JawaPos.com - Dentuman keras di langit Bandung, Jawa Barat (Jabar), pada Jumat tengah malam (4/9) bersumber dari erupsi Gunung Anak Krakatau. Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Rita Susilawati memberikan penjelasan lengkap terkait dengan fenomena tersebut.
Menurut Rita, saat erupsi Gunung Anak Krakatau terjadi, turut keluar energi akustik yang sangat tinggi. Energi akustik dari dentuman erupsi tersebut kemudian merambat dan jangkauannya mencapai ratusan kilometer dari lokasi letusan di Perairan Selat Sunda.
”Ketika terjadi pelepasan energi akustiknya itu bisa sangat besar, dan energi akustik inilah yang bisa merambat hingga ratusan kilometer,” kata dia dalam konferensi pers secara dalam jaringan pada Sabtu (5/9).
Karena itu, dentuman keras terdengar di daerah yang jauh dari Gunung Anak Krakatau seperti Bandung dan sekitarnya. Bahkan, PVMBG mendapat laporan suara dentuman keras juga terdengar di beberapa titik di wilayah Pantai Utara Jawa atau Pantura.
”Untuk penyebabnya tadi seperti kami sampaikan, kami memang menduga suara yang tadi karena berhubungan dengan erupsi Gunung Anak Krakatau yang terjadi tadi malam, dugaan kuatnya memang itu,” kata dia.
Namun demikian, PVMBG tetap akan melakukan pencocokan data dengan instansi lain seperti Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika. Bila merujuk ke belakang, dentuman serupa juga terdengar saat beberapa gunung api di Indonesia erupsi.
Misalnya saat erupsi Gunung Anak Krakatau pada April 2020 lalu. Masyarakat di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi mendengar dentuman keras di langit. Setelah dilakukan pencocokan waktu, suara dentuman itu bersesuaian dengan erupsi Gunung Anak Krakatau.
”Hasil pemantauan BMKG saat itu memang tidak ada gempa tektonik signifikan di wilayah Jawa Barat, DKI Jakarta, dan Banten yang dapat menjelaskan suara tersebut,” ujarnya.
Selain itu, Rita juga menjelaskan erupsi Gunung Kelud di Jawa Tengah (Jateng) pada Februari 2014. Saat itu, dentuman keras terdengar di sejumlah wilayah di Jawa Tengah (Jateng) meski letaknya jauh dari sumber erupsi. Serupa dengan erupsi Gunung Anak Krakatau saat ini, energi akustik yang keluar saat itu juga sangat besar.
”Jadi, memang berdasarkan pemantauan data-data yang kami miliki, termasuk juga data-data yang kami peroleh dari literatur, memang ada kemungkinan juga erupsi itu bisa terdengar pada jarak yang cukup jauh,” bebernya.