JawaPos.com - Marco Materazzi punya alasan kuat untuk berbicara tentang Jose Mourinho. Mantan bek Inter Milan tersebut pernah merasakan langsung bagaimana pelatih asal Portugal itu memimpin sebuah ruang ganti hingga meraih salah satu pencapaian terbesar dalam sejarah klub.
Kini, lebih dari 16 tahun setelah musim 2009-10 yang luar biasa, kekaguman Materazzi terhadap Mourinho belum berubah.
Melansir MARCA, Materazzi menilai kembalinya Mourinho ke Real Madrid bukan sesuatu yang mengejutkan. Ia bahkan percaya hubungan erat Mourinho dengan Presiden Real Madrid, Florentino Perez, menjadi salah satu faktor penting di balik keputusan tersebut.
Materazzi Paham Betul Karakter Mourinho
Materazzi dan Mourinho membangun hubungan yang sangat dekat ketika bekerja sama di Inter pada musim 2009-10.
Saat itu, Inter mencatat sejarah dengan meraih treble setelah memenangkan Serie A, Coppa Italia, dan Liga Champions.
Mourinho menjadi sosok sentral dalam kesuksesan tersebut, sementara Materazzi merupakan bagian dari skuad yang menjalani musim bersejarah itu. Karena itu, Materazzi memahami karakter Mourinho lebih baik dibandingkan kebanyakan orang.
“Tidak perlu panik; Anda hanya perlu melakukan perubahan yang tepat,” kata Materazzi.
Menurutnya, keputusan Mourinho kembali ke Santiago Bernabeu sangat berkaitan dengan hubungan dan kepercayaan yang sudah terjalin dengan Florentino Perez.
“Saya tahu hubungan yang dia miliki dengan Florentino, kepercayaan besar yang dia berikan kepada José. Dia telah menyerahkan kendali Real Madrid kembali kepadanya,” jelasnya.
Pemain Rela Berikan Segalanya untuk Mourinho
Salah satu kualitas terbesar Mourinho, menurut Materazzi, adalah kemampuannya membuat pemain merasa memiliki hubungan personal dengan sang pelatih.
Bagi Mourinho, pemain bukan sekadar bagian dari sistem taktik. Ia mampu membuat mereka merasa menjadi bagian dari sebuah keluarga.
“Hal terbaik tentang Jose adalah siapa pun yang bermain untuknya merasa seperti bagian dari keluarganya sendiri dan memberikan yang terbaik untuknya di lapangan,” ujarnya.
Pengaruh tersebut bahkan bisa membuat pemain memberikan pengorbanan maksimal ketika berada di lapangan.
“Di lapangan, Anda rela mati untuknya,” Materazzi menyimpulkan.
Bukan hanya soal taktik, Materazzi melihat kemampuan membangun ikatan dengan pemain sebagai salah satu senjata terbesar Mourinho.
Mourinho Bisa Menyatukan Ruang Ganti Madrid
Materazzi juga ditanya mengenai kabar adanya ketegangan di ruang ganti Real Madrid, termasuk spekulasi yang melibatkan Aurelien Tchouameni dan Federico Valverde. Namun, ia tidak melihat situasi tersebut sebagai sesuatu yang perlu dikhawatirkan.
“Jose mampu menyatukan mereka dan mereka akan menjadi teman baik.”
Menurut Materazzi, gesekan di ruang ganti tidak selalu menjadi hal buruk. Dalam kadar tertentu, persaingan justru bisa membuat para pemain mempertahankan intensitas dan terus berusaha mendapatkan tempat di starting XI.
Situasi tersebut sangat relevan bagi Real Madrid. Mourinho kini menangani skuad yang dipenuhi pemain bintang, karakter kuat, serta persaingan ketat untuk mendapatkan posisi utama.
Tantangannya adalah memastikan persaingan tersebut tidak berubah menjadi perpecahan. Dan Materazzi percaya Mourinho memiliki kemampuan untuk mengelolanya.
Materazzi Peringatkan Inter soal Mbappe dan Bernabeu
Pertemuan Real Madrid dan Inter juga menjadi kesempatan bagi Materazzi untuk melihat kedua klub dari sudut pandang yang sangat personal.
Ia pernah merasakan atmosfer Santiago Bernabeu sebagai pemain Real Madrid, tetapi juga memahami mentalitas yang diperlukan untuk bermain sebagai pemain Inter di panggung Liga Champions.
Materazzi menganggap duel di lini tengah bisa menjadi salah satu faktor penentu pertandingan. Namun, ketika ditanya mengenai ancaman terbesar yang harus diwaspadai Inter, jawabannya langsung mengarah kepada dua hal.
“Saya menyatakan hal yang sudah jelas karena memang itu kebenarannya: Mbappe. Dan Bernabeu.”
Kylian Mbappe jelas menjadi ancaman utama bagi Inter. Namun, bagi Materazzi, atmosfer Bernabeu juga memiliki pengaruh besar terhadap pertandingan.
Ia sendiri memiliki kenangan istimewa di stadion tersebut. Materazzi merupakan bagian dari tim Inter yang mengalahkan Bayern Munich di final Liga Champions 2010 di Bernabeu.
Kemenangan tersebut sekaligus menyempurnakan treble Inter dan menjadi salah satu pencapaian terbesar dalam karier Mourinho.
Kenangan Treble yang Tak Terlupakan
Setelah kemenangan di final tersebut, Materazzi dan Mourinho berbagi pelukan yang hingga kini masih dikenang sang mantan bek.
Namun, percakapan pribadi yang terjadi di antara mereka setelah pertandingan tetap menjadi rahasia.
“Apa pun yang kita ucapkan satu sama lain – selain ucapan saya 'Pergi sana, kau meninggalkan kami bersama Benítez' – akan tetap menjadi rahasia di antara kita selamanya.”
Materazzi jelas menyampaikannya dengan nada bercanda. Namun, di balik candaan tersebut terdapat emosi yang cukup dalam.
Mourinho bukan sekadar pelatih bagi Materazzi dan para pemain Inter kala itu. Ia menjadi sosok yang membangun ikatan kuat dengan ruang ganti. Karena itu, ketika Mourinho pergi, kehilangan tersebut terasa begitu besar.
“Anda Akan Merindukannya”
Hubungan yang terjalin selama salah satu musim terbaik dalam sejarah Inter membuat kepergian Mourinho menjadi momen sulit bagi para pemain. Materazzi pun memiliki satu pesan sederhana mengenai sosok Mourinho.
“Masalahnya adalah, kamu akan merindukannya ketika dia sudah tiada,” pungkasnya.
Kalimat tersebut mungkin menjadi gambaran paling tepat mengenai pengalaman Materazzi bersama Mourinho.
Kini, Mourinho kembali berada di Real Madrid. Dan jika kemampuan yang sama untuk membangun hubungan dengan pemain kembali muncul di Bernabeu, bukan tidak mungkin sang pelatih akan kembali membuat ruang ganti Madrid percaya bahwa mereka mampu melakukan sesuatu yang besar.