← Beranda
IFSRC Dorong Diplomasi People-to-People dan Dialog Peradaban Indonesia–Tiongkok
Latu Ratri MubyarsahRabu, 16 September 2026 | 07.59 WIB
Peluncuran Indonesia Friends of Silk Road Club (IFSRC) di Jakarta (15/9). (Istimewa) 

 

JawaPos.com - Hubungan bilateral antara Indonesia dan Tiongkok terus diperkuat tidak hanya di sektor ekonomi dan investasi, melainkan juga lewat diplomasi antarmasyarakat (people-to-people exchanges).

Hal ini ditandai dengan peluncuran Indonesia Friends of Silk Road Club (IFSRC) dalam Seminar Nasional di Hotel Borobudur, Jakarta, Selasa (15/9).  

Kegiatan bertema Memahami Global Civilization Initiative (GCI) dari Perspektif Hubungan Indonesia–Tiongkok tersebut diselenggarakan oleh Sino-Nusantara Institute, sebuah lembaga think tank independen yang fokus pada penguatan hubungan masyarakat kedua negara.  

Baca Juga: Perdana, Ekshibisi Tartil Al-Qur’an Isyarat MTQ Nasional 2026 Diikuti 28 Peserta Tuli

Ajang ini menghadirkan sejumlah pimpinan lembaga dan tokoh penting nasional maupun internasional.

Pidato kunci (keynote speech) disampaikan oleh Wakil Ketua DPR RI Sari Yuliati, Sekjen Kementerian Agama Prof. Dr. Phil. H. Kamaruddin Amin, M.A., serta perwakilan Kedubes RRT untuk Indonesia Mr. Zhou Kan.  

Dalam pidato kuncinya, Wakil Ketua DPR RI Sari Yuliati menekankan bahwa tantangan hubungan internasional di abad ke-21 tidak dapat lagi diselesaikan semata melalui pendekatan ekonomi dan diplomasi formal (Government-to-Government/G2G).  

Baca Juga: Menteri Dody Tindak Tegas Praktik Judol di Kementerian PU, Total Transaksi Tembus Rp 12 Miliar

Menurut dia, stabilitas jangka panjang memerlukan rasa saling percaya, penghormatan, serta kesalingpengertian antarmasyarakat (People-to-People/P2P).  

"Diplomasi pada abad ke-21 tidak dapat lagi hanya mengandalkan Government-to-Government, tetapi juga harus berakar kuat pada People-to-People exchanges," tegas Sari Yuliati.  

Saat ini, Tiongkok tercatat sebagai mitra dagang terbesar bagi Indonesia.

Di sisi lain, hubungan antarmasyarakat juga terus bergulir dinamis.

Terdapat sekitar 20.000 mahasiswa Indonesia yang tengah belajar di universitas-universitas Tiongkok.

Bersama para peneliti, jurnalis, dan pelaku bisnis, mereka dinilai memegang peran strategis sebagai grassroots diplomats atau duta budaya informal.  

Baca Juga: Catat! Daftar 18 Hari Libur Nasional dan 8 Hari Cuti Bersama 2027 

Seminar ini secara khusus mengupas relevansi Global Civilization Initiative (GCI) -gagasan yang diperkenalkan Presiden Tiongkok Xi Jinping pada Maret 2023, dengan pilar kemajemukan bangsa Indonesia.  

GCI menempatkan dialog, keberagaman, dan pelestarian budaya sebagai fondasi penting kerja sama internasional.

Bagi Indonesia, nilai-nilai tersebut dinilai sangat selaras dengan modal sosial bangsa seperti Bhinneka Tunggal Ika, toleransi, moderasi, serta gotong royong.  

Baca Juga: Tenggelamnya Virgo Transport 8 Jadi Pengingat Penting Keselamatan Pelayaran

Sekjen Kementerian Agama Kamaruddin Amin menjelaskan, perspektif kerukunan di Indonesia tidak cukup diartikan sebatas ketiadaan konflik (negative peace), melainkan harus hadir secara aktif (active harmony) melalui aksi nyata lintas bangsa, budaya, dan agama.  

"Kerukunan ditempatkan sebagai sesuatu yang harus diwujudkan secara aktif melalui nilai-nilai kemanusaiaian dan kerja sama lintas batas," papar Kamaruddin Amin melalui materi bertajuk Merajut Peradaban, Membangun Kemanusiaan.  

Direktur Sino-Nusantara Institute A. Syaifuddin Zuhri, bersama para panelis seperti Irfan Ilmie, Al Busyra Basnur (Ketua Umum Perhimpunan Persahabatan Indonesia-Tiongkok), dan KH. Imron Rosyadi Hamid (Rektor UNIRA Malang), menggarisbawahi peran penting IFSRC ke depan.  

Baca Juga: Kombes Fahrurozi Lapor Balik dan Tegaskan Tak Terlibat Investasi

IFSRC dirancang bukan sekadar tempat berdiskusi, melainkan rumah bersama dan simpul kolaborasi lintas sektor yang mempertemukan kalangan akademisi, media, tokoh agama, organisasi pemuda, hingga dunia usaha dari kedua negara.  

Berbagai program konkret yang diproyeksikan lahir dari ekosistem ini antara lain, diplomasi budaya dan penguatan narasi media.

Kemudian dialog keagamaan yang moderat. Selain itu juga berupa dukungan riset kolaboratif dan pertukaran pelajar.  

Lewat kehadiran IFSRC, semangat Jalur Sutra diharapkan kembali hidup, bukan lagi sebatas rute perdagangan komoditas semata, melainkan jalan bagi pertukaran gagasan, ilmu pengetahuan, kebudayaan, dan nilai-nilai kemanusiaan.

Baca Juga: Kejagung Limpahkan Kasus Korupsi Febrie Adriansyah ke Pengadilan Tipikor

Demi memperkuat persahabatan di tengah situasi geopolitik dunia yang penuh tantangan. 

EDITOR: Latu Ratri Mubyarsah