← Beranda
Sajak: Selarik Adimarga
Yurita Winda AstariMinggu, 2 Maret 2025 | 04.46 WIB
ILUSTRASI. (BUDIONO/JAWA POS)

Selarik Adimarga

 

Ini aku,

Pemulung asa dari luntang-lantung barat

Jakarta pagi ini;

pada lembaran roti yang berselimut selai beraroma buah berry

Di atas mebel penyangga martabat langit, langkah-langkah dokter anestesi juga jajaran jeep bermiliar-miliar dollar,

meneduh sopan pada sang empunya arloji Hublot Big Bang Diamond Tourbillon

Gema pianis-pianis menjelma sepicik pucuk malam yang menerawang terawang surga

Tak ada duka hinggap pada setiap saku-saku jas berdasi, atau sekedar menumpang rehat pada kaki-kaki yang patah

Aku lihat dari kaca seribu meter di atas tanah

Tangga-tangga sibuk berjalan pada sepatu-sepatu mengkilap, lalu terang kumpulan emas meraup kartu-kartu rapi di dompet berkulit

Aku bicara, menyimak jejak yang sengaja ditinggalkan, barangkali mengikuti aroma parfum yang membias terbawa udara

“Sepuluh tahun lagi, pencakar langit menjelma seutas layang tanpa benang,” kata pengemis buta di bawah jembatan jam dua kelabu

Di persimpangan pisau-pisau ramping mengunci setiap inci sudut kota yang membawa martabat, aku mengasah hakikat tanpa identitas.

---

Rusuk Rusak

Sebab,

Kita terlampau lancang hanya untuk sekedar merajut kembali rusuk yang rusak

Sepanjang basah hujan yang dinginnya hingga ke patah tulang,

sisa isak masih saja menghiasi sederet dinding-dinding bungkam yang membelenggu asa

Lalu pada senyap malam di tepian bibir kota,

di antara pedar cibir dan dentum belungsang yang dijejalkan,

kita dipaksa merangkak perih pada masa lampau yang tenggelam

Menuturkan kembali separagraf lakon dari para bandit-bandit biadab dan sang bedebah

Juga, pada rangkaian kelam yang tak pernah usai di tukar sepenggal nyali berdarah api

Pada ratusan jejak nyalang kaki yang menantang gema durjana

Kita kembali hadir di sisa detik yang rusak itu

Dimana detak menyentak tajam secarik rintih

Membuai rusuk dengan serpihan pedih, kala hati sudah lebam-lebam dihajar anarki

Kita tidak pernah getar menggores cacat nadi di bawah bara api

Memungut kembali sisa-sisa matahari dengan separuh raga yang nyaris mati

Hingga, sebongkah maut yang membabi-buta di tikam seutas ciut nyali.

---

62 Mil

Kelam ini,

Bungkam menghardik lancang semesta

Menghujami sumpah serapah pada sampah-sampah tak bertuhan

Penuturan usang lembaran-lembaran naif, aku pungut kembali di antara marah matahari

Lalu sisanya, aku jejalkan pada para bajingan dan kupu-kupu malam

Di sepertiganya,

Kala raga merangkai anarki dengan patah nadi

Aku temui sekumpulan biadab yang tak beradab

Tak lagi dersik melandai hirap sendu sedan atau senyap pada ruas jari buana

Padahal seratus tahun yang lalu

Telah di cambukinya ribuan bintang yang cacat

Dalam segelintir iman yang rusak.

YURITA WINDA ASTARI, tinggal di Lampung.

EDITOR: Ilham Safutra
Tags:sajak