← Beranda
Market Tiongkok Banyak Masuk ke dalam Negeri, Belajar Bahasa Mandarin Menjadi Kebutuhan
Tazkia Royyan HikmatiarSelasa, 26 Mei 2026 | 16.19 WIB
Ilustrasi : Belajar bahasa Mandarin. (Istimewa)

JawaPos.com – Masuknya pengaruh pasar Tiongkok melalui investasi dan dunia kerja membuat kemampuan berbahasa Mandarin semakin dibutuhkan masyarakat, terutama generasi muda yang ingin memperluas peluang karier.

“Sekarang pengaruh market China makin dekat dengan kehidupan kita, termasuk lewat investasi dan dunia kerja. Kami ingin teman-teman di komunitas ini punya kesiapan sejak awal, supaya ketika peluang itu datang mereka tidak mulai dari nol,” kata Founder Kursus Bahasa Asing, Ali Akbar atau Ali Sachou dalam kegiatan Exclusive Language Practice yang digelar Cetta Virtual Society (CVS) bersama OCBC, Selasa (26/5).

Ia menegaskan meningkatnya kesadaran bahwa pembelajaran Bahasa Mandarin tidak lagi sebatas kebutuhan akademik, melainkan juga menjadi bekal menghadapi perubahan ekonomi global dan persaingan dunia kerja.

Kegiatan tatap muka yang diikuti peserta level HSK 1 hingga HSK 4 itu tidak hanya menjadi ruang latihan speaking, tetapi juga wadah membangun jejaring antarpembelajar Mandarin.

Director of Mandarin Department Cetta, Kevin Caesar, mengatakan kegiatan komunitas memiliki peran penting untuk menjaga motivasi belajar sekaligus membuka peluang baru melalui relasi yang terbangun.

“Tujuan diadakannya acara ini adalah supaya para peserta didik maupun alumni bisa berkumpul, latihan bahasa Mandarin sekaligus networking. Kegiatan ini sangat berguna, khususnya bagi peserta usia kerja, karena di sini mereka bisa kenalan dan mungkin menemukan opportunity baru yang bermanfaat untuk karier mereka,” ujarnya.

Menurut Kevin, pembelajaran bahasa asing saat ini tidak lagi terbatas pada kelas formal. Komunitas menjadi ruang tambahan bagi pelajar untuk berlatih dalam suasana yang lebih santai dan aplikatif.

Dalam kegiatan tersebut, peserta dibagi ke beberapa kelompok diskusi dan praktik percakapan sesuai tingkat kemampuan masing-masing. Tutor pendamping memberikan koreksi dan umpan balik secara langsung selama sesi berlangsung.

Sementara itu, Tutor Cetta Mandarin, Laoshi Dewi, menyebut kegiatan tatap muka membawa pengalaman berbeda dibanding sesi daring.

“Semuanya antusias sekali karena akhirnya bisa bertemu secara face to face. Harapannya, acara seperti ini ke depannya bisa semakin meriah dan semakin banyak yang tertarik ikut belajar Mandarin, karena bahasa Mandarin merupakan salah satu bahasa yang penting di dunia saat ini,” katanya.

Antusiasme juga dirasakan para peserta. Yuriatin dari level HSK 1 menilai latihan langsung membuatnya lebih percaya diri berbicara Mandarin.

“Kalau latihan langsung, interaksinya lebih cepat dan kalau salah bisa langsung dikoreksi. Menurut saya ini membantu jadi lebih percaya diri untuk praktik bahasa Mandarin ke depannya,” ujarnya.

Sementara Hana Dini dari level HSK 4 mengatakan kegiatan offline memberi pengalaman belajar yang lebih hidup karena peserta dapat bertemu langsung dengan komunitas yang memiliki tujuan serupa.

“Sesuai ekspektasi, belajar jadi lebih praktis, bisa ketemu teman-teman yang juga belajar Mandarin, dan suasananya sangat nyaman. Semoga kegiatan seperti ini bisa lebih sering diadakan,” pungkasnya.

 

EDITOR: Dony Lesmana Eko Putra