← Beranda
HUT Ke-728 Surabaya: Membaca Arah Kepemimpinan Kota Berkelanjutan
Dhimas GinanjarSelasa, 1 Juni 2021 | 02.48 WIB
Suparto Wijoyo
HARI ini adalah saat HUT pertama Surabaya di bawah kepemimpinan Eri Cahyadi-Armudji. Beliau pasti paham bahwa kota ini tak boleh terlelap. Surabaya harus berkemajuan dalam poros dunia. Konfigurasi taman-taman indah dan bertenggernya beton-beton jangkung merepresentasikan Surabaya ”living the global city” yang diintroduksi John Eade.

Kota yang menawarkan beragam kemudahan dalam bingkai green city, smart city, maupun layanan digital sebagai persyaratan global, our urban future dalam telisik The Worldwatch Institute. Saya menyaksikan aura semringah keduanya. Telah ditawarkan mimpi seperti dirumuskan Frans Kafka, senapas ”realitas yang belum mampu dijangkau konsepsi”.

Kepemimpinan Klimatopolis

Dalam kosmologi perkotaan, betapa beragam permasalahan yang harus dientas: MBR, penguatan UMKM, pemborosan energi, layanan pendidikan, kesehatan, disparitas wilayah dan pendapatan warga, jalanan rusak, pencemaran lingkungan, tata ruang yang menyimpang, maupun degradasi ekologis. Sehubungan dengan hal itu, Matthew W. Kahn telah memublikasikan konsepsinya dalam membangun kota yang bervisi klimatopolis. Iklim dapat menjadi pijakan dalam merencanakan pembangunan di setiap jengkal titik koordinat kawasannya.

Pembangunan kota yang partisipatoris dengan pendekatan ekologis telah menjadi tipe ideal tata kelola pemerintahan. Model pembangunan ini sekarang lazim dikualifikasi pada rumpun kota berkelanjutan (sustainable city). Pembangunan inilah pembangunan kota yang ”halal” dengan mengintegrasikan kepentingan ekonomi, sosial, dan lingkungan.

Pemimpin yang sadar iklim tidak akan memproduksi program yang kalau di musim hujan sibuk membenahi jalan, membangun tanggul, membersihkan gorong-gorong, sementara di musim kemarau ribet menanam pohon. Pola perencanaan dan penganggaran yang berorientasi klimatopolis saatnya direalisasi agar pembangunan tidak keliru cuaca dan salah menangkap kebutuhan warga.

Gerakan mengantor di kelurahan telah menimbulkan simpati dan wahana konkretisasi visi-misi bagi problema setempat. Mengikuti bahasa New York City Department of Design + Construction 2007–2030, inilah agenda mempersiapkan excellence program manajemen kawasan ke depan.

Sebagai warga, tentu jiwa saya melambung atas posisi penting metropolitan ini di panggung global. Nilai-nilai keseimbangan sosial-ekonomi-ekologi diwujudkan dengan ”menyihir” zona kota sebagai tempat berkonvergensinya segenap kepentingan sedasar SDGs (sustainable development goals). Di Surabaya, 70–75 persen warganya memiliki akses air bersih, 15 persen bahkan sangat bersih, meski sekitar 5–15 persen secara akumulatif belum menikmatinya.

Inilah bagian PR agar semua warga mendapatkan haknya, termasuk kasus surat ijo. Perlindungan gedung dan situs cagar budaya kian bergelora. Rancang bangun kampung dengan produk tematiknya dan moda transportasi Kalimas adalah futuristis.

Inilah Parijs van Java

Keberadaan Kalimas membawa terawang publik berkelana menelusuri pesona kanal-kanal di Belanda, Inggris, maupun Sungai Seine di Paris. Di rute ekologis Sungai Seine, berjajar sekitar 38 tempat wisata yang dapat dinikmati para pelancong. Mereka dapat menyaksikan pesona Le Louvre, Le Pont Royal, Musee d’Orsay, Les Tuileries, Pont de la Concorde, Pon Alexandre III, Palais de Chaillot, dan masih banyak lainnya. Pancaran destinasi Kota Paris terbangun dari bentuk integralistik ”jalan” dan ”sungai” yang didesain nyawiji (menyatu).

Surabaya memiliki sumber daya itu melalui Kalimas, bahkan Kali Surabaya di arah barat. Situs geografis-ekologis Kalimas memiliki padanan potensial dengan rute Sungai Seine di Paris. Kalimas adalah ”peradaban air” yang dapat menyejahterakan warga.

Jembatan Wonokromo dapat diposisikan sebagai ”stasiun induk” transportasi perairan yang disebar ke Kali Surabaya dan Kalimas. Para penikmat Kalimas yang mengambil start di Wonokromo dapat menelusuri kawasan Ngagel dan dibangunlah ”zona transit” di Gubeng Pojok. Di kawasan ini, para pengguna ”bemo air” sudah dapat menyaksikan situasi nyata kehidupan Dinoyo, Kayun, dan berujung di ”serambi” Gedung Negara Grahadi maupun balai kota.

Perjalanan selanjutnya ”menapaki” Ketabang Kali, Genteng, sampai di Semut. Penelusuran heroik tiba di jazirah Jembatan Merah yang secara historis paling fenomenal bagi arek-arek Suroboyo. Napak tilas ini sampai berakhir di kawasan Tanjung Perak. Begitu sebaliknya.

Dari ”stasiun induk” Wonokromo kita dapat ”berekspansi” ke kawasan Surabaya Timur dengan menelusuri Kali Jagir, Panjang Jiwo, Kedung Baruk, Wonorejo Rungkut, dan Wonorejo Tambak. Di sini kita dapat saksikan beragam kekhasan pamurbaya. Dari Winokromo pun para penumpang ”perahu motor” dapat menikmati ”keajaiban leluhur” kawasan Pulo Wonokromo, Gunungsari, Karah, Kebonsari, Pagesangan, dan seterusnya sampai menyebar ke wilayah barat (Driyorejo, Gresik, maupun Dam Mlirip Mojokerto) sambil sinahu sejarah Raden Wijaya sewaktu memukul mundur tentara Mongol pada 31 Mei 1293.

Baca Juga: 11 Negara Diperbolehkan Masuk Arab Saudi, Indonesia Tidak Termasuk

Lagi. Belajarlah dari yang pintar dan meniru dari yang maju. Keindahan kota-kota di Eropa dan Uni Emirat Arab semakin lengkap dengan telaga kota. Pesona Danau Lemann di jantung Geneva (Swiss) mestinya dapat diteladani untuk mengembangkan embung Morokrembangan ataupun Waduk Sepat. Inikah perwujudan bahwa Surabaya adalah pemilik kesejatian ekologi kota selaksa Paris, ya Parijs van Java dengan Kalimas. Berarti bukan hanya Bandung yang pantas disebut Parijs van Java. Biarlah Surabaya membeber dirinya lebih ekspresif dengan kali-kali sebagai alur transportasi. Dirgahayu Surabaya. (*)




*) Suparto Wijoyo, Pengajar hukumperencanaan kota dan wakil direktur III Sekolah Pascasarjana Universitas Airlangga
EDITOR: Dhimas Ginanjar