← Beranda
Kontroversi AFCON 2025: Senegal Kehilangan Gelar, CAF Dituding Bermain di Balik Layar
Andre Rizal HanafiRabu, 1 April 2026 | 13.07 WIB
Senegal menjuarai Piala Afrika 2025. (@AfricaFactsZone)

 

JawaPos.com–Kontroversi besar tengah mengguncang dunia sepak bola Afrika setelah hasil final Piala Afrika (AFCON) 2025 antara Senegal dan Maroko diputuskan ulang secara mengejutkan. Keputusan ini memicu polemik panjang yang kini bahkan merembet ke ranah hukum internasional.

Awalnya, Senegal keluar sebagai pemenang usai mencetak gol dramatis di menit akhir dalam laga final yang berlangsung di Rabat. Kemenangan tersebut disambut meriah para pemain dan pendukung mereka. Bintang Senegal Sadio Mane mengangkat trofi juara dengan penuh kebanggaan.

Namun, situasi berubah drastis dua bulan kemudian. Konfederasi Sepak Bola Afrika (CAF) secara resmi menganulir kemenangan Senegal. CAF menerima dan mengabulkan banding dari Federasi Sepak Bola Maroko.

Baca Juga: Atletik Indonesia Unjuk Gigi di Asia: Dominasi Lompat Galah di Taiwan dan Perjuangan Jalan Cepat di Jepang

Dalam keputusan tersebut, Senegal dinyatakan kalah 0-3 akibat pelanggaran regulasi yang disebut terjadi saat pertandingan berlangsung. Keputusan ini langsung menuai reaksi keras. Banyak pihak menilai langkah CAF tidak transparan dan terkesan janggal karena dilakukan jauh setelah pertandingan berakhir.

Publik mempertanyakan dasar keputusan tersebut, terutama karena tidak ada indikasi masalah besar saat laga berlangsung. Ketegangan semakin meningkat ketika Senegal tetap memamerkan trofi juara mereka dalam sebuah acara di Paris.

Aksi ini dianggap sebagai bentuk perlawanan simbolis terhadap keputusan CAF sekaligus penegasan bahwa mereka masih merasa sebagai juara sah.

Baca Juga: Tragis! Italia Cetak Hattrick Gagal Lolos ke Piala Dunia Usai Kalah Adu Penalti dari Bosnia

Di tengah polemik tersebut, muncul laporan investigasi dari jurnalis asal Prancis Romain Molina. Dalam laporannya, dia mengungkap dugaan adanya intervensi dalam proses banding yang dilakukan CAF.

Molina menyebut bahwa juri banding diduga tidak bekerja secara independen dan terdapat indikasi manipulasi dalam pengambilan keputusan. Laporan tersebut juga menyoroti kemungkinan konflik kepentingan di dalam tubuh CAF.

Jika terbukti benar, hal ini tentu menjadi pukulan serius bagi kredibilitas organisasi sepak bola tertinggi di Afrika tersebut.

Sementara itu, Maroko tidak tinggal diam. Mereka dikabarkan tengah menyiapkan langkah hukum terkait tindakan Senegal yang memamerkan trofi di Paris.

Maroko menganggap trofi tersebut secara sah menjadi milik mereka setelah keputusan resmi CAF. Sehingga segala bentuk klaim dari Senegal dinilai tidak dapat dibenarkan.

Bahkan, Prancis ikut terseret dalam konflik ini. Maroko disebut mempertimbangkan langkah hukum terhadap negara tersebut karena dianggap membiarkan Senegal memamerkan trofi di wilayahnya.

Baca Juga: Presiden Barcelona Joan Laporta Kembali Sindir Real Madrid soal Hubungan dengan Wasit

Situasi ini membuka potensi sengketa lintas negara yang bisa memperpanjang drama AFCON 2025. Hingga kini, polemik belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Senegal dikabarkan akan membawa kasus ini ke Pengadilan Arbitrase Olahraga (CAS) untuk mencari keadilan.

Jika itu terjadi, konflik ini berpotensi menjadi salah satu skandal terbesar dalam sejarah sepak bola Afrika.

EDITOR: Latu Ratri Mubyarsah