← Beranda
Sajak untuk Tan Ming Siong
Sunlie Thomas AlexanderMinggu, 16 Maret 2025 | 11.00 WIB
ILUSTRASI. (BUDIONO/JAWA POS)

Sajak untuk Tan Ming Siong

 


telah kutemu dirimu—seolah bukan dirimu

di penang yang berbeda, di lain singapura

: dan mungkin kau tak ingin bersapa

 


tetapi kudengar juga, tiga bunyi

dari tiga huruf tak terbaca matamu

—nama seorang petani hokkien

yang mungkin datang berniaga

usai nikahkan anak gadisnya

 


”aku dari amoy, rumahku di shanghai

dan aku (mungkin) Cina Filipina,”

sangkalmu dalam guóyŭ paruh fasih

di muka gerbang pelabuhan

yang penuh tanya, penuh curiga

 


hei, sudah berapa lamakah

tuan tak bercakap

dalam bahasa ibunda?

 


bersama nama dan logat yang beralih

kau pun bungkam dalam melayu

coba menampik inggris, seraya

mengenang limo puluah koto

dan membayangkan aksi massa

meluas di seluruh bumi

 


siapa pula nama tuan nanti

setelah revolusi mati

atau mengkhianati sangsi?

 


namun hari ini, di tahun 1937

kau hanya ingin ciak teh

melupakan sesaat

para anjing pemburu britain

dan gerimis di batavia

 


berharap malam cepat lalu

dan orang-orang pun lupa

pada tan ming siong yang tiba

siang tadi dari kota guangzhou

 


“ah, apakah pakaian lusuhku

masih berbau indonesia?”

 


namanya Tan Ho Seng, ia

cuma seorang guru sekolah rendah

dari dàlù, yang mengajari kami yingwén

dan bernyanyi internationale—begitulah

murid-muridmu kelak berkata

 


November 2024

 Baca Juga: Sajak: Kisah Lapar


Sajak tentang Jogja

 


maka musim pun berganti

setelah pluit kereta berbunyi

lalu peron ditinggal pergi

: kita menerka, Jogja takkan kembali

 


di Malioboro yang ditata rapi,

bulan dan lampu sama pucat pasi

di mata turis yang sarat nostalgi

“di mana dulu angkringan

yang murah hati?”

 


tapi mereka bersikeras,

Jogja tetap sami-sami:

kota yang ramah dengan inggih

setelah pit berganti fungsi, setelah

keong-keong sawah mengungsi

ke kedai-kedai kopi

 


nikmati saja udara sumuk dinihari

dalam kipas angin klithikan pagi

: seorang mahasiswi barangkali

akan dibacok orang tak dikenal nanti

 


di toko fotokopi, aku bersua lagi

dengan skripsiku yang diperjual-beli

seperti lapen yang asli

seperti mimpi, nyali, dan birahi

 


ketika itu, kita sama tahu,

”asu” bakal sempurna jadi caci maki

di kaki lima trotoar, di lesehan tepi kali

sebelum hujan mengisi perigi,

sebelum pagi yang masih gerah

bertandang kembali

 


November 2024

---

Baca Juga: Ekshibisi Karya Tokoh Legendaris The Yeats Sisters, Irlandia Rayakan Kiprah Perempuan dalam Seni-Kerajinan Tradisional

*) SUNLIE THOMAS ALEXANDER, Penulis dan penyair kelahiran Belinyu, Pulau Bangka

EDITOR: Ilham Safutra