JawaPos.com - Meta Platforms mempercepat integrasi kecerdasan buatan (AI) dalam struktur organisasinya dengan mengembangkan kloning digital CEO-nya, Mark Zuckerberg. Inisiatif ini dirancang untuk memungkinkan puluhan ribu karyawan berinteraksi langsung dengan representasi virtual pimpinan tertinggi, sebuah langkah strategis yang mengarah pada redefinisi komunikasi internal perusahaan global.
Dengan jumlah karyawan mendekati 79.000 orang, Meta menghadapi keterbatasan klasik dalam akses terhadap pengambil keputusan utama. Dalam konteks tersebut, perusahaan tidak lagi hanya mengandalkan sistem komunikasi konvensional, melainkan membangun simulasi kepemimpinan berbasis AI yang mampu mereplikasi respons, pola pikir, dan gaya komunikasi seorang CEO.
Dilansir dari The Guardian, Selasa (14/4/2026), kloning AI tersebut dilatih menggunakan "gaya bicara, nada, serta pernyataan publik dan pemikirannya terkait strategi perusahaan." Lebih jauh, proyek ini bertujuan agar "karyawan dapat merasa lebih terhubung dengan salah satu orang paling berkuasa di Silicon Valley," memperkuat dimensi psikologis dalam relasi kerja digital.
Laporan yang sama juga menegaskan bahwa ketika karyawan Meta "tidak dapat menghubungi sang bos, mereka tidak perlu khawatir," karena sistem AI ini dirancang untuk "menjawab semua pertanyaan mereka." Dengan demikian, AI tidak lagi sekadar alat bantu operasional, melainkan mulai mengambil peran representatif dalam struktur otoritas perusahaan.
Langkah ini merupakan kelanjutan dari eksperimen panjang Zuckerberg dalam membangun identitas digital. Pada 2022, dia memperkenalkan avatar dirinya di ekosistem metaverse, meskipun sempat menuai kritik atas kualitas visual. Namun, perubahan strategi membuat Meta kini lebih fokus pada pengembangan karakter tiga dimensi berbasis AI yang mampu berinteraksi secara natural dalam percakapan sehari-hari.
Menurut Financial Times, Zuckerberg terlibat langsung dalam proses pelatihan sistem ini, yang menggunakan citra dan suara asli untuk menciptakan representasi yang semakin autentik. Dengan estimasi kekayaan lebih dari USD 220 miliar atau sekitar Rp 3.766 triliun (kurs Rp 17.120 per dolar AS), pengaruhnya dalam arah pengembangan teknologi global tetap dominan dan menentukan.
Respons industri terhadap langkah ini menunjukkan pergeseran paradigma. Perusahaan teknologi video berbasis AI, Synthesia, menilai pendekatan tersebut bukan lagi spekulasi.
"Ketika Anda menambahkan video dan suara AI yang realistis, tingkat keterlibatan dan fokus karyawan meningkat secara signifikan," ujar juru bicara perusahaan itu. "Karyawan bekerja lebih baik ketika informasi disampaikan oleh wajah atau suara yang familiar," imbuhnya.
Selain kloning digital, Meta juga mengembangkan sistem asisten berbasis AI yang dikenal sebagai "agen CEO," yang membantu Zuckerberg mengakses informasi internal secara lebih cepat. Pendekatan ini sejalan dengan arah kebijakan perusahaan untuk meningkatkan efisiensi organisasi.
Zuckerberg sebelumnya menegaskan, "Kami meningkatkan peran individu dan meratakan struktur tim untuk menyelesaikan lebih banyak pekerjaan."
Namun, akselerasi teknologi ini berlangsung di tengah tekanan hukum dan regulasi. Meta baru-baru ini dijatuhi denda USD 375 juta atau sekitar Rp 6,42 triliun oleh pengadilan di New Mexico terkait pelanggaran keamanan platform. Di California, pengadilan juga memutuskan bahwa Instagram dirancang bersifat adiktif dan berdampak merugikan pengguna muda.
Inisiatif Meta ini menegaskan persaingan ketat antar perusahaan teknologi dalam mengembangkan kecerdasan buatan tingkat lanjut, termasuk ambisi menciptakan "superinteligensi" yang melampaui kemampuan manusia. Kloning AI Zuckerberg kini melampaui sekadar eksperimen internal, menjadi sinyal perubahan mendasar dalam kepemimpinan korporasi, dari figur fisik menuju representasi digital yang selalu hadir.
Baca Juga: Meta Rilis Muse Spark, Model AI Baru yang Diklaim Lebih Cerdas dan Kontekstual