JawaPos.com - Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni bersama Pangdam XXII/Tambun Bungai Mayjen TNI Zainul Arifin meninjau langsung penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Taman Nasional Tanjung Puting, Kalimantan Tengah, Kamis (15/10). Hasil peninjauan tersebut mendorong pemerintah menyiapkan akses darat sepanjang 1,5 kilometer dan pembangunan puluhan sumur bor untuk mempercepat pemadaman.
Peninjauan dilakukan setelah tim melakukan pemetaan titik api menggunakan drone thermal. Salah satu lokasi yang menjadi perhatian utama adalah Pesalat, mengingat titik kebakaran di kawasan tersebut berada paling dekat dengan zona inti Taman Nasional Tanjung Puting.
Dalam peninjauan itu, Raja Juli dan Zainul Arifin menyusuri Sungai Sekonyer menggunakan kelotok untuk mendekati lokasi kebakaran. Namun, upaya menjangkau titik api menghadapi kendala karena akses melalui sungai sangat dipengaruhi kondisi pasang surut.
Untuk mengatasi hambatan tersebut, pemerintah memutuskan membuka jalur darat menuju lokasi kebakaran di Pesalat. Pembukaan jalur sepanjang kurang lebih 1,5 kilometer itu diharapkan mempermudah pergerakan personel sekaligus pengangkutan peralatan pemadaman.
“Daripada kita mengandalkan jalur sungai yang pasang surut itu, tadi Pak Pangdam sudah ambil keputusan. Insyaallah kita akan justru akan kita tembus jalur darat. Sudah dihitung sekitar 1,5 kilometer,” kata Raja Juli.
Pembangunan akses darat tersebut akan melibatkan berbagai unsur, mulai dari masyarakat setempat, TNI, Polri, Manggala Agni Kementerian Kehutanan, hingga para relawan. Kehadiran jalur ini diharapkan membuat proses pemadaman lebih efektif tanpa harus sepenuhnya bergantung pada kondisi sungai.
Selain membuka jalur darat, pemerintah juga merencanakan pembangunan sekitar 30 hingga 40 sumur bor di sepanjang akses menuju titik kebakaran. Sumur-sumur tersebut akan ditempatkan pada jarak tertentu agar pasokan air tersedia lebih dekat dengan lokasi pemadaman.
Ia memastikan, air yang diperoleh dari sumur bor nantinya dapat ditampung dalam tandon untuk mempermudah distribusi menuju area kebakaran. Skema ini diharapkan membantu petugas mengatasi keterbatasan sumber air sekaligus mempercepat upaya pengendalian api.
“Kalau dibangun sekitar ada yang 50 meter, ada yang per 100 meter, mungkin kita butuh sekitar 30 sampai 40 sumur bor. Tapi tadi membayangkan kalau 1,5 kilometer mungkin juga bisa nanti pakai air dari sini, nanti kita buat tandon penampung untuk mendekati ke arah yang 1,5 kilometer itu,” ujarnya.
Selain Pesalat, pemerintah telah memetakan sejumlah lokasi lain yang membutuhkan penanganan karhutla, antara lain Teluk Pulai, Sungai Baung, Tanjung Rengas, dan Sungai Perlu.
Strategi penanganan akan disesuaikan dengan kondisi setiap lokasi, mencakup penguatan personel darat, pembangunan sumur bor, pembuatan sekat bakar jika diperlukan, serta pemadaman melalui udara atau water bombing.
Raja Juli menegaskan, penanganan karhutla di Taman Nasional Tanjung Puting mengandalkan kombinasi operasi darat dan udara. Pemerintah akan mengoptimalkan keterlibatan TNI, Polri, Manggala Agni, BPBD, masyarakat, dan relawan, disertai dukungan operasi modifikasi cuaca serta water bombing.
"Langkah tersebut ditujukan untuk mengendalikan kebakaran sekaligus mencegah api merambat ke zona inti taman nasional," pungkasnya.