← Beranda
Orang-Orang yang Tumbuh dengan Orang Tua yang Memberikan Silent Treatment Biasanya Mengembangkan 7 Kepribadian Ini Menurut Psikologi
Irfan FerdiansyahKamis, 26 Maret 2026 | 22.22 WIB
seseorang yang peka pada penolakan. (Freepik/marinaghanis98)

 

JawaPos.com - Dalam dunia pengasuhan, komunikasi adalah fondasi utama dalam membentuk perkembangan emosional anak. Namun, tidak semua orang tua mampu mengekspresikan emosi secara sehat. Salah satu pola yang cukup sering terjadi tetapi jarang disadari dampaknya adalah silent treatment—yakni perlakuan diam sebagai bentuk hukuman, penarikan diri, atau cara mengontrol anak.

Bagi anak, perlakuan ini bukan sekadar “diam”, tetapi bisa terasa seperti penolakan emosional. Ketika hal ini terjadi berulang kali, dampaknya dapat terbawa hingga dewasa dan membentuk pola kepribadian tertentu.

Dilansir dari Silicon Canals, terdapat tujuh kepribadian yang sering berkembang pada orang-orang yang tumbuh dengan pengalaman silent treatment, berdasarkan perspektif psikologi.

1. Terlalu Peka terhadap Penolakan

Anak yang sering diabaikan secara emosional cenderung tumbuh menjadi individu yang sangat sensitif terhadap tanda-tanda penolakan, sekecil apa pun itu. Bahkan perubahan nada bicara atau pesan yang tidak segera dibalas bisa dianggap sebagai tanda bahwa mereka tidak disukai.

Hal ini terjadi karena sejak kecil mereka belajar bahwa diam berarti ada sesuatu yang salah—dan sering kali mereka menyalahkan diri sendiri.

2. Cenderung Menjadi People Pleaser

Untuk menghindari “hukuman diam” dari orang tua, anak belajar untuk menyenangkan orang lain. Mereka menjadi sangat berhati-hati dalam bersikap, berusaha tidak membuat kesalahan, dan selalu ingin memenuhi ekspektasi orang lain.

Di masa dewasa, pola ini bisa berkembang menjadi kebiasaan mengorbankan kebutuhan sendiri demi menjaga hubungan tetap aman.

3. Kesulitan Mengekspresikan Emosi

Ironisnya, karena tumbuh dalam lingkungan yang tidak sehat secara emosional, mereka justru kesulitan mengekspresikan perasaan mereka sendiri.

Mereka mungkin:

Tidak tahu cara mengungkapkan marah dengan sehat

Menyimpan emosi terlalu lama

Atau bahkan mati rasa terhadap perasaan tertentu

Hal ini karena mereka tidak pernah diajarkan bahwa emosi itu valid dan bisa dibicarakan.

4. Takut Konflik Secara Berlebihan

Bagi mereka, konflik sering diasosiasikan dengan kehilangan koneksi. Karena pengalaman masa kecil menunjukkan bahwa konflik berujung pada “didiamkan”, mereka akan menghindari konflik sebisa mungkin.

Akibatnya, mereka mungkin:

Menahan pendapat

Mengalah terus-menerus

Atau memilih diam meski terluka

Padahal, konflik yang sehat adalah bagian penting dari hubungan yang dewasa.

5. Overthinking dalam Hubungan

Ketidakjelasan komunikasi di masa kecil membuat mereka terbiasa menebak-nebak perasaan orang lain. Ini terbawa hingga dewasa dalam bentuk overthinking.

Mereka sering bertanya-tanya:

“Aku salah apa ya?”

“Kenapa dia jadi dingin?”

“Apa dia marah sama aku?”

Pikiran-pikiran ini muncul karena mereka terbiasa hidup dalam ketidakpastian emosional.

6. Kecenderungan Menarik Diri

Sebagian orang justru mengembangkan mekanisme perlindungan dengan menjauh dari hubungan emosional. Mereka merasa lebih aman sendirian daripada harus menghadapi kemungkinan diabaikan.

Mereka mungkin terlihat:

Mandiri secara ekstrem

Sulit membuka diri

Tidak nyaman dengan kedekatan emosional

Padahal, di dalamnya ada ketakutan akan ditolak.

7. Harga Diri yang Rapuh

Ketika anak sering didiamkan, pesan yang tersirat adalah: “Kamu tidak cukup penting untuk diperhatikan.” Pesan ini bisa tertanam dalam dan memengaruhi cara mereka memandang diri sendiri.

Akibatnya, mereka bisa:

Merasa tidak cukup baik

Sulit menerima diri sendiri

Bergantung pada validasi orang lain

Harga diri mereka sering naik turun tergantung bagaimana orang lain memperlakukan mereka.

Penutup: Luka yang Bisa Disembuhkan

Penting untuk dipahami bahwa kepribadian-kepribadian ini bukanlah “kesalahan” individu, melainkan hasil dari adaptasi terhadap lingkungan masa kecil.

Kabar baiknya, pola-pola ini bisa disadari dan diubah. Dengan refleksi diri, terapi, atau membangun hubungan yang lebih sehat, seseorang dapat belajar:

Mengungkapkan emosi dengan aman

Membangun batasan yang sehat

Dan mengembangkan rasa harga diri yang lebih kuat

Menyadari pola adalah langkah pertama menuju perubahan. Dan setiap orang berhak untuk merasa didengar, dipahami, dan dihargai—tanpa harus takut akan “diam” yang menyakitkan.***

 

EDITOR: Novia Tri Astuti