Selarik Adimarga
Ini aku,
Pemulung asa dari luntang-lantung barat
Jakarta pagi ini;
pada lembaran roti yang berselimut selai beraroma buah berry
Di atas mebel penyangga martabat langit, langkah-langkah dokter anestesi juga jajaran jeep bermiliar-miliar dollar,
meneduh sopan pada sang empunya arloji Hublot Big Bang Diamond Tourbillon
Gema pianis-pianis menjelma sepicik pucuk malam yang menerawang terawang surga
Tak ada duka hinggap pada setiap saku-saku jas berdasi, atau sekedar menumpang rehat pada kaki-kaki yang patah
Aku lihat dari kaca seribu meter di atas tanah
Tangga-tangga sibuk berjalan pada sepatu-sepatu mengkilap, lalu terang kumpulan emas meraup kartu-kartu rapi di dompet berkulit
Aku bicara, menyimak jejak yang sengaja ditinggalkan, barangkali mengikuti aroma parfum yang membias terbawa udara
“Sepuluh tahun lagi, pencakar langit menjelma seutas layang tanpa benang,” kata pengemis buta di bawah jembatan jam dua kelabu
Di persimpangan pisau-pisau ramping mengunci setiap inci sudut kota yang membawa martabat, aku mengasah hakikat tanpa identitas.
---
Rusuk Rusak
Sebab,
Kita terlampau lancang hanya untuk sekedar merajut kembali rusuk yang rusak
Sepanjang basah hujan yang dinginnya hingga ke patah tulang,
sisa isak masih saja menghiasi sederet dinding-dinding bungkam yang membelenggu asa
Lalu pada senyap malam di tepian bibir kota,
di antara pedar cibir dan dentum belungsang yang dijejalkan,
kita dipaksa merangkak perih pada masa lampau yang tenggelam
Menuturkan kembali separagraf lakon dari para bandit-bandit biadab dan sang bedebah
Juga, pada rangkaian kelam yang tak pernah usai di tukar sepenggal nyali berdarah api
Pada ratusan jejak nyalang kaki yang menantang gema durjana
Kita kembali hadir di sisa detik yang rusak itu
Dimana detak menyentak tajam secarik rintih
Membuai rusuk dengan serpihan pedih, kala hati sudah lebam-lebam dihajar anarki
Kita tidak pernah getar menggores cacat nadi di bawah bara api
Memungut kembali sisa-sisa matahari dengan separuh raga yang nyaris mati
Hingga, sebongkah maut yang membabi-buta di tikam seutas ciut nyali.
---
62 Mil
Kelam ini,
Bungkam menghardik lancang semesta
Menghujami sumpah serapah pada sampah-sampah tak bertuhan
Penuturan usang lembaran-lembaran naif, aku pungut kembali di antara marah matahari
Lalu sisanya, aku jejalkan pada para bajingan dan kupu-kupu malam
Di sepertiganya,
Kala raga merangkai anarki dengan patah nadi
Aku temui sekumpulan biadab yang tak beradab
Tak lagi dersik melandai hirap sendu sedan atau senyap pada ruas jari buana
Padahal seratus tahun yang lalu
Telah di cambukinya ribuan bintang yang cacat
Dalam segelintir iman yang rusak.
YURITA WINDA ASTARI, tinggal di Lampung.