← Beranda
Dokter di Surabaya Bikin Inovasi Atasi Bayi Kuning di Daerah Terpencil
Ardini Pramitha• Rabu, 23 September 2026 | 02.07 WIB
Dokter FK Unair mengembangkan AirbiliNest dan AirbiliSun, inovasi portabel untuk membantu penanganan dan pencegahan bayi kuning di daerah terpencil. (Foto: FK Unair).

JawaPos.com - Persoalan keterbatasan fasilitas kesehatan di wilayah terpencil mendorong dokter dari Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (FK Unair) mengembangkan teknologi penanganan bayi hiperbilirubinemia atau penyakit kuning.

Inovasi tersebut dikembangkan dr Mahendra Tri Arif Sampurna SpA(K) PhD. Dia memperkenalkan dua perangkat untuk membantu pencegahan sekaligus penanganan bayi kuning, yakni AirbiliNest dan AirbiliSun.

dr Mahendra menjelaskan AirbiliNest merupakan perangkat fototerapi portabel berbentuk sangkar yang menggunakan material tekstil. 

"Teknologi tersebut dirancang agar dapat digunakan secara lebih fleksibel dan aman, termasuk di wilayah yang memiliki keterbatasan akses terhadap fasilitas kesehatan," katanya, Selasa (22/9). 

Sementara itu, AirbiliSun dikembangkan sebagai inovasi pendamping dengan memanfaatkan paparan sinar matahari sebagai bagian dari upaya pencegahan bayi mengalami kondisi kuning. 

"Konsepnya diarahkan untuk memberikan panduan penjemuran bayi yang aman dan efektif," jelasnya. 

Dia mengatakan, pengembangan kedua inovasi tersebut berangkat dari persoalan ketimpangan akses layanan kesehatan. 

Bayi di wilayah perkotaan relatif lebih mudah memperoleh fasilitas fototerapi, sedangkan kondisi berbeda masih ditemukan di sejumlah daerah pelosok dan terisolasi.

Ia memperkirakan sekitar 6.800 bayi di wilayah terpencil masih menghadapi kendala dalam memperoleh akses terhadap fasilitas lampu fototerapi yang cepat, efektif, dan efisien.

Atas kondisi tersebut, teknologi fototerapi portabel dikembangkan agar lebih mudah dibawa dan digunakan di wilayah perifer.

“Lampu fototerapi portabel karya FK UNAIR ini dirancang agar dapat menjangkau daerah perifer dan terisolasi dengan mudah. Kami sangat berharap adanya dukungan penuh dari pemerintah agar inovasi ini bisa terdistribusi secara merata, sehingga program ‘No Baby Left Behind’ dapat terwujud demi menyelamatkan jiwa bayi-bayi di seluruh pelosok negeri,” jelasnya.

Pengembangan teknologi tersebut kemudian berlanjut pada tahap hilirisasi melalui lisensi paten. Universitas Airlangga telah menandatangani kontrak lisensi paten untuk inovasi kesehatan tersebut.

Dekan FK Unair, Prof Eighty Mardiyan Kurniawati, mengatakan proses tersebut menjadi bentuk apresiasi sekaligus dorongan bagi sivitas akademika untuk menghasilkan riset yang dapat diterapkan secara langsung.

“Kami sangat bersyukur dan bangga atas apresiasi langsung dari Bapak Menteri Hukum RI. Respons positif ini menjadi pemacu semangat bagi seluruh sivitas akademika dan peneliti di FK UNAIR untuk terus melahirkan inovasi kesehatan yang tidak hanya unggul secara akademis, tetapi juga memberikan manfaat nyata serta berdampak luas bagi masyarakat,” katanya.

Apresiasi terhadap inovasi tersebut juga disampaikan Menteri Hukum Supratman Andi Agtas saat menghadiri penandatanganan lisensi paten di ACC Unair pada pekan lalu.

Dalam kunjungan tersebut, Supratman melihat langsung inovasi yang dikembangkan FK Unair. Ia menekankan pentingnya membawa hasil penelitian dari lingkungan akademik menuju tahap pemanfaatan yang lebih luas.

Menurut Supratman, penelitian dan inovasi seharusnya tidak berhenti pada publikasi ilmiah atau ruang laboratorium, tetapi perlu dikembangkan agar dapat memberikan manfaat langsung sekaligus menciptakan nilai tambah.

“Inovasi tidak boleh berhenti pada penciptaan ide dan penelitian, tetapi harus mampu dihilirisasi sehingga memberikan nilai tambah ekonomi dan manfaat nyata bagi masyarakat,” ujar Supratman.

Dia menambahkan, kemampuan menghasilkan inovasi merupakan bagian dari upaya membangun kemandirian bangsa.

Karena itu, pemerintah, perguruan tinggi, dunia industri, dan masyarakat perlu memperkuat kerja sama agar hasil kekayaan intelektual Indonesia dapat dikembangkan dan dimanfaatkan secara luas.

“Mari kita jadikan ilmu pengetahuan sebagai kekuatan, inovasi sebagai jalan, dan nilai-nilai kebangsaan sebagai arah dalam membangun Indonesia yang lebih maju, mandiri, inovatif, dan berdaulat,” pungkasnya.

EDITOR: Dony Lesmana Eko Putra