← Beranda
Mendiktisaintek Brian Yuliarto Dalami Dugaan Pemalsuan Riset 'Demi Jalan-jalan Gratis' ke Denmark
Muhammad RidwanRabu, 27 Mei 2026 | 23.06 WIB
Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto. (Istimewa)

JawaPos.com - Menteri Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto mengaku tengah mendalami dugaan pemalsuan dan fabrikasi riset yang melibatkan sejumlah peserta asal Indonesia, dalam konferensi internasional International Society of Pneumonia and Pneumococcal Diseases (ISPPD) 2026 di Kopenhagen, Denmark. Kasus tersebut menjadi sorotan setelah ramai diperbincangkan di media sosial.

"Kemdiktisaintek memberikan perhatian terhadap informasi yang berkembang terkait dugaan pelanggaran integritas akademik dan etika penelitian yang melibatkan pihak yang menggunakan afiliasi institusi di Indonesia," kata Brian kepada wartawan, Rabu (27/5).

Brian menjelaskan, Kemendiktisaintek masih melakukan koordinasi dan pendalaman bersama berbagai pihak untuk memastikan fakta yang sebenarnya. Pendalaman itu mencakup status peserta, bentuk afiliasi yang digunakan, hingga keterkaitannya dengan perguruan tinggi maupun lembaga riset di Indonesia.

Baca Juga: Tips Aman Olah Daging Kurban agar Tidak Sebabkan Hipertensi

Meski demikian, pemerintah mengedepankan prinsip kehati-hatian dalam menyikapi dugaan tersebut. Proses klarifikasi dan verifikasi penting agar penanganan kasus dilakukan secara objektif sesuai mekanisme akademik dan penelitian yang berlaku.

"Semua pihak perlu diberikan ruang klarifikasi, dan setiap dugaan perlu diverifikasi secara objektif berdasarkan bukti serta mekanisme yang berlaku di lingkungan akademik dan penelitian," ujarnya.

Namun, ia mengaku khawatir kasus itu dapat memengaruhi persepsi internasional terhadap integritas peneliti Indonesia. Karena itu, ia menegaskan integritas akademik harus menjadi landasan utama dalam ekosistem pendidikan tinggi dan riset nasional.

"Praktik fabrikasi data, falsifikasi, maupun penyalahgunaan afiliasi akademik tentu tidak dapat dibenarkan," tegasnya.

Baca Juga: Jonatan Christie Ungkap Penyebab Kalah dari Prannoy HS di Babak Pertama Singapore Open 2026

Di sisi lain, Brian meminta agar kasus tersebut dilihat secara proporsional. Menurutnya, Indonesia memiliki banyak peneliti, dosen, mahasiswa, dan inovator yang selama ini bekerja secara profesional dengan menjunjung tinggi etika penelitian serta menghasilkan karya ilmiah yang diakui dunia internasional.

"Karena itu, kasus yang melibatkan segelintir pihak tidak boleh menutupi capaian dan kerja keras komunitas ilmiah Indonesia secara keseluruhan," imbuhnya.

Sebagaimana diketahui, dugaan skandal riset palsu viral di media sosial. Kasus tersebut diduga berkaitan dengan peserta asal Indonesia yang mengikuti konferensi International Society of Pneumococcal and Pneumococcal Diseases (ISPPD) 2026 di Kopenhagen, Denmark, yang disebut-sebut membuat riset demi memperoleh fasilitas perjalanan gratis.

Dugaan tersebut pertama kali ramai setelah dosen Ida Bagus Mandhara Brasika mengunggah temuannya di media sosial. Kecurigaan muncul ketika seorang perempuan yang mempresentasikan riset diduga beberapa kali mengubah tampilan busana dalam materi presentasinya.

Selain itu, materi riset kelompok tersebut juga diduga dibuat menggunakan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Polemik ini pun dinilai berpotensi mencoreng reputasi peneliti Indonesia di mata internasional.

EDITOR: Bintang Pradewo