JawaPos.com - Dampak gangguan distribusi akibat konflik di wilayah Timur Tengah, mulai dirasakan dampaknya masyarakat, terutama setelah harga komoditas plastik melonjak tajam dalam waktu relatif singkat.
Kondisi tersebut memberi tekanan besar bagi pelaku usaha makanan dan minuman, dikarenakan plastik masih menjadi pilihan utama kemasan yang murah dan praktis digunakan sehari-hari.
Setelah harga plastik naik, banyak pedagang kecil yang mengeluhkan biaya operasional membengkak. Namun, mereka ragu menaikkan harga jual karena khawatir menurunkan daya beli konsumen.
Baca Juga: Israel Dukung Gencatan Senjata AS-Iran, tapi Tetap Gempur Lebanon
Dilema ini dialami Firmansyah, pedagang Mie Ayam dan Bakso di daerah Dukuh Kupang, Kecamatan Sawahan, Surabaya. Ia menyebut harga plastik melambung sejak momen Lebaran 2026.
"Lebaran itu sudah naik (harga plastik). Naiknya ya tergantung jenis plastik, ada yang naik Rp 2 ribu, ada yang Rp 3 ribu, kalau plastik bening 1 kiloan ini naik Rp 3 ribu terakhir saya beli," tuturnya kepada JawaPos.com, Rabu (8/4).
Pedagang asal Malang ini mengaku keberatan dengan kenaikan harga plastik, sebab dalam aktivitas jualannya, ia memerlukan berbagai jenis plastik bening untuk membungkus minuman serta pesanan mie ayam dan bakso.
"Plastik ya biasanya buat yang dibawa pulang. Plastik bening ukuran sekilo buat bungkus bakso, mie ayam, terus minuman. Ada juga plastik bening ukuran 1/4 buat wadah sambal, kecap, begitu," imbuhnya.
Baca Juga: Gaji ke-13 ASN 2026 Masih Dikaji, Full atau Dipangkas? Ini Kata Purbaya
Meski begitu, Firman mengaku tidak ada kenaikan harga pasca plastik melonjak. Satu porsi bakso tetap dijual dengan harga Rp 15 ribu, sementara satu porsi mie ayam dijual seharga Rp 11 ribu.
"Harganya tetep, sih. Nggak ada arahan dari bos buat naikin harga, jadi harga tetap. Kita nggak tahu detailnya, karena yang menentukan harga itu bos, yang jelas harga tetap, porsi juga nggak dikurangi," ucapnya.
Keluhan serupa juga dialami Sumiati, penjual gorengan di wilayah Mojo, Kecamatan Gubeng, Surabaya. Perempuan 40 tahun itu mengaku pasrah dehgan kenaikan harga plastik yang mengikis omzetnya.
"Ya mau gimana lagi, keadannya lagi begini. Keberatan sudah pasti, tetapi mau naikkan harga juga takut sepi saya, jadi harganya normal: gorengan tempe, tahu, ote-ote, tetap seribuan," ucap Sumiati.
Ketika ditanya mengenai porsi gorengan, ia mengatakan tak ada pengurangan. Lebaran gorengan yang ia jajakan tetap sama, hanya saja untuk menekan biaya produksi, adonan gorengan dibuat lebih encer.
"Kita sebagai pedagang kecil itu bingung. Mau naikkan harga nanti sepi, ukuran gorengan dikurangi, nanti pembeli protes, jadi ya gimana caranya diakali lah, biar porsi tetap, dagangan laku, nggakpapa untung sedikit," lanjutnya.