JawaPos.com - Dalam dunia pengasuhan, komunikasi adalah fondasi utama dalam membentuk perkembangan emosional anak. Namun, tidak semua orang tua mampu mengekspresikan emosi secara sehat. Salah satu pola yang cukup sering terjadi tetapi jarang disadari dampaknya adalah silent treatment—yakni perlakuan diam sebagai bentuk hukuman, penarikan diri, atau cara mengontrol anak.
Bagi anak, perlakuan ini bukan sekadar “diam”, tetapi bisa terasa seperti penolakan emosional. Ketika hal ini terjadi berulang kali, dampaknya dapat terbawa hingga dewasa dan membentuk pola kepribadian tertentu.
Dilansir dari Silicon Canals, terdapat tujuh kepribadian yang sering berkembang pada orang-orang yang tumbuh dengan pengalaman silent treatment, berdasarkan perspektif psikologi.
1. Terlalu Peka terhadap Penolakan
Anak yang sering diabaikan secara emosional cenderung tumbuh menjadi individu yang sangat sensitif terhadap tanda-tanda penolakan, sekecil apa pun itu. Bahkan perubahan nada bicara atau pesan yang tidak segera dibalas bisa dianggap sebagai tanda bahwa mereka tidak disukai.
Hal ini terjadi karena sejak kecil mereka belajar bahwa diam berarti ada sesuatu yang salah—dan sering kali mereka menyalahkan diri sendiri.
2. Cenderung Menjadi People Pleaser
Untuk menghindari “hukuman diam” dari orang tua, anak belajar untuk menyenangkan orang lain. Mereka menjadi sangat berhati-hati dalam bersikap, berusaha tidak membuat kesalahan, dan selalu ingin memenuhi ekspektasi orang lain.
Di masa dewasa, pola ini bisa berkembang menjadi kebiasaan mengorbankan kebutuhan sendiri demi menjaga hubungan tetap aman.
3. Kesulitan Mengekspresikan Emosi
Ironisnya, karena tumbuh dalam lingkungan yang tidak sehat secara emosional, mereka justru kesulitan mengekspresikan perasaan mereka sendiri.
Mereka mungkin:
Tidak tahu cara mengungkapkan marah dengan sehat
Menyimpan emosi terlalu lama
Atau bahkan mati rasa terhadap perasaan tertentu
Hal ini karena mereka tidak pernah diajarkan bahwa emosi itu valid dan bisa dibicarakan.
4. Takut Konflik Secara Berlebihan
Bagi mereka, konflik sering diasosiasikan dengan kehilangan koneksi. Karena pengalaman masa kecil menunjukkan bahwa konflik berujung pada “didiamkan”, mereka akan menghindari konflik sebisa mungkin.
Akibatnya, mereka mungkin:
Menahan pendapat
Mengalah terus-menerus
Atau memilih diam meski terluka
Padahal, konflik yang sehat adalah bagian penting dari hubungan yang dewasa.
5. Overthinking dalam Hubungan
Ketidakjelasan komunikasi di masa kecil membuat mereka terbiasa menebak-nebak perasaan orang lain. Ini terbawa hingga dewasa dalam bentuk overthinking.
Mereka sering bertanya-tanya:
“Aku salah apa ya?”
“Kenapa dia jadi dingin?”
“Apa dia marah sama aku?”
Pikiran-pikiran ini muncul karena mereka terbiasa hidup dalam ketidakpastian emosional.
6. Kecenderungan Menarik Diri
Sebagian orang justru mengembangkan mekanisme perlindungan dengan menjauh dari hubungan emosional. Mereka merasa lebih aman sendirian daripada harus menghadapi kemungkinan diabaikan.
Mereka mungkin terlihat:
Mandiri secara ekstrem
Sulit membuka diri
Tidak nyaman dengan kedekatan emosional
Padahal, di dalamnya ada ketakutan akan ditolak.
7. Harga Diri yang Rapuh
Ketika anak sering didiamkan, pesan yang tersirat adalah: “Kamu tidak cukup penting untuk diperhatikan.” Pesan ini bisa tertanam dalam dan memengaruhi cara mereka memandang diri sendiri.
Akibatnya, mereka bisa:
Merasa tidak cukup baik
Sulit menerima diri sendiri
Bergantung pada validasi orang lain
Harga diri mereka sering naik turun tergantung bagaimana orang lain memperlakukan mereka.
Penutup: Luka yang Bisa Disembuhkan
Penting untuk dipahami bahwa kepribadian-kepribadian ini bukanlah “kesalahan” individu, melainkan hasil dari adaptasi terhadap lingkungan masa kecil.
Kabar baiknya, pola-pola ini bisa disadari dan diubah. Dengan refleksi diri, terapi, atau membangun hubungan yang lebih sehat, seseorang dapat belajar:
Mengungkapkan emosi dengan aman
Membangun batasan yang sehat
Dan mengembangkan rasa harga diri yang lebih kuat
Menyadari pola adalah langkah pertama menuju perubahan. Dan setiap orang berhak untuk merasa didengar, dipahami, dan dihargai—tanpa harus takut akan “diam” yang menyakitkan.***