← Beranda
Kasus Vaginismus di Surabaya Naik, Tidak Bisa ML dengan Pasangan
M SholahuddinSelasa, 20 Desember 2022 | 02.32 WIB
Ilustrasi. Miss V yang tak lagi kencang bisa mengurangi kepercayaan diri perempuan.
JawaPos.com- Kasus vaginismus terus meningkat di Surabaya setiap tahun. Berdasar data di Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA) Kendangsari MERR, Surabaya, jumlah kasus vaginismus hingga akhir November ada sebanyak 60 pasien. Mereka tidak bisa berhubungan seksual alias making love (ML) dengan pasangannya.

Dokter Subspesialis Uriginekologi Fakulas Kedokteran (FK) Universitas Airlangga (Unair) Dr dr Eighty Mardiyan Kurniawati SpOG (K) mengatakan, kasus vaginismus terus meningkat. Tahun ini di RSIA Kendangsari MERR Surabaya, tempat praktiknya, setiap hari rata-rata ada 1–2 kasus. ”Pasiennya bukan hanya dari Surabaya, banyak juga dari luar kota,” katanya kepada Jawa Pos kemarin (18/12).

Berdasar data di RSIA Kendangsari MERR, total kasus vaginismus pada 2021 mencapai 20-an pasien. Namun, tahun ini peningkatan kasus terlihat cukup signifikan. ”Data hingga akhir November sudah ada 60 kasus vaginismus yang saya tangani di tempat saya praktik,” ujarnya.

Eighty menjelaskan, vaginismus adalah spasme involunter pada otot-otot vagina yang menyebabkan terjadi hambatan penetrasi saat berhubungan seksual. Vaginismus sendiri memiliki beberapa derajat. Derajat pertama, paling ringan. Pasien masih bisa mengontrol otot-otot vagina dengan penjelasan pemeriksa. ”Pasien masih bisa rileks pada saat dilakukan pemeriksaan di daerah vagina,” kata dia.

Pada derajat kedua, pasien mulai ada gangguan relaksasi pada vagina. Pada derajat ketiga, pasien menghindar pada saat dilakukan pemeriksaan. Reaksinya sampai mengangkat pantat dan paha.

Pada derajat keempat dan kelima, pasien melakukan penolakan parah saat dilakukan penetrasi. Napasnya meningkat hingga berkeringat dan berdebar. Bahkan sampai histeris. ”Usia pasien vaginismus rata-rata 22–35 tahun. Lama pernikahannya antara dua bulan hingga delapan tahun,” jelasnya.

Eighty menuturkan, ada beberapa faktor penyebabnya. Mulai faktor biologis, psikologis, hingga lingkungan. Faktor biologis biasanya memang ada masalah dari awal anatomi. ”Atau terjadi spasme pada otot vagina,” ujar dia.

Ada pula karena faktor psikologis. Yakni, pengalaman masa lalu karena pernah mengalami pelecehan seksual atau melihat video porno yang tidak menyenangkan.

Selain itu, juga ada faktor lingkungan. Pasien berada di dalam lingkungan yang menganggap berhubungan seksual tabu atau tidak boleh dilakukan. ”Cara penatalaksanaannya, memang harus bisa melakukan wawancara secara detail untuk mencari faktor-faktor yang terjadi. Kemudian, dilakukan pemeriksaan,” ujarnya.

Biasanya, kalau disebabkan faktor biologis, lanjut dia, harus dilakukan tindakan operasi. Misalnya, selaput dara tebal atau vagina kecil.
EDITOR: M Sholahuddin