← Beranda
Selain Evan Dimas, Berikut Daftar 4 Mantan Pemain Timnas Indonesia yang Menghilang di Usia Emas
Alvin Fahrizal Bayyuni• Jumat, 3 Januari 2025 | 01.14 WIB
Evan Dimas menjadi pemain Timnas Indonesia yang menurun di usia emas. (Instagram @evhandimas)
 

JawaPos.com - Mantan pemain Timnas Indonesia, Evan Dimas, kini sedang menghadapi tantangan besar dalam karier sepak bolanya. Kebersamaannya dengan Persik Kediri resmi berakhir setelah performanya dianggap kurang maksimal. 

Pemain yang sempat digadang-gadang menjadi pilar masa depan sepak bola Indonesia ini dilepas pada bursa transfer paruh musim Liga 1 Indonesia. Keputusan ini diambil manajemen Persik setelah evaluasi menyeluruh, meskipun Evan sebenarnya masih memiliki sisa kontrak.

Pelatih Persik Kediri, Marcelo Rospide, menyatakan bahwa keputusan ini merupakan kesepakatan bersama antara manajemen dan mantan kapten Timnas Indonesia itu. 

Ia bermain selama 22 menit, namun penampilannya dianggap underperform. Meski demikian, manajemen Persik tetap menghormati Evan dan mendoakan yang terbaik untuk masa depannya.

Evan bukan satu-satunya pemain Timnas Indonesia yang mengalami penurunan karir di usia emas. Ada beberapa nama lain yang sempat bersinar di usia muda, namun kemudian hilang dari peredaran saat mencapai usia prime, berikut contohnya:

1. Syamsir Alam

Sejak muda, Syamsir menunjukkan bakat dengan bergabung di SSB Depok dan Asiop. Ia juga mewakili Indonesia di Piala Dunia U-11 Danone bersama Makassar FC. Pada 2008, ia bergabung dengan program SAD Indonesia di Uruguay, bermain untuk Deportivo Indonesia dan Penarol. Syamsir kemudian merantau ke Belgia bersama CS Vise dan ke Amerika Serikat bersama DC United, sebelum kembali ke Indonesia dan beralih ke industri entertaint.

2. Okto Maniani

Okto Maniani dikenal sebagai winger lincah dengan kecepatan dan dribel mumpuni. Ia bersinar di Piala AFF 2010 saat membawa Timnas Indonesia ke final. Karier klubnya dimulai bersama PSMS Medan pada 2008, lalu berlanjut ke Sriwijaya FC, Persiram, Barito Putera, hingga Borneo FC, meski tidak pernah benar-benar stabil.  

Di timnas, Okto turut meraih medali perak SEA Games 2011 bersama Timnas U-23. Namun, kariernya meredup karena inkonsistensi dan adaptasi yang sulit. Setelah meninggalkan sepak bola, Okto mencoba jalur politik dengan bergabung Partai Gelora Indonesia pada 2021.

3. Kurnia Meiga

Kurnia Meiga meraih prestasi gemilang bersama Arema, termasuk Pemain Terbaik Liga Super Indonesia 2009/2010, dan menjadi andalan Timnas Indonesia di berbagai turnamen. Namun, pada 2017, kariernya terhenti akibat papiledema, yang menyebabkan gangguan penglihatan serius.  

Meski telah menjalani pengobatan, penglihatannya kini hanya berfungsi sekitar 5 persen, memengaruhi kehidupannya secara signifikan. Untuk mencukupi kebutuhan, Meiga berjualan keripik emping dan jersey sambil fokus pada pemulihan.  

4. Osvaldo Haay 

Osvaldo Haay memulai karier profesionalnya bersama Persipura Jayapura pada 2016, menunjukkan potensinya sebagai penyerang berbakat. Pada 2018, ia hijrah ke Persebaya Surabaya dan meraih penghargaan Pemain Muda Terbaik Liga 1, sekaligus memperkuat reputasi Green Force.

Pada 2020, ia bergabung dengan Persija Jakarta, meski harus bersaing ketat untuk tempat reguler di tengah pandemi. Di level internasional, Osvaldo bersinar di SEA Games 2017 (medali perunggu) dan 2019, di mana ia menjadi top skor dan membantu Indonesia meraih perak.  

Namun, beberapa tahun terakhir menjadi tantangan bagi Osvaldo. Di bawah Shin Tae-yong, ia kehilangan tempat di timnas. Sementara performa klubnya belum stabil. Meski begitu, banyak yang optimistis ia dapat kembali ke puncak performa.

Mereka adalah contoh dari fenomena "wasted talent" dalam sepak bola Indonesia selama 10-15 tahun terakhir. Keempatnya memiliki kesamaan sulit menemukan klub yang stabil di usia puncak karier mereka.

Fenomena ini pernah disinggung oleh komika Oki Rengga dalam salah satu podcast bersama Exco PSSI, Arya Sinulingga. Menurutnya, banyak pemain muda Indonesia yang bersinar di timnas kelompok umur, namun gagal bersaing di level senior. 

“Pemain tidak tahu bahwa mereka adalah seorang profesional atlet. Pemain kelompok usia masih bisa diatur pelatih, tapi senior sudah nggak bisa,” ujarnya. 

Oki juga mengakui bahwa gaya hidup yang kurang disiplin, seperti dunia malam, menjadi salah satu penyebab menurunnya performa pemain.

“Di usia 20-23, stamina saya masih oke walaupun keluar malam. Tapi, setelah 25, habis itu,” tambahnya.

Oki juga menyoroti generasi Timnas U-19 era Evan Dimas yang sebagian besar tak mampu bertahan di level profesional. “U-19 era Evan Dimas, siapa yang masih bertahan? Apa alasannya kok nggak bertahan mereka?” tanyanya.

Pengelolaan karier yang kurang matang, gaya hidup, serta kurangnya adaptasi terhadap tuntutan profesional menjadi faktor utama di balik fenomena ini. Dalam dunia sepak bola modern, pemain dituntut tidak hanya memiliki skill, tetapi juga mentalitas dan disiplin untuk menjaga performa di usia puncak. Jika tidak, bakat besar yang dimiliki saat muda hanya akan menjadi cerita nostalgia, tanpa kontribusi nyata di level profesional.

EDITOR: Edi Yulianto