JawaPos.com - Sebanyak 6.125 siswa SMA dan SMK mendapat pembekalan keterampilan kewirausahaan dan bisnis digital.
Hal ini untuk menghadapi perubahan dunia usaha di tengah perkembangan kecerdasan buatan (AI).
Pembekalan tersebut dilakukan melalui Zurich Entrepreneurship Program (ZEP) pada tahun ajaran 2026–2027.
Program ini mendorong siswa tidak hanya memahami konsep kewirausahaan, tetapi juga memperoleh pengalaman langsung dalam mengembangkan dan menjalankan bisnis.
Memasuki era ekonomi digital, materi pembelajaran turut diarahkan pada pemanfaatan teknologi, termasuk AI.
Siswa diajak menggunakan AI untuk mengembangkan ide bisnis, melakukan riset pasar sederhana, menyusun materi promosi, hingga mengeksplorasi peluang usaha baru.
Namun, penggunaan teknologi tidak hanya ditekankan dari sisi kemampuan teknis.
Para siswa juga dibekali pemahaman mengenai penggunaan AI secara kritis, etis, dan bertanggung jawab agar teknologi tetap digunakan dengan mempertimbangkan kreativitas dan integritas manusia.
Direktur Eksekutif Prestasi Junior Indonesia (PJI) Utami Anita Herawati mengatakan pengalaman menjalankan usaha secara langsung dapat membantu siswa memahami bagaimana kreativitas dan potensi di sekitar mereka diolah menjadi peluang ekonomi.
“Pengalaman membangun usaha secara langsung membantu siswa mengubah kreativitas dan potensi di sekitar mereka menjadi peluang yang bernilai. Proses ini sekaligus menjadi ruang bagi siswa untuk mengembangkan keterampilan masa depan dan pola pikir kewirausahaan,” kata Utami di Surabaya, Rabu (23/9).
Pembelajaran siswa diperkuat melalui pendampingan guru, mentor PJI, serta karyawan dan agen Zurich Indonesia yang memberikan perspektif mengenai dunia usaha, literasi finansial, dan dunia kerja.
Sementara itu, Country Manager Zurich Indonesia Edhi Tjahja Negara mengatakan perubahan teknologi, perilaku konsumen, dan dinamika ekonomi membuat generasi muda perlu memiliki kemampuan untuk beradaptasi dengan perkembangan dunia usaha.
“Dunia usaha terus berubah seiring perkembangan teknologi, perilaku konsumen, dan dinamika ekonomi. Kami ingin membekali generasi muda dengan pengalaman nyata untuk membaca peluang, memanfaatkan teknologi secara bijak, dan mengambil keputusan finansial yang tepat,” ujar Edhi.
Melalui pengembangan student company, siswa menjalani berbagai tahapan dalam membangun usaha.
"Mereka belajar mengidentifikasi kebutuhan pasar, mengembangkan produk dan merek, menjalankan operasional, hingga mengelola keuangan," katanya.
Menurutnya, pembelajaran tahun ini juga mengangkat potensi ekonomi lokal. Siswa didorong menggali budaya, sumber daya, serta berbagai potensi di lingkungan sekitar untuk dikembangkan menjadi ide bisnis yang memiliki nilai tambah.