← Beranda
AI Makin Masif, Ancaman Siber Ikut Melonjak: Waspadai Risiko yang Kian Kompleks
Rian AlfiantoRabu, 15 April 2026 | 13.07 WIB
Ilustrasi teknologi kecerdasan buatan. (Miles IT).

JawaPos.com - Perkembangan teknologi artificial intelligence (AI) terus mendorong percepatan transformasi digital di berbagai sektor. Dari efisiensi operasional hingga analisis data yang lebih presisi, AI kini menjadi fondasi penting dalam strategi bisnis modern.

Namun di balik peluang besar tersebut, muncul ancaman baru yang tidak bisa diabaikan. Tren AI yang semakin masif justru berjalan beriringan dengan meningkatnya risiko siber, seiring kompleksitas infrastruktur teknologi yang terus bertambah.

“Banyak perusahaan fokus memanfaatkan AI untuk efisiensi, tapi lupa bahwa teknologi yang sama juga digunakan oleh hacker. Pertanyaannya bukan lagi apakah akan diserang, tapi kapan,” ujar Clara Hsu, Indonesia Country Manager Synology Inc. di acara media gathering di Jakarta, Selasa (14/4).

Menurutnya, AI kini bukan lagi teknologi eksperimental. Investasi global yang terus meningkat menandakan bahwa AI telah menjadi motor utama percepatan digitalisasi.

Namun, di saat yang sama, AI juga dimanfaatkan pelaku kejahatan siber untuk meningkatkan efektivitas serangan. Proses yang sebelumnya dilakukan manual kini dapat diotomatisasi, mulai dari pemetaan sistem hingga penyusunan pola serangan.

“AI membuat serangan menjadi lebih cepat, lebih personal, dan lebih sulit dideteksi. Ini yang membuat ancaman siber hari ini jauh berbeda dari sebelumnya,” jelas Clara.

Metode serangan seperti phishing, pencurian kredensial, dan ransomware masih menjadi ancaman utama. Namun, pendekatannya kini jauh lebih canggih.

Dengan bantuan AI, serangan phishing dapat dirancang sangat personal, mulai dari meniru gaya komunikasi hingga menyesuaikan konteks pekerjaan target. Hal ini membuat korban lebih mudah terkecoh.

Tak berhenti di situ, setelah berhasil masuk ke sistem, pelaku kerap tidak langsung menyerang. Mereka justru menunggu waktu paling krusial, seperti periode sibuk bisnis, untuk meluncurkan serangan ransomware agar dampaknya maksimal.

Ancaman siber kini tidak lagi mengenal skala. Sektor finansial, pemerintahan, manufaktur hingga kesehatan sama-sama menghadapi risiko yang tinggi.

Semakin luas adopsi AI dan digitalisasi, semakin besar pula permukaan serangan (attack surface) yang terbuka. Infrastruktur IT yang terdistribusi membuat pengawasan menjadi lebih sulit.

“Kompleksitas IT yang meningkat karena AI selalu datang bersama peningkatan risiko. Semakin banyak sistem dan data, semakin besar pula permukaan serangan yang harus diamankan,” tambah Clara.

Dalam menghadapi ancaman yang semakin canggih, pendekatan keamanan tidak bisa hanya fokus pada pencegahan. Kemampuan pemulihan data menjadi krusial ketika serangan berhasil menembus sistem.

Sayangnya, masih banyak organisasi yang menganggap backup sebagai solusi akhir, tanpa memastikan keamanannya.

“Masih banyak yang menganggap backup itu sudah cukup. Padahal, jika backup tidak terlindungi, itu justru bisa menjadi titik lemah yang paling berbahaya,” tegas Clara.

Clara melanjutkan, menjawab tantangan ini, pendekatan keamanan kini bergeser ke arah cyber resilience, bukan hanya mencegah serangan, tetapi juga memastikan sistem tetap berjalan dan dapat pulih dengan cepat.

Salah satu strategi yang banyak diadopsi adalah prinsip 3-2-1-1-0, yang menekankan pentingnya memiliki beberapa salinan data, termasuk yang terisolasi dan tidak dapat diubah (immutable), serta bebas error.

Selain itu, solusi seperti ActiveProtect dari Synology hadir untuk membantu perusahaan mengelola backup secara terpusat, sekaligus meningkatkan perlindungan melalui teknologi seperti isolasi data, immutability, dan mekanisme air-gap.

“Di era sekarang, keamanan tidak cukup hanya mencegah. Yang lebih penting adalah memastikan bisnis tetap bisa berjalan dan pulih dengan cepat setelah serangan terjadi,” tandas Clara.

EDITOR: Dony Lesmana Eko Putra