← Beranda
Kampus Dorong Penguasaan Teknologi agar Layanan Berkualitas Menjangkau Daerah
Rian AlfiantoJumat, 28 Agustus 2026 | 21.16 WIB
HealthTech Festival 2026 yang digelar Binus University di Jakarta. (Istimewa)

 

JawaPos.com - Teknologi kesehatan dari dunia pendidikan atau kampus menjadi kunci agar masyarakat di berbagai daerah bisa memperoleh layanan yang berkualitas, terjangkau, dan mudah diakses.

Gagasan tersebut mengemuka dalam HealthTech Festival 2026 yang digelar Binus University di Jakarta.

Forum ini mempertemukan pemerintah, akademisi, industri, tenaga medis, peneliti, hingga mahasiswa untuk mencari jalan keluar atas kesenjangan layanan kesehatan melalui pemanfaatan kecerdasan buatan (AI), rekayasa biomedis, dan teknologi kesehatan digital.

Baca Juga: Mobil Hybrid Bimasakti UGM Siap Diuji di Formula SAE Italy 2026

Indonesia masih menghadapi persoalan klasik yang belum sepenuhnya teratasi, mulai dari kondisi geografis yang menyulitkan distribusi layanan, ketimpangan akses kesehatan antarwilayah, keterbatasan tenaga medis, hingga meningkatnya beban penyakit dan biaya pelayanan.

Di tengah tantangan tersebut, perkembangan AI dan teknologi kesehatan digital membuka peluang mempercepat diagnosis, membantu pengambilan keputusan klinis, memperluas layanan kesehatan jarak jauh, serta meningkatkan pengelolaan data medis.

Namun, teknologi dinilai hanya akan berdampak jika mampu keluar dari laboratorium dan diterapkan dalam sistem pelayanan kesehatan sehari-hari.

Baca Juga: Unesa Perkuat Program Sekolah Nasional Terintegrasi di NTT dan Malut

Vice Rector for Research and Technology Transfer BINUS University Juneman Abraham menegaskan, makna Universal Health Coverage (UHC) tidak berhenti pada jumlah masyarakat yang terdaftar dalam sistem kesehatan.

"Universal Health Coverage tidak cukup hanya dilihat dari berapa banyak masyarakat yang tercakup dalam sistem kesehatan, tetapi juga apakah mereka benar-benar dapat memperoleh layanan kesehatan yang berkualitas ketika membutuhkannya," kata Juneman Abraham.

Salah satu sorotan festival adalah peran perguruan tinggi dalam menghilirkan hasil riset menjadi solusi nyata bagi masyarakat.

Rangkaian kegiatan mencakup kompetisi inovasi pelajar, pelatihan informatika medis, pameran riset, forum kolaborasi Indonesia–Inggris, hingga seminar nasional yang mempertemukan pembuat kebijakan dan praktisi kesehatan.

Penanggung jawab penyelenggaraan Binus HealthTech Festival 2026 Syauqi Abdurrahman Abrori mengatakan, riset kesehatan harus memberikan manfaat langsung bagi masyarakat, bukan sekadar menjadi publikasi ilmiah.

"Visi kami sederhana: riset dan teknologi kesehatan harus sampai ke masyarakat, tidak berhenti di laboratorium. Ini menjadi upaya kami membangun jembatan interdisipliner dengan merangkul industri, akademisi, pemerintah, dan pihak klinis untuk menghilirkan riset menjadi solusi kesehatan yang relevan dan terjangkau," terang Syauqi Abdurrahman Abrori.

Baca Juga: 770 Pendidik Buktikan Inovasi Guru Tak Berhenti di Ruang Kelas

Seminar utama bertema Innovating for Universal Health Coverage: Technology, Policy, and Partnership turut menghadirkan Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Stella Christie serta Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono sebagai representasi kolaborasi lintas sektor.

Selain forum diskusi, festival juga menampilkan pameran inovasi bertema Affordable Health Technology Innovations for Inclusive and Sustainable Healthcare.

Berbagai purwarupa perangkat kesehatan dan hasil riset dipamerkan oleh Binus HealthTech Advanced Laboratory bersama ITB, UI, ITS, BRIN, serta sejumlah mitra industri.

Baca Juga: Kondisi Memperihatinkan Siswa SDN di TTU yang ke Sekolah Harus Lewati Sungai Tanpa Jembatan

Sebagai langkah konkret, Binus University juga menandatangani perjanjian kerja sama dengan RSD Gunung Jati Cirebon, RS An-Nisa Tangerang, dan Teknologi Kedokteran ITS.

Kerja sama ini difokuskan pada pengembangan, validasi, hingga implementasi hasil riset teknologi kesehatan di fasilitas pelayanan medis.

Festival turut menggelar diskusi panel mengenai penerjemahan inovasi menjadi layanan kesehatan yang lebih adil serta mengumumkan pemenang Youth HealthTech Innovator 2026, kompetisi ide teknologi kesehatan terjangkau bagi komunitas pedesaan yang diikuti pelajar SMA dari berbagai daerah di Indonesia.

Baca Juga: Alumni UI Dibidik Masuk Dunia Industri, Dany: Ada Karpet Merah

Melalui inisiatif tersebut, dunia pendidikan diharapkan tidak hanya menjadi penghasil inovasi, tetapi juga penggerak pemerataan layanan kesehatan agar manfaat teknologi benar-benar dirasakan masyarakat hingga wilayah yang selama ini sulit dijangkau.

EDITOR: Latu Ratri Mubyarsah