← Beranda
Pemerintah Maksimalkan OMC hingga Perkuat Pasukan Darat Hadapi Karhutla Kalimantan
Muhammad Ridwan• Rabu, 14 Oktober 2026 | 12.54 WIB
Menhut Raja Juli Antoni (tengah) didampingi Gubernur Kalteng Agustiar Sabran dan lainnya memantau penanganan karhutla di kawasan Petuk Katimpun, Kota Palangka Raya. (ANTARA/Muhammad Arif Hidayat)

JawaPos.com - Pemerintah terus mengintensifkan upaya penanggulangan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Tengah (Kalteng). Berbagai langkah dilakukan, mulai dari operasi modifikasi cuaca (OMC), pemadaman melalui udara, hingga penambahan personel dan peralatan di darat untuk mempercepat pengendalian api.

 

Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni mengatakan, berdasarkan prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), hujan alami di wilayah Kalimantan Tengah diperkirakan baru turun pada awal November 2026. Karena itu, pemerintah terus mengupayakan penanganan karhutla tanpa bergantung sepenuhnya pada perubahan cuaca.

 

“Seperti yang diprediksi oleh BMKG hujan alami ini baru akan ada di Kalimantan Tengah ini mungkin nanti di awal November. Sementara operasi modifikasi cuaca terus kita lakukan, kita tidak pernah berpangku tangan,” kata Raja Juli seusai mengecek proses pemadaman karhutla di kilometer 23 Taman Nasional Sebangau, Selasa malam (13/10).

 

Menurutnya, pelaksanaan OMC bergantung pada ketersediaan bibit awan yang memungkinkan untuk dilakukan penyemaian. Upaya tersebut bertujuan meningkatkan peluang terjadinya hujan sekaligus membantu membasahi kawasan yang membutuhkan penanganan.

 

Penyemaian awan juga tidak terbatas pada kabupaten yang tengah mengalami kebakaran. Ia menekankan, wilayah lain yang memiliki potensi awan turut menjadi sasaran OMC untuk mendukung proses pembasahan lahan dan mengurangi kondisi kering yang dapat memperparah kebakaran.

 

“OMC dilakukan di mana ada bibit awan ya. Apakah itu kabupaten yang ada karhut atau tidak tetap kita semai ya untuk melakukan pelembaban. Kalau syukur-syukur pemadaman dengan curah hujan yang tinggi,” ujarnya.

 

Selain mengoptimalkan OMC, lanjut Raja Juli, pemerintah mengerahkan dukungan pemadaman dari udara melalui metode water bombing, yakni menjatuhkan air dari helikopter ke lokasi kebakaran. Langkah ini menjadi salah satu strategi untuk membantu mengendalikan api, terutama di kawasan yang sulit dijangkau petugas darat.

 

Meski demikian, pelaksanaan pemadaman udara masih menghadapi kendala jarak pandang atau visibilitas. Kondisi tersebut membuat helikopter tidak selalu dapat diterbangkan.

Karena itu, Pemerintah memanfaatkan kesempatan ketika cuaca dan jarak pandang memungkinkan agar operasi pemadaman dari udara dapat kembali dilaksanakan.

 

Di samping operasi udara, penguatan penanganan di darat menjadi perhatian pemerintah. Raja Juli menyampaikan bahwa penambahan personel beserta peralatan pendukung terus didorong untuk meningkatkan efektivitas pemadaman.

 

Pemerintah juga memanfaatkan teknologi untuk mendukung strategi penanganan karhutla. Salah satunya melalui penggunaan drone thermal yang membantu petugas memantau kondisi kebakaran, mendeteksi pergerakan kepala api, serta menentukan langkah pemadaman yang lebih tepat berdasarkan situasi di lapangan.

 

Raja Juli menegaskan, seluruh upaya tersebut dilakukan untuk memperkuat pengendalian karhutla di Kalimantan Tengah di tengah terbatasnya dukungan hujan alami.

 

Pemerintah juga membuka diri terhadap kritik dan masukan masyarakat sebagai bahan evaluasi untuk meningkatkan efektivitas penanganan kebakaran.

 

“Jadi sekali lagi terima kasih ya kritik saran, evaluasi, bahkan kritik pedas sekalipun ya. Kami dengar. Itu menjadi motivasi kami untuk bergerak lebih serius lagi untuk mengatasi ini,” pungkasnya.

 

EDITOR: Diar Candra