JawaPos.com - Presiden BEM Universitas Airlangga (Unair) M Rizqi Senja Wirawan disebut dijemput polisi di kediamannya dan diperiksa di Polda Jawa Timur selama sekitar 1 x 24 jam.
Pihak kampus mengaku belum bisa berkomentar terkait peristiwa tersebut.
Ketua Pusat Humas dan Protokol (PHMP) Unair Pulung Siswantara memberikan respons singkat saat dihubungi JawaPos.com, Minggu (25/10). “Kami masih belum bisa berkomentar,” ujar Pulung.
Informasi mengenai penjemputan Rizqi sebelumnya disampaikan BEM Unair melalui pernyataan tertulis yang diunggah di akun Instagram resmi @bem_unair pada Rabu (21/10).
Dalam pernyataan tersebut, BEM Unair menjelaskan kronologi kejadian sekaligus menyampaikan sikap organisasi di tengah polemik yang berkembang.
Organisasi mahasiswa itu menyebut penjelasan tersebut diperlukan agar mahasiswa dan masyarakat sipil mendapatkan informasi yang utuh mengenai peristiwa yang melibatkan Rizqi dan Polda Jatim.
Kronologi Presiden BEM Unair Dijemput Polisi
Menurut keterangan BEM Unair, Rizqi dijemput polisi di kediamannya pada Senin (19/10/) sekitar pukul 07.00 WIB.
Penjemputan itu disebut berkaitan dengan dugaan kajian aksi kerusuhan serta aktivitas pengelolaan media kolektif yang memuat kritik terhadap kebijakan pemerintah.
BEM Unair menyebut Rizqi kemudian menjalani pemeriksaan di Polda Jatim selama kurang lebih 1 x 24 jam. Alat komunikasi miliknya juga diamankan selama proses tersebut.
Akibatnya, menurut organisasi itu, Rizqi sempat tidak dapat menghubungi keluarga maupun orang-orang terdekatnya.
BEM Unair menyatakan Rizqi dibebaskan pada Selasa (20/10/2026) pagi. Alat komunikasi yang sebelumnya diamankan juga disebut telah dikembalikan.
Seluruh rincian mengenai penjemputan, pemeriksaan, dan pembebasan tersebut merujuk pada keterangan tertulis BEM Unair. Hingga Minggu (25/10/2026), belum ada penjelasan lebih lanjut dari pihak kampus.
Rizqi Hadiri Silaturahmi BEM se-Jatim
Setelah dibebaskan, Rizqi disebut menerima undangan untuk menghadiri kegiatan silaturahmi BEM se-Jawa Timur bersama Kapolda Jatim pada Selasa (20/10/2026) sekitar pukul 13.30 WIB.
Menurut BEM Unair, Rizqi tetap menghadiri agenda tersebut meski mengalami tekanan psikologis setelah menjalani pemeriksaan.
Organisasi itu menjelaskan, keputusan tersebut diambil untuk mencegah munculnya kekhawatiran dan persoalan lanjutan.
Seusai kegiatan, Rizqi disebut kembali ke tempat tinggalnya untuk beristirahat. Ia kemudian bergabung dalam konsolidasi gerakan mahasiswa di Kampus B Unair untuk mempersiapkan demonstrasi menjelang dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran.
BEM Unair menilai informasi mengenai kronologi kejadian perlu disampaikan secara utuh agar tidak memicu kesalahpahaman di kalangan mahasiswa.
“Perkembangan informasi yang tidak disertai pemahaman kronologi secara menyeluruh berpotensi menimbulkan kesalahpahaman,” tulis BEM Unair dalam pernyataannya.
Organisasi tersebut juga mengingatkan agar polemik yang berkembang tidak mengalihkan perhatian mahasiswa dari agenda perjuangan bersama.
Tiga Sikap BEM Unair
Dalam pernyataan tertanggal 21 Oktober 2026, BEM Unair menyampaikan tiga sikap terkait peristiwa tersebut.
Pertama, BEM Unair mengimbau mahasiswa di Surabaya dan Jawa Timur tetap tenang serta menjaga solidaritas. Mahasiswa juga diminta tidak terprovokasi oleh informasi yang berpotensi memicu perpecahan.
Kedua, organisasi itu mengingatkan bahwa penegakan hukum harus mengedepankan profesionalitas dan transparansi, dengan tetap menghormati hak asasi manusia, hak warga negara, serta kebebasan berekspresi.
Ketiga, BEM Unair menyatakan akan tetap independen, kritis, dan terbuka terhadap dialog konstruktif. Organisasi mahasiswa itu juga menyatakan akan terus menjalankan fungsi kontrol sosial.
“Gerakan mahasiswa harus tetap menjadi ruang bagi keberanian berpikir, kebebasan bersuara, dan kekuatan kolektif untuk memperjuangkan kepentingan publik,” demikian pernyataan BEM Unair.
Baca Juga: Dekanat Tidak Larang Aksi Kritis Mahasiswa, Pembekuan Kepengurusan BEM FISIP Unair Dicabut
Sementara itu, pihak Unair belum memberikan tanggapan lebih jauh Ketua Pusat Humas dan Protokol (PHMP) Unair, Pulung Siswantara, menyampaikan respons singkat ketika dihubungi JawaPos.com.
“Kami masih belum bisa berkomentar,” ujar Pulung Siswantara saat dihubungi JawaPos.com, Minggu (25/10). (*)