JawaPos.com - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Provinsi Riau sudah menembus 15.608,37 hektare. Bengkalis menjadi daerah dengan luas area terdampak paling tinggi.
Berdasar data dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) total sudah 8.272,90 hektare lahan terbakar di Bengkali. Selain Bengkalis, tercatat 4.629,39 hektare lahan di Pelalawan, dan sebanyak 854,26 hektare lahan terbakar di Indragiri Hilir.
Data yang sama juga mencatat luas lahan terbakar di Dumai mencapai 553,01 hektare, Rokan Hilir 452,53 hektare, Siak 300,62 hektare, Kepulauan Meranti 202,36 hektare, dan Indragiri Hulu 123,62 hektare. Karhutla juga terjadi di Kampar dengan luasan 85,27 hektare, Kuantan Singingi 57,95 hektare, Pekanbaru 47,29 hektare, dan Rokan Hulu 29,16 hektare.
Atas kondisi tersebut, Pemerintah Daerah Riau menyiagakan kekuatan personel dalam jumlah besar. Sedikitnya 17.764 personel disiapkan untuk mendukung upaya pencegahan dan penanggulangan kebakaran. Otoritas setempat memastikan karhutla di Riau masih menjadi atensi.
”Sebanyak 11 kabupaten dan kota di Provinsi Riau telah menetapkan status siaga darurat serupa di wilayah masing-masing,” kata Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Riau SF Hariyanto dalam keterangan resmi pada Selasa (11/8).
Status Siaga Darurat Karhutla itu ditegaskan lewat Keputusan Gubernur Riau Nomor Kpts.102/II/2026 yang berlaku sejak 13 Februari sampai 30 November 2026. Berdasar laporan dari lapangan, karhutla masih terjadi di beberapa titik. Total ada 106 titik panas (hotspot) dan 7 titik api (firespot) yang tersebar di sejumlah wilayah.
”Penanganan Karhutla di Provinsi Riau berjalan dengan baik karena didukung oleh sarana dan prasarana yang memadai. Selain itu, potensi personel penanggulangan karhutla yang kami siagakan mencapai 17.764 orang,” kata dia.
Tidak hanya itu, upaya pencegahan juga terus diperkuat. Pemerintah meningkatkan sosialisasi larangan membakar lahan sekaligus mendorong masyarakat untuk menerapkan metode pembukaan lahan tanpa bakar. Pemantauan titik panas juga dilakukan setiap hari. Langkah itu disertai patroli rutin dan pemeriksaan langsung ke lapangan.
”Kami terus berkoordinasi dan berkolaborasi dengan dunia usaha dalam upaya pencegahan serta pemadaman Karhutla, baik melalui jalur darat maupun udara,” ujarnya.
Sebelumnya, pemerintah mencatat sebanyak 107 ribu hektare lahan terbakar di seluruh wilayah Indonesia. Namun, dipastikan tidak ada asap melintas ke negara tetangga. Upaya pemadaman karhutla terus dilakukan bersama-sama.
Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Menko Polkam) Djamari Chaniago menyampaikan bahwa kondisi dan situasi karhutla saat ini memang sudah darurat. Karena itu, penanggulangan yang dilakukan oleh pemerintah juga harus ekstra.
”Sampai dengan hari ini, wilayah kita di Indonesia yang terbakar (karhutla) terhitung 107.000 hektar lebih,” kata dia dalam konferensi pers di Jakarta pada Senin (10/8).
Untuk menanggulangi karhutla tersebut, pemerintah mengerahkan tim darat dan udara. Khusus tim udara, sebanyak 43 helikopter sudah dikirim ke berbagai lokasi karhutla. Selain itu, pesawat yang bisa dipakai untuk melakukan water bombing juga dikerahkan. Jumlahnya 10-15 unit di beberapa lokasi berbeda.
”Kalau Satgas Darat banyak sekali yang disiapkan, banyak sekali dan kekuatan yang tercantum cukup banyak di darat,” kata dia.
Djamri mengakui bahwa dengan kondisi saat ini, penanggulangan paling efektif adalah melalui operasi udara. Khususnya lewat modifikasi cuaca. Namun, sejauh ini langkah itu belum bisa diambil karena sejauh ini tidak ada awan hujan yang dibutuhkan dalam operasi modifikasi cuaca.