JawaPos.com - TNI menyiapkan 1.482 personel penyuluh untuk memperkuat langkah pencegahan dan penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Ribuan penyuluh itu dikerahkan untuk mengedukasi masyarakat secara langsung.
Sebelum bertugas di daerah terdampak karhutla, para prajurit itu sudah mendapat pembekalan di Base Ops Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur sejak 25–31 Agustus 2026.
Para prajurit yang berasal dari Mabes TNI, TNI AD, TNI AL, TNI AU, Sesko TNI, Seskoad, Seskoal, dan Seskoau tersebut mendapat pembekalan dari sejumlah perwira tinggi (pati) TNI.
Diantaranya Koorsahli Panglima TNI Mayjen TNI Aang Gunawan, Marsda TNI Esron Sahat B. Sinaga, Mayjen TNI Thevi Angandowa Zebua, Laksda TNI Donny Suharto, serta Brigjen TNI (Mar) Nioko Budi.
Baca Juga: Profil John Ternus, Insinyur di Balik iPhone hingga Apple Silicon yang Kini Jadi CEO Apple
”Melalui pembekalan itu, tim penyuluh TNI diharapkan mampu menjadi penggerak edukasi dan pencegahan karhutla di wilayah tugas masing-masing, mendorong penerapan Pembukaan Lahan Tanpa Bakar (PLTB), serta memperkuat koordinasi dan respons cepat apabila ditemukan titik asap atau potensi kebakaran,” ungkap Tim Pembekalan Pati Sahli Panglima TNI dalam keterangan resmi pada Selasa (1/9).
Pembekalan yang berlangsung selama kurang lebih 7 hari itu memang ditujukan untuk menyamakan pemahaman sekaligus meningkatkan kesiapan personel dalam memberikan edukasi dan menyampaikan informasi secara akurat, efektif, serta terkoordinasi.
Dalam keterangan yang sama, Tim Pembekalan Pati Sahli Panglima TNI menekankan bahwa penanganan karhutla bukan hanya berkaitan dengan prosedur penanggulangan kebakaran, melainkan juga menyentuh dimensi kemanusiaan. Sebab, langkah-langkah yang diambil menyangkut perlindungan masyarakat, lingkungan, dan sumber daya hutan.
Tim tersebut juga menekankan pentingnya kemampuan mendeteksi potensi kebakaran sejak awal. Hal itu dibarengi dengan mekanisme pelaporan dan respons cepat dengan tujuan memastikan setiap potensi kebakaran bisa segera ditangani sebelum berkembang lebih luas.
”Deteksi dini, pencegahan sejak dini, lapor cepat, dan quick reaction dalam menangani karhutla secara terpadu merupakan kunci untuk melindungi masyarakat, lingkungan, dan sumber daya hutan Indonesia,” lanjut Tim Pembekalan Pati Sahli Panglima TNI.
Pengerahan 1.482 penyuluh TNI sekaligus menunjukkan bahwa penanganan karhutla tidak hanya bertumpu pada pengerahan personel dan sarana saat api sudah muncul. Edukasi masyarakat, penerapan PLTB, deteksi dini, serta penguatan koordinasi menjadi bagian penting untuk mengurangi risiko dan dampak kebakaran sejak awal.
Dengan pendekatan tersebut, TNI menegaskan kontribusi nyata dalam penanganan karhutla dilakukan lewat pemadaman, pencegahan, respons cepat, dan perlindungan masyarakat sebagai bagian dari pelaksanaan tugas dalam misi kemanusiaan.