Sajak untuk Tan Ming Siong
telah kutemu dirimu—seolah bukan dirimu
di penang yang berbeda, di lain singapura
: dan mungkin kau tak ingin bersapa
tetapi kudengar juga, tiga bunyi
dari tiga huruf tak terbaca matamu
—nama seorang petani hokkien
yang mungkin datang berniaga
usai nikahkan anak gadisnya
”aku dari amoy, rumahku di shanghai
dan aku (mungkin) Cina Filipina,”
sangkalmu dalam guóyŭ paruh fasih
di muka gerbang pelabuhan
yang penuh tanya, penuh curiga
hei, sudah berapa lamakah
tuan tak bercakap
dalam bahasa ibunda?
bersama nama dan logat yang beralih
kau pun bungkam dalam melayu
coba menampik inggris, seraya
mengenang limo puluah koto
dan membayangkan aksi massa
meluas di seluruh bumi
siapa pula nama tuan nanti
setelah revolusi mati
atau mengkhianati sangsi?
namun hari ini, di tahun 1937
kau hanya ingin ciak teh
melupakan sesaat
para anjing pemburu britain
dan gerimis di batavia
berharap malam cepat lalu
dan orang-orang pun lupa
pada tan ming siong yang tiba
siang tadi dari kota guangzhou
“ah, apakah pakaian lusuhku
masih berbau indonesia?”
namanya Tan Ho Seng, ia
cuma seorang guru sekolah rendah
dari dàlù, yang mengajari kami yingwén
dan bernyanyi internationale—begitulah
murid-muridmu kelak berkata
November 2024
Baca Juga: Sajak: Kisah Lapar
Sajak tentang Jogja
maka musim pun berganti
setelah pluit kereta berbunyi
lalu peron ditinggal pergi
: kita menerka, Jogja takkan kembali
di Malioboro yang ditata rapi,
bulan dan lampu sama pucat pasi
di mata turis yang sarat nostalgi
“di mana dulu angkringan
yang murah hati?”
tapi mereka bersikeras,
Jogja tetap sami-sami:
kota yang ramah dengan inggih
setelah pit berganti fungsi, setelah
keong-keong sawah mengungsi
ke kedai-kedai kopi
nikmati saja udara sumuk dinihari
dalam kipas angin klithikan pagi
: seorang mahasiswi barangkali
akan dibacok orang tak dikenal nanti
di toko fotokopi, aku bersua lagi
dengan skripsiku yang diperjual-beli
seperti lapen yang asli
seperti mimpi, nyali, dan birahi
ketika itu, kita sama tahu,
”asu” bakal sempurna jadi caci maki
di kaki lima trotoar, di lesehan tepi kali
sebelum hujan mengisi perigi,
sebelum pagi yang masih gerah
bertandang kembali
November 2024
---
*) SUNLIE THOMAS ALEXANDER, Penulis dan penyair kelahiran Belinyu, Pulau Bangka