← Beranda
BBM Nonsubsidi Naik Tajam, Pengguna mulai “Turun Kelas”? Ini 5 Fakta yang Kini Terjadi
Dinarsa KurniawanMinggu, 19 April 2026 | 17.40 WIB
Warga membeli Bahan Bakar Minyak (BBM) di salah satu SBPU di Depok, Jawa Barat, Selasa (31/3/2026). (Salman Toyibi/Jawa Pos)

 

 

JawaPos.com-PT Pertamina (Persero) akhirnya menaikkan sejumlah harga BBM nonsubsidi per Sabtu (18/4/2026). Berdasarkan informasi di situs MyPertamina, harga Pertamax Turbo (RON 98) melonjak tajam dari Rp 13.100 per liter menjadi Rp 19.400 per liter.

Kenaikan juga dialami Dexlite dari Rp 14.200 per liter menjadi Rp 23.600 per liter, serta Pertamina Dex yang melesat dari Rp 14.500 per liter menjadi Rp 23.900 per liter.

Lonjakan signifikan ini tak lepas dari tekanan harga minyak dunia dan pelemahan nilai tukar rupiah, yang turut memengaruhi biaya pengadaan BBM. Dengan skema penyesuaian harga mengikuti mekanisme pasar, BBM nonsubsidi menjadi lebih sensitif terhadap dinamika global. Dampaknya pun langsung terasa di tingkat konsumen.

Salah satu fenomena yang muncul adalah kecenderungan sebagian pengguna untuk “turun kelas” bahan bakar, dari BBM beroktan tinggi atau diesel premium ke jenis yang lebih murah demi menekan pengeluaran harian.

Meski terlihat sebagai solusi cepat, keputusan ini ternyata menyimpan sejumlah konsekuensi. Berikut lima fakta yang kini terjadi di lapangan:

1. Pengguna BBM Premium mulai Melirik Opsi Lebih Murah

Sejumlah pengguna kendaraan yang sebelumnya rutin menggunakan Pertamax Turbo atau Pertamina Dex kini mulai mempertimbangkan opsi yang lebih terjangkau. Selisih harga yang melonjak drastis membuat biaya operasional meningkat tajam, terutama bagi pengguna dengan mobilitas tinggi.

 

2. Risiko Penurunan Performa Mesin

Beralih ke BBM dengan nilai oktan atau cetane lebih rendah tidak selalu cocok untuk semua kendaraan. Mesin modern dirancang dengan spesifikasi tertentu, sehingga penggunaan bahan bakar di bawah standar bisa membuat performa menurun, termasuk tarikan lebih berat dan respons mesin yang tidak optimal.

 

3. Potensi Kerusakan Jangka Panjang

Penggunaan BBM yang tidak sesuai spesifikasi pabrikan berpotensi menimbulkan masalah jangka panjang. Pada mesin bensin, risiko knocking meningkat, sementara pada mesin diesel, pembakaran yang tidak sempurna bisa memicu penumpukan residu.

 

4. Konsumsi BBM Justru Lebih Boros

Alih-alih lebih hemat, penggunaan BBM dengan kualitas lebih rendah pada mesin yang tidak sesuai justru bisa membuat konsumsi bahan bakar meningkat. Mesin harus bekerja lebih keras untuk menghasilkan tenaga yang sama.

Baca Juga: Harga BBM Nonsubsidi Naik, Celios Ingatkan Pengawasan BBM Bersubsidi

5. Bengkel mulai Menerima Keluhan 

Sejumlah bengkel mulai menerima keluhan dari pengguna yang mencoba beralih jenis BBM. Keluhan yang muncul umumnya terkait penurunan tenaga, suara mesin lebih kasar, hingga getaran yang meningkat. (*)

EDITOR: Dinarsa Kurniawan