← Beranda
Penanganan Parkinson Perlu Dukungan Terintegrasi, Tak Cukup Hanya Terapi Medis
Ardini Pramitha• Kamis, 24 September 2026 | 03.32 WIB
Dokter bedah saraf spesialis parkinson National Hospital, Dr. dr. Ahmad Fahmi (Kiri). (Dok : Pribadi)

JawaPos.com - Penanganan penyakit Parkinson dinilai tidak cukup hanya mengandalkan terapi medis. Dukungan keluarga, caregiver, komunitas, hingga lingkungan sosial menjadi bagian penting dalam membantu pasien menjalani kehidupan secara optimal.

Hal tersebut menjadi salah satu perhatian dalam Indonesia Parkinson Ecosystem Forum 2026 yang digagas Yayasan Sahabat Parkinson Indonesia, Rabu (23/9).

Mengangkat tema Membangun Ekosistem Parkinson Indonesia, Dari Kepedulian Menuju Kolaborasi Terintegrasi, forum tersebut mempertemukan berbagai pemangku kepentingan.

Mulai dari sektor kesehatan, pemerintah, organisasi profesi, akademisi, rumah sakit, hingga komunitas.

Dokter bedah saraf spesialis parkinson National Hospital, Dr. dr. Ahmad Fahmi mengatakan intervensi medis hanya menjadi salah satu bagian dalam ekosistem penanganan Parkinson.

Menurutnya, pasien membutuhkan dukungan berkelanjutan dari orang-orang di sekitarnya untuk menjaga semangat, optimisme, dan kepercayaan diri dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

“Ada caregiver, keluarga, komunitas, dan berbagai bentuk dukungan lainnya. Yang penting adalah saling menyemangati, membangun optimisme, semangat, dan percaya diri,” ujar Fahmi, dikonfirmasi di Surabaya, Rabu (23/9).

Dia menambahkan, perkembangan terapi seperti obat-obatan maupun Deep Brain Stimulation (DBS) perlu diikuti dengan dukungan nonmedis yang berkelanjutan.

“Meskipun ada DBS, terapi maupun obat-obatan, yang paling penting juga adalah optimisme, semangat, dan percaya diri,” katanya.

Ketua Yayasan Sahabat Parkinson Indonesia Albert Sebastian, mengatakan Parkinson selama ini kerap dipahami sebatas penyakit yang menyebabkan tremor atau gangguan gerak.

Padahal, menurutnya, dampak Parkinson jauh lebih luas karena dapat memengaruhi berbagai aspek kehidupan pasien, termasuk keluarga, pekerjaan, kemandirian, dan masa depan.

“Parkinson bukan hanya mengenai tremor atau gangguan gerak. Parkinson juga menyangkut kualitas hidup, keluarga, pekerjaan, kemandirian, dan masa depan. Karena itu, kita membutuhkan bukan sekadar kepedulian, tetapi kolaborasi yang terintegrasi,” ujar Albert.

Dia menilai pendekatan terhadap penyandang Parkinson juga perlu diubah. Pasien tidak semestinya hanya dipandang sebagai individu yang bertahan menghadapi penyakit, tetapi tetap memiliki kemampuan dan keinginan untuk berkarya serta berkontribusi.

“Kami ingin mengubah cara pandang penyandang Parkinson bukan sekadar orang yang bertahan. Kami adalah pejuang yang tetap ingin sehat, tetap ingin berkarya, tetap ingin bekerja, dan tetap ingin memberi kontribusi untuk keluarga dan masyarakat,” katanya.

Karena itu, Yayasan Sahabat Parkinson Indonesia bersama berbagai mitra mendorong terbentuknya ekosistem Parkinson yang melibatkan banyak pihak secara berkelanjutan.

Kolaborasi lintas sektor tersebut diharapkan dapat memperkuat dukungan bagi penyandang Parkinson dan caregiver, sekaligus membantu meningkatkan kualitas hidup pasien dan keluarganya.

EDITOR: Dony Lesmana Eko Putra