← Beranda

Napak Tilas Sejarah Jembatan Merah Surabaya: Saksi Bisu Pertempuran Heroik 10 November 1945

Achmad AsroriRabu, 16 April 2025 | 06.44 WIB
Ilustrasi sejarah Jembatan Merah Surabaya (Dok. Tripadvisor)

JawaPos.com - Jembatan Merah Surabaya adalah salah satu ikon sejarah yang tak hanya menyimpan keindahan arsitektur, tetapi juga memiliki nilai sejarah yang sangat penting bagi bangsa Indonesia.

Terletak di jantung Kota Surabaya, jembatan ini menjadi saksi bisu perjuangan heroik para pemuda Arek-Arek Surabaya dalam pertempuran 10 November 1945.

Sebagai simbol Kota Pahlawan, Jembatan Merah menghubungkan masa lalu yang penuh dengan darah dan perjuangan dengan perkembangan kota modern Surabaya yang terus berkembang hingga saat ini.

Melansir YouTube Achmad FA, mari kita telusuri lebih dalam tentang sejarah dan makna yang terkandung dalam Jembatan Merah, yang tetap berdiri kokoh sebagai monumen perlawanan dan semangat kemerdekaan Indonesia.

1. Lokasi Strategis di Jantung Kota Surabaya

Jembatan Merah menghubungkan Jalan Rajawali dan Jalan Kembang Jepun, dua ruas jalan penting di Surabaya.

Terletak di atas Sungai Kalimas, kawasan di sekitar jembatan ini sejak dahulu merupakan pusat niaga yang ramai, bahkan hingga kini masih berdiri bangunan-bangunan bersejarah di sekitarnya.

2. Jejak Sejarah sejak Masa VOC

Sejarah Jembatan Merah dapat ditelusuri hingga abad ke-18, saat VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie) menguasai Surabaya tahun 1743.

Setelah mendapat wilayah ini dari Raja Mataram Islam, VOC mulai membangun pusat kota bergaya Eropa, termasuk kawasan di sekitar jembatan yang kini dikenal sebagai Kota Tua Surabaya.

3. Fungsi Awal sebagai Jalur Niaga dan Pemerintahan

Jembatan Merah awalnya dibangun untuk mendukung aktivitas perdagangan dan administrasi kolonial.

Menurut catatan sejarah, jembatan ini sudah digunakan sejak awal abad ke-19 dan menjadi jalur utama bagi penduduk serta pemerintahan Belanda yang bermukim di utara kota.

4. Asal-Usul Nama Jembatan Merah

Nama Jembatan Merah diyakini berasal dari legenda Suro dan Boyo yang bertarung di Sungai Kalimas hingga airnya berwarna merah. Sejak saat itu, jembatan yang melintasi sungai tersebut disebut Jembatan Merah oleh masyarakat sekitar.

5. Pusat Aktivitas Kota di Era Kolonial

Sejak abad ke-19 hingga awal abad ke-20, Jembatan Merah menjadi jalur utama aktivitas kota. Pada tahun 1925, kantor Residen Surabaya bahkan berada tepat di muka jembatan ini.

Tak heran jika kawasan ini selalu ramai oleh lalu lintas manusia dan barang, baik di jalur darat maupun sungai.

6. Peran Strategis dalam Pertempuran 10 November 1945

Jembatan Merah menjadi saksi sejarah pertempuran paling heroik dalam sejarah bangsa, yakni Pertempuran 10 November 1945.

Beberapa hari sebelum pertempuran, para pejuang dari Surabaya telah mengepung tentara Sekutu di Gedung Internatio, yang letaknya sangat dekat dari Jembatan Merah.

7. Tewasnya Brigadir Jenderal Mallaby di Sekitar Jembatan Merah

Pada 30 Oktober 1945, terjadi baku tembak sengit antara tentara Sekutu dan pejuang kemerdekaan. Di peristiwa inilah Brigadir Jenderal A.W.S. Mallaby, salah satu petinggi militer Sekutu, tewas.

Kejadian ini memicu kemarahan Sekutu dan menjadi pemicu utama invasi besar-besaran pada 10 November.

8. Jembatan Merah Kini: Monumen Kehormatan dan Wisata Sejarah

Hingga kini, Jembatan Merah Surabaya tetap berdiri kokoh sebagai pengingat perjuangan para pahlawan. Kawasan ini menjadi destinasi wisata sejarah yang wajib dikunjungi, baik oleh wisatawan lokal maupun mancanegara.

Banyak bangunan tua di sekitarnya yang masih terawat, memberi atmosfer historis yang kental.

Penutup

Jembatan Merah bukan hanya infrastruktur, melainkan penjaga memori kolektif bangsa Indonesia. Bagi Anda yang ingin mengenal lebih dalam tentang perjuangan kemerdekaan, menapaki Jembatan Merah adalah seperti menyusuri kembali halaman-halaman penting dalam buku sejarah bangsa.

EDITOR: Candra Mega Sari