Karna
/1/
Di hadapan
riap bengawan
sejumlah pertanyaanmu
mengapung
’’Berapa harga sejumput kasih sayang?
Apakah semahal liang kama
yang belum koyak selaput dara?’’
’’Apakah dewa-dewa
tak lebih boneka jerami
menyembah kehendaknya sendiri?’’
’’Berapa harga sekepal kejujuran?
Apakah semurah gewang dan zirah
yang mereka kais dengan raut seorang pengemis?”
Baca Juga: Sajak: Sebab Cuaca
/2/
Di tubuhmu
arus kehilangan muara
dayung patah
jukung tak tentu arah
Di sebuah kemah
beberapa jam sebelum pagi
sebelum tegal pecah
langit sengit darah
luh jatuh dari mata yang lesi
membasah sekujur seprai
Angan hanyut ke masa lalu
seakan keranjang rotan
menyisir tepi kanal
pada sebuah malam yang kekal
–malam di mana seorang ibu
membuang muka
selepas purna melarung cela
kenangnya
Baca Juga: Sajak: Sukun di Dusun
/3/
’’Dunia ini, Surtikanthi,
tak menyisa ruang
untuk yang terbuang,
yang hanyut
menyisir tepi kanal,
menyusur asal muasal.’’
Dan luka
dan kata
tebing runtuh
ke jurang jauh
hidup
merangkak
dari luka
menuju prahara
dan seterusnya
dan seterusnya
’’Tapi di ragaku,’’
ia bergetar
’’sebongkah gunung batu
memercikkan terbitnya sendiri.’’
’’Maka jika esok
aku mati, Surtikanthi,
satu-satunya kesedihanku
ialah bahwa aku tak akan lagi bisa
memandangmu, ketika kau memandangku.’’ 1
(2023)
Baca Juga: Sajak: Joko Pinurbo Kontrol ke Rumah Sakit
---
Bhisma
Di ufuk teja
langit tak lagi membuka tingkap
bagi segala sesal
senarai nama terucap
dengan intonasi yang tak final
Kesatria itu gugur
dengan lima liang luka
selepas sekian lama
waktu menerungku
antara lorong gelap masa lalu
dan celah terang masa depan
’’Kekasihku,
aku pulang ke pelukanmu.
Ke sebuah taman
di mana fajar tak mekar
di ufuk timur
temaram di ufuk barat.
Ke asal kata
sebelum menjelma doa
yang tak lagi sederhana,”
katanya
lesi
entah kepada
sebelas bukit yang pasi
atau awan yang tertatih letih
–seakan perempuan
yang mengerang
oleh lembing penghabisan
(2023)
---
Panchali
Kau datang padaku
dengan lambung kijang berdarah
tersengat dendam mata panah
Di ragamu
terhampar gelanggang pertaruhan
Seseorang melucuti
kewarasanmu
helai demi helai
tapi kekasihmu
memalingkan muka
seperti kesatria lupa
cara menghunus keris
Barisan resi bermulut api
berlidah onak duri
menyumpal liang telinga
pada setiap kata yang meretakkan mega
di pangkuan dewa-dewa
’’Tidakkah kautahu, Khrisnaa 2
jagat tersusun dari debu dan bahasa
di mana Tuhan memintal firman
pada ruas rusuk pria.
Hanya pada ruas rusuk pria.’’
Maka isak luka memanjang
menggarit bait balada
tapi kepedihan seperti makna
yang tak pernah sampai
Pada tarikan kain terakhir
tangismu gaung lesi
limbung mencari arah notasi
’’Bagaimana kesedihan
sebaiknya diungkapkan?”
Tanyamu
dan aku hanyalah
seorang penyair yang ragu:
di hadapan sengguk dan air mata
adakah puisi lebih berarti
dari serentang lengan dan sebuah pelukan?
(2023)
---
YOHAN FIKRI, Lahir di Ponorogo. Belajar di Universitas Negeri Malang. Pengajar di SMP Laboratorium UM dan DLB (Dosen Luar Biasa) di Departemen Sastra Indonesia Universitas Negeri Malang.