← Beranda
Sajak: Karna
Yohan FikriMinggu, 2 Juni 2024 | 15.00 WIB
ILUSTRASI

Karna

 


/1/

Di hadapan

riap bengawan

sejumlah pertanyaanmu

mengapung

 


’’Berapa harga sejumput kasih sayang?

Apakah semahal liang kama

yang belum koyak selaput dara?’’

 


’’Apakah dewa-dewa

tak lebih boneka jerami

menyembah kehendaknya sendiri?’’

 


’’Berapa harga sekepal kejujuran?

Apakah semurah gewang dan zirah

yang mereka kais dengan raut seorang pengemis?”

 Baca Juga: Sajak: Sebab Cuaca


/2/

Di tubuhmu

arus kehilangan muara

dayung patah

jukung tak tentu arah

 


Di sebuah kemah

beberapa jam sebelum pagi

sebelum tegal pecah

langit sengit darah

luh jatuh dari mata yang lesi

membasah sekujur seprai

 


Angan hanyut ke masa lalu

seakan keranjang rotan

menyisir tepi kanal

pada sebuah malam yang kekal

 


–malam di mana seorang ibu

membuang muka

selepas purna melarung cela

 


kenangnya

 Baca Juga: Sajak: Sukun di Dusun


/3/

’’Dunia ini, Surtikanthi,

tak menyisa ruang

untuk yang terbuang,

yang hanyut

menyisir tepi kanal,

menyusur asal muasal.’’

 


Dan luka

dan kata

tebing runtuh

ke jurang jauh

hidup

merangkak

dari luka

menuju prahara

dan seterusnya

dan seterusnya

 


’’Tapi di ragaku,’’

ia bergetar

’’sebongkah gunung batu

memercikkan terbitnya sendiri.’’

 


’’Maka jika esok

aku mati, Surtikanthi,

satu-satunya kesedihanku

ialah bahwa aku tak akan lagi bisa

memandangmu, ketika kau memandangku.’’ 1

 


(2023)

Baca Juga: Sajak: Joko Pinurbo Kontrol ke Rumah Sakit

---

Bhisma

 


Di ufuk teja

langit tak lagi membuka tingkap

bagi segala sesal

senarai nama terucap

dengan intonasi yang tak final

 


Kesatria itu gugur

dengan lima liang luka

selepas sekian lama

waktu menerungku

antara lorong gelap masa lalu

dan celah terang masa depan

 


’’Kekasihku,

aku pulang ke pelukanmu.

Ke sebuah taman

di mana fajar tak mekar

di ufuk timur

temaram di ufuk barat.

Ke asal kata

sebelum menjelma doa

yang tak lagi sederhana,”

 


katanya

lesi

entah kepada

sebelas bukit yang pasi

atau awan yang tertatih letih

–seakan perempuan

yang mengerang

oleh lembing penghabisan

 


(2023)

---

Panchali

 


Kau datang padaku

dengan lambung kijang berdarah

tersengat dendam mata panah

 


Di ragamu

terhampar gelanggang pertaruhan

Seseorang melucuti

kewarasanmu

helai demi helai

tapi kekasihmu

memalingkan muka

seperti kesatria lupa

cara menghunus keris

 


Barisan resi bermulut api

berlidah onak duri

menyumpal liang telinga

pada setiap kata yang meretakkan mega

di pangkuan dewa-dewa

 


’’Tidakkah kautahu, Khrisnaa 2

jagat tersusun dari debu dan bahasa

di mana Tuhan memintal firman

pada ruas rusuk pria.

Hanya pada ruas rusuk pria.’’

 


Maka isak luka memanjang

menggarit bait balada

tapi kepedihan seperti makna

yang tak pernah sampai

Pada tarikan kain terakhir

tangismu gaung lesi

limbung mencari arah notasi

 


’’Bagaimana kesedihan

sebaiknya diungkapkan?”

 


Tanyamu

dan aku hanyalah

seorang penyair yang ragu:

di hadapan sengguk dan air mata

adakah puisi lebih berarti

dari serentang lengan dan sebuah pelukan?

 


(2023)

---

YOHAN FIKRI, Lahir di Ponorogo. Belajar di Universitas Negeri Malang. Pengajar di SMP Laboratorium UM dan DLB (Dosen Luar Biasa) di Departemen Sastra Indonesia Universitas Negeri Malang.

EDITOR: Ilham Safutra
Tags:sajak