Surau
Antara leleh azan
dan tikar pandan
kurebahkan tubuhku
pada dingin lantai
dini hari
Di surau ini
waktu dilamuri gigil cuaca
namun pada lengking pertama
muazin di pengeras suara
dalam pejam kudapati
seluruh-Ku bersalin
dengan seluruh-Mu
/2022–2023
---
Subuh di Dusun
Buka pintumu
angin sejuk dini hari
membawa rezeki
angin duduk mengundang mati
Begitu setiap subuh
awal mula orang-orang dusun
memulai hari
Namun antara sejuk pagi
dan bintang fajar yang sendiri
helai demi helai nasib pekerja
seperti daun kuning tua
Maka kubayangkan sebuah dongeng
tentang orang-orang membuka huma
membuat kampung halaman seperti surga
dan abadi. Abadi
/2023
---
Di Kubur Santomerto
Di Kubur Santomerto
batu-batu purba seperti demam
menerima setiap gangsir cuaca
tapi sembari memandang sayu langit cerah
ia menolak tunduk kepada segala lapuk
’’Beginilah semestinya bertahan
beginilah caranya batu-batu purba
menolak tumbang”
Batu-batu itu seperti berbisik
bak kersik daun di kaki-kaki pelancong
Aku mengangkat kamera
merekam dua tiga gambar dalam lensa
membayangkan sebuah masa
dalam dongeng-dongeng tua
istana-istana jatuh dan disusun kembali
orang-orang dusun membuka huma
menanam dan memanen yang masih tersisa
; air mata
/2022–2023
---
Pikiran
Pikiranku
dipenuhi gadis-gadis miskin
pengemis-pengemis tua
pemulung bocah
menari-nari di udara
Nasib kerap bengkok
tapi selalu ada esok
selalu ada kemungkinan
seperti nyala kandil fajar
/2022–2023
---
EDY FIRMANSYAH
Lahir di Pamekasan, Madura. Menulis puisi, cerita pendek, dan esai. Buku kumpulan puisi tunggalnya yang pernah terbit, antara lain, Derap Sepatu Hujan (Indie Book Corner, 2011) dan Ciuman Pertama (Penerbit Gardu, 2012). Buku kumpulan puisi terakhirnya berjudul Ciuman Terakhir (Penerbit Diomedia, 2022).