JawaPos.com - Kementerian Kehutanan (Kemenhut) menegaskan komitmen mereka dalam menekan angka kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Langkah pencegahan serta pembenahan tata kelola penanganan di lapangan diperkuat menyusul prakiraan musim kemarau lebih awal dan panjang.
Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni menyatakan bahwa berbagai langkah antisipatif harus disiapkan sejak dini. Fokus pemerintah bukan hanya penanganan saat kebakaran terjadi, tapi juga pencegahan untuk mengurangi kejadian secara signifikan.
“Hal-hal apa yang kita lakukan secara konkret agar kebakaran hutan dan lahan pada tahun ini dan tahun depan bisa kita kendalikan dengan lebih baik, angkanya lebih turun,” kata Raja Juli Antoni dalam rapat bersama jajaran Ditjen Gakkum Kemenhut di Kantor Kemenhut, Jakarta, Selasa (14/7).
"Idealnya kalau bisa zero karhutla mungkin itu sangat ideal, tapi paling tidak angkanya bisa kita tekan semaksimum mungkin," sambungnya.
Dalam mendukung target itu, Kemenhut akan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap berbagai instrumen pengendalian karhutla.
Evaluasi mencakup kebutuhan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC), pemantauan tinggi muka air tanah (TMAT) di kawasan rawan, dan kesiapan personel serta sarana dan prasarana lapangan.
Selain aspek teknis, Kemenhut juga mendorong pembenahan sistem pengendalian karhutla secara menyeluruh. Perbaikan diarahkan pada perubahan mendasar, termasuk penyempurnaan regulasi dan tata kelola agar pencegahan berjalan konsisten dan berkelanjutan.
“Yang saya inginkan adalah perbaikan struktural, jadi bukan hanya kasus. Ada regulasi apa yang perlu diperbaiki, harus apa yang kita lakukan sehingga sifatnya berubah struktural dan long term, sehingga ada sesuatu yang lebih ajeg untuk teman-teman bergerak memperbaiki,” pungkasnya.