JawaPos.com - Ajang Mangkunegaran Run 2026 semakin mengukuhkan diri sebagai event lari berstandar internasional. Digelar Minggu (3/5), lomba ini diikuti sekitar 7.750 pelari dari dalam dan luar negeri yang berkompetisi di kategori 5K, 10K, dan Half Marathon (21K), dikutip dari RADAR SOLO.
Rute lomba yang telah mengantongi sertifikasi World Athletics menjadi salah satu faktor utama kenyamanan peserta. Para pelari memulai lomba dari kawasan Stadion Manahan dan melintasi sejumlah ruas utama Kota Solo, menghadirkan tantangan sekaligus pengalaman berlari yang variatif.
Sepanjang lintasan, lebih dari 100 cheering point dari komunitas lokal dan pertunjukan budaya turut memeriahkan suasana. Kehadiran elemen ini menjadi pembeda sekaligus penyemangat bagi para peserta.
Baca Juga: Bruno Moreira Supersub! 2 Assist jadi Bukti Peran Vital Sang Kapten Persebaya Surabaya
Salah satu pelari 10K, Aulia asal Bekasi, mengaku atmosfer lomba memberi energi tambahan di tengah kelelahan.
“Capek pasti, apalagi pas masuk kilometer akhir. Tapi setiap lewat cheering point ada tarian, musik, bahkan teriakan semangat dari warga, itu bikin energi seperti terisi lagi,” ujarnya.
Pengalaman serupa disampaikan Dita, peserta asal Jakarta. Ia menilai event ini bukan sekadar soal finis. “Ini bukan cuma soal waktu atau finis, tapi pengalaman sepanjang jalan. Setiap beberapa ratus meter selalu ada sesuatu yang baru,” katanya.
Dari sisi penyelenggaraan, Co-Founder & COO Katadata Indonesia Ade Wahyudi menegaskan bahwa standar internasional menjadi perhatian utama. “Ini bukan sekadar lomba, tetapi pengalaman lari yang dirancang dengan kualitas tinggi,” ujarnya.
Dengan peningkatan jumlah peserta hingga sekitar 40 persen dibanding tahun lalu dan tiket yang habis dalam waktu singkat, Mangkunegaran Run 2026 menunjukkan antusiasme tinggi sekaligus posisi kuat sebagai event lari yang menggabungkan aspek teknis dan pengalaman peserta.
Baca Juga: Kapten Persebaya Surabaya Berjasa Besar Saat Libas PSBS Biak 4-0, Ini Pesan Bonek ke Bruno Moreira!
Makna Filosofi Legiun Mangkunegaran
Selain event lari, jamuan Royal Dinner dalam rangka Adeging ke-269 Mangkunegaran juga diselenggarakan di Pendopo Mangkunegaran. Acara ini bukan sekadar acara seremonial, tetapi juga sarat makna filosofi keprajuritan.
Mengusung tema Legiun Mangkunegaran, rangkaian acara menyoroti nilai disiplin, ketahanan, dan kemampuan mengendalikan diri—selaras dengan penanggalan Tahun Dal dalam siklus Jawa yang dimaknai sebagai fase penempaan.
KGPAA Mangkunegaran X atau Gusti Bhre menyebut momen ini sebagai ruang kebersamaan sekaligus refleksi.
Baca Juga: Time Will Tell! Curhat Milos Raickovic Usai Borong 2 Gol Buat Persebaya Surabaya ke Gawang PSBS Biak
Sementara itu, Ancillasura Marina Sudjiwo atau Gusti Sura menjelaskan bahwa tema keprajuritan tahun ini bukan tanpa alasan. Sosok yang kerap disapa Gusti Sura ini mengatakan, Adeging Mangkunegaran tahun ini digelar pada Tahun Dal, artinya merupakan tantangan.
"Ini kita wujudkan dalam tema keprajuritan yang bisa teman-teman lihat di sini. Mangkunegaran melambagkan ini semua dengan ikon kuda,” kata Gusti Sura.
Filosofi tersebut diterjemahkan melalui tujuh hidangan yang disajikan kepada sekitar 150 tamu. Setiap menu merepresentasikan perjalanan seorang ksatria—mulai dari langkah awal, disiplin, hingga proses penempaan diri.
Baca Juga: Mantan Kiper Persebaya Surabaya Buka Suara! Dimas Galih Ungkap Kondisi Ruang Ganti PSBS Biak
Hidangan utama, misalnya, dimaknai sebagai simbol proses panjang yang membentuk ketangguhan. Daging yang dimasak perlahan mencerminkan bahwa kekuatan tidak lahir instan, melainkan melalui konsistensi dan waktu.
Rangkaian ditutup dengan sajian penutup berbahan sederhana yang diangkat menjadi hidangan elegan, sebagai simbol kerendahan hati setelah melalui proses panjang.
Melalui konsep ini, Royal Dinner tidak sekadar menyajikan kuliner, tetapi juga menghadirkan narasi tentang nilai hidup: kapan bergerak cepat, kapan menahan diri, dan bagaimana menjaga arah dalam setiap langkah.