← Beranda
Penari Tunarungu Surabaya Kembang Renjana, ’’Mendengarkan’’ Musik lewat Getaran dari Pengeras Suara
Siti AisyahSenin, 22 Juli 2024 | 00.45 WIB
KOMPAK: Nawal Abdina di tengah para penari Kembang Renjana setelah latihan tari Dugderan di SMALB Karya Mulya pada Jumat (19/7). (Foto: Robertus Risky/Jawa Pos)

 

Kekuatan media sosial (medsos) membuat publik mengenal Kembang Renjana. Sampai Nawal Abdina menjadi viral karena ’’kehebohannya’’ saat mengarahkan timnya di panggung Pesta Rakyat Mojokerto, hanya sedikit yang tahu bahwa para penari Kembang Renjana itu istimewa.

’’Luar biasa, keren, senang.” Pernyataan itu diungkapkan Amanda Saraswati lewat gerakan tangannya kepada Jawa Pos. Tiga perasaan itulah yang membuncah di dadanya ketika penampilannya bersama teman-teman penari lainnya diapresiasi publik dengan gegap gempita. Hal yang sama disampaikan oleh para penari lainnya.

Hari itu, Pesta Rakyat HUT Ke-106 Kota Mojokerto menjadi viral. Jagat medsos dipenuhi haru dan sukacita luar biasa atas kesuksesan Tim Penari Tunarungu Kembang Renjana SLB Karya Mulia di panggung Pesta Rakyat Mojokerto. Sorotan tertuju pada sang pelatih yang akrab disapa Dina.

’’Sebenarnya kami sudah sering tampil, tapi baru viral sekarang. Ya mungkin rezekinya baru sekarang,” ujar perempuan ramah itu saat dijumpai pada Jumat (19/7).

Sejatinya, Kembang Renjana diundang untuk tampil di Balai Kota Mojokerto tepat saat perayaan resmi HUT Kota Mojokerto pada 20 Juni. Namun, hari itu mereka kadung punya agenda lain. Jadilah penampilan mereka mundur sehari. Yakni, ketika perhelatan Pesta Rakyat Mojokerto. Tidak disangka, perubahan jadwal itu mengubah nasib Kembang Renjana.

Hari itu, Dina memberikan instruksi di depan panggung, menghadap para penarinya. Aksinya direkam pengunjung dan menjadi viral setelah diunggah ke medsos. Dina yang saat itu sedang hamil muda tidak sadar bahwa kebiasaannya menuai perhatian luar biasa.

Tiap kali timnya pentas, Dina memang selalu aktif memberikan arahan seperti itu. Sebab, seluruh penarinya tidak bisa mendengar sama sekali. Mereka bergantung pada instruksi sang pelatih dan getaran suara dari musik yang kencang.

Bermula dari Ekstrakurikuler Tari di Sekolah

RATOH JAROE: Para penari Kembang Renjana bersama Nawal Abdina setelah pentas di Kemensos, Jakarta, pada 19 Oktober 2022. (Foto: Dokumentasi Kembang Renjana)
RATOH JAROE: Para penari Kembang Renjana bersama Nawal Abdina setelah pentas di Kemensos, Jakarta, pada 19 Oktober 2022. (Foto: Dokumentasi Kembang Renjana)

Kembang Renjana beranggota 8 penari inti dan 7 penari cadangan. Untuk bisa tampil memukau seperti di Mojokerto itu, Dina dan timnya melewati serangkaian jadwal latihan rutin yang tidak mudah. Tak seperti penari pada umumnya, para penari tunarungu tersebut harus berlatih ekstrakeras demi penampilan yang prima.

Selain menghafal gerakan, mereka juga perlu merasakan getaran suara dari musik yang disetel keras. Instruksi Dina menjadi acuan utama mereka. Dengan memperhatikan gerakan Dina, para penari bisa berlenggang-lenggok dengan luwes sesuai irama lagu. Sebab, hanya Dina yang bisa mendengarkan suara musiknya.

Kembang Renjana lahir dari ekstrakurikuler tari SMALB Karya Mulia. Beberapa bulan setelah Dina mengajar di sana pada 2018 lalu, terbentuklah ekstrakurikuler tari tersebut. Tak mau setengah-setengah, Dina yang alumnus Universitas Muhammadiyah Surabaya itu belajar bahasa isyarat dari nol secara otodidak. Sebab, dia ingin bisa berinteraksi dengan murid-muridnya saat melatih tari.

’’Anak-anak ini yang mengajari saya. Termasuk memberi tahu bahasa isyarat untuk ganti gerakan tarian itu seperti apa,” ujar Dina. Beribu seorang penari dan berlatih menari sejak kecil di sanggar, dia memang tidak menemui kesulitan berarti sebagai pelatih tari.

Dina bersyukur dipertemukan dengan anak-anak didik yang tangguh dan memiliki toleransi tinggi. Misal ada yang salah gerakan saat latihan, dia akan langsung minta maaf. Teman-temannya pun dengan mudah memaafkan dan ikhlas mengulang lagi gerakan dari awal tanpa marah-marah.

Ketika ada gerakan baru yang harus dihafalkan, Amanda dan teman-temannya akan dengan sabar memegang pengeras suara dan merasakan getaran dari alat pemutar musik. Dengan cara itu, mereka menyesuaikan ketukan dengan gerakan yang diajarkan. Metode tersebut membantu mereka untuk menghafalkan gerakan baru. 

Menjalin Kekompakan sejak Awal Latihan

Kembang Renjana punya jadwal latihan rutin tiap Jumat. Malamnya, sebelum hari latihan, Amanda dan teman-temannya janjian untuk memakai baju dengan warna senada pada hari H. Setiap latihan, mereka juga memakai kalung tanda pengenal. Dina sengaja mewajibkan para penarinya disiplin memakai kalung tanda pengenal agar menjadi kebiasaan.

Maka, saat pentas pun, kalung tanda pengenal tidak akan lupa dikenakan. ’’Misal saat tampil di Jakarta itu kan ada banyak orang di hotel yang tiba-tiba menanyai para penari kami. Nah, kartu itu bisa menunjukkan kalau mereka tunarungu,” terangnya.

Nama Kembang Renjana resmi melekat pada tim tari besutan Dina itu pada 2022 lalu. Arti nama itu adalah bunga yang menggembirakan. Dina berharap anak-anak didiknya yang cantik-cantik bagaikan bunga di taman bisa menjadi pembawa kegembiraan bagi orang lain lewat keluwesan mereka menari.

Kini, setelah menjadi sensasi medsos, Kembang Renjana kian sering diundang untuk tampil. Uniknya, sebagian besar publik menyangka mereka berasal dari Aceh karena seringnya membawakan tarian Saman Ratoh Jaroe. Belakangan publik baru tahu bahwa Kembang Renjana berasal dari Surabaya. (sha/c17/hep)

Baca Juga: Vonny Aprianty, Hafizah yang Memilih Mengajar Tahfiz bagi Santriwati Tunarungu

Perjalanan Kembang Renjana

  • Berawal dari pelajaran seni budaya pada 1993
  • Menjadi ekstrakurikuler tari pada 2018
  • Resmi bernama Kembang Renjana pada 2022
  • Beranggota 8 orang tim inti dan 7 orang tim cadangan
  • Masuk 10 besar Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N) ABK pada 2019
  • Meraih 3 emas, 1 perunggu, dan predikat juara umum dalam Jambore Nasional di Cibubur pada 2019
  • Juara III FLS2N ABK 2021
  • Juara I lomba Ajang Kreasi dan Prestasi ABK Surabaya pada 2022
  • Diundang Kemensos dalam peringatan Hari Disabilitas Internasional di Jakarta pada 30 Desember 2022
  • Tampil dalam Gala Dinner ASEAN High Level Forum on Disability Inclusive Development and Partnership beyond 2025 di Fort Rotterdam, Makassar
  • Tampil di Pesta Rakyat HUT Ke-106 Kota Mojokerto pada Juni 2024

Sumber: Reportase Jawa Pos

EDITOR: Ilham Safutra