JawaPos.com — Persebaya Surabaya kembali menjadi sorotan setelah menelan kekalahan telak 1-5 dari Borneo FC dalam lanjutan Super League 2025/2026 di Stadion Segiri, Samarinda, Sabtu (7/3/2026) malam. Hasil tersebut tidak hanya memunculkan evaluasi performa tim, tetapi juga membuka diskusi tentang kedalaman skuad Green Force musim ini.
Secara komposisi usia, Persebaya Surabaya sebenarnya termasuk dalam jajaran tim dengan skuad paling muda di kompetisi musim ini. Rata-rata usia pemain Green Force tercatat berada di angka 26,0 tahun.
Angka tersebut menempatkan Persebaya Surabaya sejajar dengan Borneo FC Samarinda dalam daftar tim dengan rata-rata usia pemain termuda di Super League 2025/2026.
Namun, kesamaan usia itu ternyata belum berbanding lurus dengan kematangan permainan di lapangan.
Perbedaan paling terlihat muncul pada aspek kedalaman skuad dan pengalaman bertanding. Borneo FC memiliki jumlah pemain lebih banyak serta rotasi yang lebih stabil di setiap lini permainan.
Persebaya Surabaya saat ini hanya memiliki 30 pemain dalam skuad utama musim ini. Jumlah itu masih berada di bawah beberapa tim lain yang memiliki komposisi pemain lebih besar untuk menjaga stabilitas sepanjang musim.
Baca Juga: Lini Depan Persebaya Surabaya Ompong! Rumor Daftar Belanja Striker Musim Depan Mulai Beredar
Sebagai perbandingan, Borneo FC memiliki total 34 pemain dalam daftar skuad mereka. Jumlah tersebut memberikan fleksibilitas lebih besar bagi tim pelatih untuk melakukan rotasi pemain tanpa mengurangi kualitas permainan.
Kondisi itu juga terlihat dalam pertandingan melawan Borneo FC. Ketika pertandingan berjalan semakin terbuka, Persebaya Surabaya kesulitan menjaga keseimbangan permainan hingga kebobolan beberapa gol tambahan.
Pelatih Persebaya Surabaya Bernardo Tavares mengakui timnya harus segera melakukan evaluasi setelah hasil tersebut. Ia menilai secara permainan tim sebenarnya mampu menciptakan beberapa peluang berbahaya.
Dalam konferensi pers seusai pertandingan, pelatih asal Portugal itu menilai efektivitas menjadi faktor utama yang membedakan kedua tim. Borneo FC mampu memaksimalkan peluang yang dimiliki menjadi gol.
Menurut Tavares, Persebaya Surabaya juga memiliki sejumlah kesempatan untuk mencetak gol. Namun Green Force hanya mampu memanfaatkan satu peluang menjadi gol sepanjang pertandingan.
“Kami juga punya beberapa peluang, tetapi hanya mampu mencetak satu gol. Sekarang kami harus melihat kembali pertandingan ini dan menganalisis apa yang sebenarnya terjadi,” ujarnya.
Tavares menegaskan para pemain sebenarnya sudah mencoba menjalankan rencana permainan yang telah dipersiapkan sebelumnya.
Tim pelatih telah melakukan analisis detail terhadap kekuatan Borneo FC sebelum pertandingan berlangsung.
“Kami sudah menganalisis lawan, menunjukkan video kepada pemain, dan melakukan latihan untuk mempersiapkan pertandingan ini. Namun hari ini kami tidak mampu menunjukkan performa terbaik,” sambungnya.
Ia juga menyoroti beberapa gol yang dicetak Borneo FC sebenarnya sudah diprediksi sejak awal. Salah satu ancaman yang diantisipasi adalah kemampuan pemain lawan dalam melepaskan tembakan jarak jauh.
“Kami sudah membahas hal itu dalam persiapan. Kami mencoba menutup ruang di sekitar kotak penalti karena kami tahu mereka memiliki pemain dengan tembakan kuat dari luar kotak,” jelasnya.
Baca Juga: 5 Laga Cuma 4 Poin! Alarm Bahaya Persebaya Surabaya, Ancaman Terlempar dari Papan Atas Makin Nyata
Meski tertinggal jauh dalam skor pertandingan, Persebaya Surabaya tetap berusaha tampil menyerang hingga akhir laga. Strategi itu diambil karena tim tidak ingin kehilangan mental bertanding saat tertinggal.
Green Force tercatat melepaskan total 13 tembakan sepanjang pertandingan tersebut. Empat di antaranya berhasil mengarah tepat ke gawang lawan meskipun hanya satu yang berbuah gol.
“Ketika kami tertinggal, kami punya dua pilihan, menyerah atau terus mencoba. Kami memilih untuk tetap menyerang. Tetapi ketika kami membuka ruang, Borneo kembali mencetak gol,” ungkapnya.
Kekalahan ini sekaligus memperlihatkan tantangan terbesar Persebaya Surabaya musim ini. Bukan hanya soal kualitas pemain inti, tetapi juga kedalaman skuad yang masih perlu diperkuat.
Skuad yang relatif muda memang memberikan potensi besar untuk perkembangan jangka panjang.
Namun dalam kompetisi panjang seperti Super League, pengalaman dan rotasi pemain menjadi faktor yang sangat menentukan.
Beberapa klub lain di Super League juga memiliki komposisi pemain muda berdasarkan data Transfermarkt. PSM Makassar misalnya memiliki rata-rata usia 25,5 tahun dengan total 34 pemain dalam skuadnya.
Persijap Jepara juga termasuk dalam daftar tim muda dengan rata-rata usia 25,7 tahun dan total 33 pemain. Sementara itu PSIM Yogyakarta memiliki rata-rata usia 26,3 tahun dengan 26 pemain dalam daftar timnya.
Dari sisi nilai pasar, Persebaya Surabaya memiliki rata-rata nilai pasar pemain sebesar Rp 2,61 miliar. Total nilai pasar skuad Green Force bahkan mencapai Rp 78,22 miliar.
Angka tersebut sebenarnya menunjukkan potensi besar yang dimiliki Persebaya Surabaya untuk berkembang dalam beberapa musim mendatang. Banyak pemain muda yang masih memiliki ruang peningkatan performa.
Namun potensi itu tetap membutuhkan dukungan kedalaman skuad yang lebih kuat. Tanpa rotasi yang memadai, pemain inti bisa mengalami kelelahan atau penurunan performa di fase krusial musim.
Situasi itulah yang kini menjadi perhatian tim pelatih Persebaya Surabaya. Evaluasi yang dilakukan bukan hanya soal taktik pertandingan, tetapi juga bagaimana memaksimalkan potensi seluruh pemain yang ada di dalam skuad.
Jika proses tersebut berjalan dengan baik, Persebaya Surabaya tetap memiliki peluang untuk bangkit. Skuad muda yang dimiliki Green Force bisa menjadi fondasi penting untuk membangun tim yang lebih kompetitif di masa depan.