hingga 17.00 tidak lagi menjadi standar pada 2050.

Sebagai gantinya, pekerjaan diperkirakan akan berlangsung secara lebih fleksibel di berbagai lokasi. Sebanyak 70 persen pemimpin SDM dan 75 persen pekerja percaya model kerja multi-lokasi akan menjadi praktik umum. Sementara itu, mayoritas responden menilai sistem kerja hibrida akan menjadi standar baru dalam dunia kerja.

Pandangan serupa juga terlihat terkait kebijakan kembali bekerja penuh di kantor. Sebagian besar responden memperkirakan aturan wajib masuk kantor secara ketat akan semakin ditinggalkan karena perusahaan lebih mengutamakan fleksibilitas dan kemandirian pekerja.

Dari sisi teknologi kolaborasi, ruang rapat virtual dan augmented reality diprediksi menjadi salah satu inovasi paling berpengaruh. Hampir 70 persen responden memperkirakan teknologi tersebut akan menggantikan banyak bentuk interaksi kantor tradisional, termasuk rapat tatap muka dan diskusi langsung di lingkungan kerja.

Para pekerja juga membayangkan hadirnya kantor yang lebih adaptif terhadap kebutuhan manusia. Contohnya, sistem yang mampu menyesuaikan pencahayaan berdasarkan ritme biologis pengguna, teknologi yang mendeteksi kelelahan dan menyarankan waktu istirahat, hingga ruang kerja interaktif yang seluruh elemennya terhubung dengan sistem digital berbasis cloud.

Meski teknologi akan semakin dominan, kantor masa depan diprediksi tetap menempatkan kesejahteraan manusia sebagai prioritas utama. Banyak responden menginginkan fasilitas yang mendukung kehidupan keluarga, seperti area penitipan anak di lokasi kerja. Selain itu, ruang kerja multifungsi yang dapat digunakan untuk bekerja, belajar, bersosialisasi, maupun beristirahat juga diperkirakan semakin populer.

Konsep kantor yang menghadirkan unsur alam turut menjadi salah satu gambaran lingkungan kerja masa depan. Ruang hijau dalam gedung, dinding tanaman hidup, serta pemanfaatan cahaya alami dinilai dapat menciptakan suasana kerja yang lebih sehat sekaligus meningkatkan kenyamanan dan kreativitas.

Pada akhirnya, fleksibilitas diperkirakan menjadi faktor utama dalam menarik dan mempertahankan talenta pada 2050. Tiga perempat pemimpin SDM dan pekerja menilai keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi akan menjadi prioritas penting bagi tenaga kerja masa depan.

Jika memimpin organisasi mereka sendiri, sebagian besar responden menyatakan akan memberikan kebebasan lebih besar kepada karyawan dalam menentukan cara dan lokasi bekerja, memperkuat dukungan terhadap kesejahteraan pekerja, serta menciptakan lingkungan yang mampu meningkatkan keterlibatan, loyalitas, dan produktivitas.

EDITOR: Kuswandi