← Beranda
Anak-anak yang Tumbuh Besar Menyaksikan Salah Satu Orang Tua Mengatur Suasana Hati Pasangannya Biasanya Tumbuh dengan 7 Kebiasaan Ini Menurut Psikologi
Irfan FerdiansyahKamis, 26 Maret 2026 | 22.26 WIB
seseorang yang memperhatikan kedua orang tua. (Freepik/tirachardz)

 

JawaPos.com - Dalam banyak keluarga, dinamika hubungan orang tua menjadi “panggung pertama” bagi anak untuk belajar tentang emosi, komunikasi, dan relasi. Salah satu pola yang cukup umum namun jarang disadari adalah ketika seorang anak tumbuh dengan melihat salah satu orang tua terus-menerus berusaha mengatur, menenangkan, atau bahkan “mengelola” suasana hati pasangannya.

Misalnya, seorang ibu yang selalu berhati-hati agar ayah tidak marah, atau sebaliknya. Atau situasi di mana satu pihak harus terus mengalah demi menjaga ketenangan rumah. Bagi anak, ini bukan sekadar kejadian biasa—ini menjadi pelajaran emosional yang membentuk cara mereka memahami dunia.

Menurut psikologi, anak-anak yang tumbuh dalam lingkungan seperti ini cenderung mengembangkan pola kebiasaan tertentu yang terbawa hingga dewasa. Dilansir dari Silicon Canals, terdapat tujuh kebiasaan yang sering muncul:

1. Terlalu Peka terhadap Emosi Orang Lain

Anak yang terbiasa mengamati perubahan suasana hati orang tua akan menjadi sangat sensitif terhadap emosi orang lain. Mereka bisa “membaca ruangan” dengan cepat—mengetahui siapa yang sedang kesal, sedih, atau tegang.

Kemampuan ini bisa menjadi kelebihan dalam empati. Namun, di sisi lain, mereka sering kali:

Mudah cemas

Terlalu memikirkan perasaan orang lain

Sulit merasa rileks dalam hubungan

2. Cenderung Menjadi “People Pleaser”

Karena terbiasa melihat bahwa ketenangan harus “dijaga”, mereka belajar bahwa menyenangkan orang lain adalah cara untuk menghindari konflik.

Akibatnya, mereka sering:

Mengutamakan orang lain daripada diri sendiri

Sulit berkata “tidak”

Takut mengecewakan orang lain

Dalam jangka panjang, ini bisa membuat mereka kehilangan batasan pribadi.

3. Menghindari Konflik Sebisa Mungkin

Bagi mereka, konflik bukan sekadar perbedaan pendapat—melainkan sesuatu yang berpotensi merusak hubungan.

Mereka cenderung:

Memendam perasaan

Menghindari pembicaraan sulit

Mengalah bahkan saat tidak setuju

Padahal, konflik yang sehat justru penting dalam hubungan yang matang.

4. Merasa Bertanggung Jawab atas Emosi Orang Lain

Anak yang melihat satu orang tua “bertugas” menjaga suasana hati pasangannya sering menginternalisasi peran ini.

Saat dewasa, mereka bisa merasa:

“Aku harus membuat semua orang bahagia”

Bersalah jika orang lain sedih atau marah

Bertanggung jawab atas hal yang sebenarnya bukan kendali mereka

Ini bisa menjadi beban emosional yang berat.

5. Sulit Mengenali Kebutuhan Diri Sendiri

Karena fokus mereka sejak kecil adalah pada orang lain, mereka jarang diajarkan untuk bertanya: “Apa yang aku rasakan? Apa yang aku butuhkan?”

Akibatnya:

Mereka bingung dengan perasaan sendiri

Sulit membuat keputusan

Tidak terbiasa memprioritaskan diri

6. Cenderung Masuk ke Hubungan yang Tidak Seimbang

Tanpa disadari, mereka bisa tertarik pada dinamika hubungan yang mirip dengan yang mereka lihat saat kecil.

Misalnya:

Menjadi pasangan yang selalu mengalah

Tertarik pada orang yang emosinya tidak stabil

Mengulang pola “mengurus” pasangan

Ini bukan karena mereka lemah, tetapi karena pola tersebut terasa “familiar”.

7. Memiliki Empati Tinggi, Tapi Mudah Lelah Emosional

Sisi positif dari pengalaman ini adalah mereka sering menjadi pribadi yang sangat peduli dan pengertian.

Namun, tanpa batasan yang sehat:

Mereka mudah kelelahan secara emosional

Rentan burnout dalam hubungan

Sulit menjaga keseimbangan antara memberi dan menerima

Penutup: Pola Ini Bisa Disadari dan Diubah

Penting untuk diingat, kebiasaan-kebiasaan ini bukanlah “kesalahan” individu, melainkan hasil adaptasi dari lingkungan masa kecil.

Kabar baiknya, pola ini bisa disadari dan diubah.

Dengan refleksi diri, belajar menetapkan batasan, dan memahami bahwa kita tidak bertanggung jawab atas emosi orang lain, seseorang bisa membangun hubungan yang lebih sehat dan seimbang.

Masa kecil memang membentuk kita, tetapi tidak harus menentukan masa depan kita.***

 

EDITOR: Novia Tri Astuti