JawaPos.com — Program Studi Doktor (S3) Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melakukan terobosan baru untuk mengakselerasi masa studi mahasiswa.
Langkah strategis ini diwujudkan melalui ajang International Conference on Mental Health and Intercultural Communities (ICONIC).
Dalam rangkaian acara tersebut, S3 Psikologi UMM menggelar Doctoral Forum bertajuk Mental Health Crossroad: Psychology, Religion, Social, Culture and Community in The Digital World.
Program ini dirancang sebagai ruang pendampingan intensif bagi calon doktor untuk berdiskusi langsung dengan para pakar internasional.
Forum ini bukan sekadar seremoni akademik biasa, melainkan wadah pembinaan penulisan disertasi dan publikasi jurnal bereputasi global.
Melalui skema pendampingan ini, mahasiswa diharapkan dapat menyelesaikan hambatan riset secara lebih terarah.
Baca Juga: Mahasiswa UMM Jalani KKN Internasional di Selangor, Dapat Sambutan Hangat Tokoh Malaysia
Ketua Program Studi S3 Psikologi UMM, Prof. Tulus Winarsunu, menegaskan bahwa publikasi ilmiah di jurnal internasional sering menjadi kendala utama kelulusan mahasiswa doktor.
"Konferensi umum biasanya hanya diisi pemaparan materi dari narasumber, lalu selesai. Namun, Doctoral Forum diawali dengan sesi informal," ujar Prof. Tulus.
Melalui forum ini, para kandidat doktor dari berbagai universitas membedah kesulitan riset mereka bersama para ahli.
Materi diskusi mencakup pengembangan model penelitian kualitatif, kuantitatif, analisis statistik, hingga strategi publikasi.
Pendekatan langsung ini membuat proses perancangan dan penyelesaian disertasi menjadi jauh lebih efektif.
Kegiatan yang berlangsung selama tiga hari ini diikuti oleh kandidat doktor dari Indonesia, Malaysia, dan beberapa negara lain.
Sebanyak lima pakar internasional hadir sebagai narasumber, termasuk perwakilan dari UNESCO yang sekaligus membuka peluang riset baru.
Mahasiswa diajak mengkaji kawasan cagar budaya (heritage) yang meliputi Bromo, Ijen, Borobudur, hingga kawasan terasering di Bali.
Kelima pakar internasional yang hadir yaitu Ananto K. Seta, Ph.D., Prof. Pacciollano, Ph.D. (Forensic Psychologist & Logotherapist, 2024 Viktor Frankl's Awardee, Italia), Prof. Suen Mein Woel, Ph.D. (Social Psychology, Asia University, Taiwan), serta Assoc. Prof. Bulent Tansel, Ph.D. (Interpol & Forensic Lecturer of Istanbul Gelisim University, Turkey).
Para pakar dunia tersebut membantu mahasiswa memahami gaya selingkung (author guidelines) jurnal internasional.
Bahkan, mereka bersedia menjadi penulis pendamping (co-author) dan mitra penelitian.
"Narasumber ini memiliki rekam jejak tinggi di dunia akademik. Saat mereka menjadi co-author, peluang artikel mahasiswa terbit di jurnal bereputasi menjadi jauh lebih besar," tambah Prof. Tulus.
* Target Lulus 2,5 Tahun dan Efisiensi Studi
Melalui pendampingan ini, Prodi S3 Psikologi UMM menetapkan target terukur bagi para mahasiswa.
Mahasiswa diharapkan mampu menerbitkan artikel ilmiah pada semester empat, baik dari instrumen maupun pembahasan disertasi.
Jika berhasil terbit di jurnal bereputasi seperti Scopus, mahasiswa tidak perlu menempuh ujian terbuka dan bisa langsung mengikuti ujian tertutup pada semester lima.
"Visi kami sangat jelas. Targetnya mahasiswa sudah publish di semester empat. Pada semester lima, mereka bisa ujian tertutup lalu lulus. Masa studi 2,5 sampai 3 tahun sangat mungkin dicapai dan prosesnya jauh lebih efisien," tegas Prof. Tulus.
Guru Besar Psikologi Bidang Industri dan Organisasi UMM itu menambahkan, sistem kepanitiaan ICONIC dikelola oleh mahasiswa secara bergantian.
Model piala bergilir ini diterapkan untuk melatih kepemimpinan sekaligus mempersiapkan angkatan berikutnya dalam mempertahankan tradisi akademik tersebut.
* Integrasi Kesehatan Mental dan Peluang Wisata Kota Batu
Selain agenda akademik, rangkaian ICONIC juga memberi dampak nyata bagi masyarakat luas.
UMM menggandeng lembaga penggiat kesehatan mental, di antaranya Yayasan Sadar Hati untuk penanganan napza dan Indonesia Sehat Jiwa untuk pencegahan tindakan bunuh diri.
Langkah ini menegaskan komitmen S3 Psikologi UMM dalam merespons isu-isu sosial di masyarakat.
S3 Psikologi UMM memosisikan diri sebagai pusat jejaring (hub) yang netral untuk mengintegrasikan layanan kesehatan mental di wilayah Malang Raya.
Inisiatif ini mendapat perhatian dari Pemerintah Kota Batu yang melihat potensi besar pengembangan kota berbasis wisata ekologi kesehatan mental (mental health eco-tourism).
Staf ahli bidang ekonomi Pemkot Batu, Thomas Wunang Tjahjo, yang berkesempatan hadir pada acara tersebut menyampaikan antusiasmenya.
"Pemkot Batu sangat tertarik dan ingin mengembangkan kota dari sudut pandang kesehatan mental. Konsep ini dapat diterapkan pada bidang kuliner, edukasi, rekreasi, hingga pertanian berbasis herbal," pungkas Prof. Tulus. (happy d)