JawaPos.com — Satu hari menjelang Lebaran, suasana mudik belum juga mereda di Kota Pahlawan. Warga masih berbondong-bondong memadati stasiun demi bisa merayakan Hari Raya Idul Fitri bersama keluarga di kampung halaman.
Pemandangan itu terlihat jelas di Stasiun Surabaya Gubeng pada Jumat siang (20/3/2026).
Antrean penumpang mengular, menunjukkan tingginya minat masyarakat menggunakan kereta api meski sebagian umat Islam sudah mulai merayakan Lebaran.
Baca Juga: Jasa Marga Resmi Setop One Way Nasional, Arus Mudik Lebaran 2026 Diklaim Telah Terkendali
Fenomena mudik H-1 ini bukan tanpa alasan. Banyak pekerja baru mendapatkan libur di detik-detik terakhir sehingga memilih berangkat mendekati hari raya.
Salah satunya Slamet Rahardjo yang tetap optimistis bisa merayakan momen spesial di kampung halaman. Ia rela berangkat di hari terakhir demi bisa mengikuti shalat Id bersama keluarga di Yogyakarta.
"Ya ini baru dapat libur kerja hari ini. Juga sembari nunggu keputusan lebaran ternyata besok untung beli tiketnya untuk keberangkatan hari ini jadi besok waktu shalat Id bisa di desa," ujarnya.
Slamet tidak sendiri dalam perjalanan tersebut. Ia mudik bersama istri dan anaknya, membawa semangat rindu kampung halaman yang sempat tertunda tahun lalu.
Baginya, Lebaran kali ini terasa lebih istimewa. Setelah absen mudik tahun sebelumnya, kesempatan kembali ke kampung halaman menjadi momen yang tak ingin dilewatkan.
Lonjakan penumpang juga tercermin dari data resmi PT KAI Daop 8 Surabaya. Pada hari ini saja, total penumpang diperkirakan mencapai 38.543 orang.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 23.012 penumpang tercatat berangkat dan 15.531 penumpang datang. Angka ini masih berpotensi bertambah hingga malam hari seiring keberangkatan kereta terakhir.
Tiga stasiun besar menjadi titik terpadat dalam arus mudik H-1 ini. Stasiun Surabaya Gubeng memimpin dengan total 11.170 penumpang yang terdiri dari 8.144 penumpang naik dan 3.026 turun.
Disusul Stasiun Surabaya Pasarturi dengan total 10.910 penumpang. Rinciannya, 6.711 penumpang berangkat dan 4.199 penumpang turun di stasiun tersebut.
Sementara itu, Stasiun Malang juga mencatat pergerakan yang cukup tinggi. Total ada 5.106 penumpang dengan 2.773 penumpang naik dan 2.333 penumpang turun.
Manager Humas KAI Daop 8 Surabaya, Mahendro Trang Bawono, memastikan tren peningkatan ini masih dalam batas kendali. Pihaknya terus memantau situasi dan memastikan pelayanan tetap optimal.
"Selama periode Angkutan Lebaran 2026, KAI Daop 8 Surabaya diproyeksikan melayani sebanyak 821.607 penumpang, yang terdiri dari 419.231 penumpang berangkat dan 402.376 penumpang datang," tuturnya.
Secara kumulatif, sejak 11 hingga 20 Maret 2026, jumlah penumpang sudah mencapai 431.280 orang. Angka ini terdiri dari 239.190 penumpang berangkat dan 192.090 penumpang datang.
Tingginya minat masyarakat juga terlihat dari penjualan tiket. Hingga Jumat, tiket kereta api jarak jauh yang terjual sudah mencapai 419.231 atau sekitar 75 persen dari total kapasitas.
Padahal periode penjualan masih berlangsung hingga awal April. Hal ini menunjukkan antusiasme masyarakat terhadap moda transportasi kereta api tetap tinggi.
Menariknya, program diskon tiket juga ikut mendorong lonjakan penumpang. Pemerintah memberikan potongan harga sebesar 30 persen untuk tiket KA Ekonomi Komersial selama periode 14–29 Maret 2026.
Di wilayah Daop 8 Surabaya, tersedia 188.288 tiket dengan tarif diskon. Hingga saat ini, sebanyak 134.137 tiket sudah terjual atau sekitar 71 persen dari total kuota.
Artinya, masih ada sekitar 54 ribu tiket yang bisa dimanfaatkan masyarakat. Kesempatan ini masih terbuka bagi mereka yang ingin mudik meski sudah mendekati hari Lebaran.
Puncak penjualan tiket sendiri terjadi pada 18 Maret 2026. Pada tanggal tersebut, tercatat 30.293 tiket berhasil terjual dalam sehari.
Angka itu disusul oleh penjualan pada 19 Maret yang mencapai 29.406 tiket. Tren ini menunjukkan lonjakan signifikan terjadi menjelang hari raya.
Meski begitu, masyarakat tidak perlu khawatir kehabisan tiket. KAI memastikan ketersediaan kursi masih cukup untuk berbagai relasi dan tanggal keberangkatan lainnya.
Situasi ini menjadi gambaran nyata bagaimana tradisi mudik tetap menjadi prioritas masyarakat Indonesia. Bahkan di H-1 Lebaran, semangat pulang kampung tidak surut sedikit pun.
Kereta api kembali menjadi pilihan utama karena dinilai nyaman, aman, dan tepat waktu. Faktor ini membuat moda transportasi tersebut tetap diminati di tengah berbagai alternatif perjalanan.
Di balik angka-angka tersebut, tersimpan cerita haru para pemudik. Mereka menempuh perjalanan panjang demi satu tujuan sederhana, berkumpul dengan keluarga tercinta.
Momen Lebaran memang selalu punya daya tarik tersendiri. Tak sekadar perayaan, tetapi juga ajang melepas rindu yang telah lama tertahan.
Dan di H-1 ini, ribuan orang membuktikan satu hal. Tak ada kata terlambat untuk pulang, selama niat masih ada dan tiket masih di tangan.