← Beranda
RI–Korea Selatan Sepakat, Internet Lebih Stabil dan Data Lebih Aman jadi Prioritas
Nanda PrayogaKamis, 2 April 2026 | 01.12 WIB
RI–Korea Selatan Sepakat, Internet Lebih Stabil dan Data Lebih Aman jadi Prioritas

 

JawaPos.com - Pemerintah Indonesia dan Republik Korea menjalin kemitraan strategis di sektor digital yang menitikberatkan pada peningkatan kualitas layanan publik, penguatan sistem keamanan data, serta pengembangan sumber daya manusia di bidang kecerdasan artifisial (AI).

Kolaborasi ini diresmikan melalui penandatanganan Memorandum Saling Pengertian antara Kementerian Komunikasi dan Digital RI dan Kementerian Sains dan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) Republik Korea.

Dokumen tersebut dipertukarkan langsung oleh Meutya Hafid dan Bae Kyunghoon, dengan disaksikan oleh Prabowo Subianto dan Lee Jae Myung di Cheong Wa Dae, Seoul, pada Rabu (1/4).

Meutya menegaskan bahwa kerja sama ini dirancang agar memberikan manfaat yang nyata dan langsung dirasakan oleh masyarakat luas.

“Melalui kolaborasi ini, pemerintah menargetkan peningkatan kualitas jaringan digital, termasuk pengembangan teknologi komunikasi generasi berikutnya. Masyarakat akan merasakan koneksi internet yang lebih stabil untuk sekolah, layanan kesehatan, dan kegiatan usaha,” tegasnya.

Selain peningkatan infrastruktur, kolaborasi juga mencakup penguatan perlindungan di ruang digital, khususnya dalam aspek keamanan data dan pengawasan terhadap potensi penyalahgunaan informasi. Dengan demikian, masyarakat diharapkan mendapatkan perlindungan yang lebih optimal dari ancaman kebocoran data.

Program ini turut memasukkan agenda literasi digital guna meningkatkan kemampuan masyarakat dalam memanfaatkan teknologi secara aman sekaligus produktif.

Meutya kembali menekankan bahwa orientasi utama kerja sama ini adalah dampak konkret bagi publik.

“Kami ingin masyarakat merasakan langsung hasilnya. Internet harus lebih stabil untuk belajar dan bekerja. Data pribadi harus lebih aman. Layanan publik harus lebih mudah diakses,” ujarnya.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa pengembangan kecerdasan artifisial tidak hanya berfokus pada kemajuan teknologi, tetapi juga pada kontribusinya terhadap sektor-sektor strategis.

“Pemanfaatan AI kami arahkan untuk pendidikan, kesehatan, dan pangan. Teknologi harus membantu guru mengajar, membantu tenaga kesehatan bekerja lebih cepat, dan membantu petani mengambil keputusan,” kata Meutya.

Dari sisi ekonomi, kemitraan ini membuka peluang yang lebih luas bagi pelaku industri digital dan startup melalui penguatan ekosistem serta kolaborasi dengan sektor swasta.

Sementara itu, dalam pengembangan sumber daya manusia, Indonesia akan menjalankan berbagai program seperti pelatihan, pemberian beasiswa, hingga pertukaran tenaga ahli. Langkah ini ditujukan untuk meningkatkan jumlah talenta digital, khususnya di bidang AI dan teknologi maju, agar siap bersaing di dunia industri.

“Talenta digital menjadi kunci. Kami ingin lebih banyak anak muda Indonesia terlibat dalam pengembangan teknologi, bukan hanya sebagai pengguna,” ujar Meutya.

Kerja sama ini juga mencakup pemanfaatan infrastruktur kecerdasan artifisial, termasuk teknologi komputasi berperforma tinggi, guna mendukung riset dan inovasi dalam negeri.

Untuk memastikan implementasi berjalan efektif, kedua negara sepakat membentuk komite bersama yang bertugas memantau jalannya program sekaligus mengevaluasi hasil kerja sama.

Kesepakatan ini berlaku selama lima tahun dan akan diterjemahkan ke dalam berbagai program lintas sektor, mulai dari pendidikan, kesehatan, hingga ekonomi digital, dengan tujuan utama menghadirkan manfaat nyata teknologi dalam kehidupan sehari-hari masyarakat.

EDITOR: Estu Suryowati