← Beranda
Cerita Herman Budianto, Relawan Global Sumud Flotilla yang Diculik Israel: Disiksa 4 Hari, Tidur di Lantai Tanpa Selimut dan Baju Basah
Muhammad RidwanSenin, 25 Mei 2026 | 02.19 WIB
Menteri Luar Negeri (Menlu) Sugiono menyambut kedatangan sembilan WNI relawan Global Sumud Flotilla di Terminal 3, Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, Minggu (24/5). (Hanung Hambara/JawaPos).

JawaPos.com - Isak tangis, haru, hingga gemuruh takbir menyelimuti kedatangan sembilan warga negara Indonesia (WNI) yang tergabung dalam relawan Global Sumud Flotilla, di Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, Minggu (24/5).

Kedatangan mereka disambut secara langsung oleh Menteri Luar Negeri (Menlu) Sugiono dan Duta Besar Palestina untuk Indonesia Abdalfatah A.K. Alsattari. Mereka tiba di Tanah Air sekitar pukul 16.20 WIB, dengan membawa bendera Merah Putih kecil di tangannya dan mengenakan keffiyeh, syal khas Palestina, saat keluar dari pintu kedatangan.

Kesembilan WNI yang tiba itu empat di antaranya merupakan jurnalis nasional yakni, Thoudy Badai dan Bambang Noroyono (Jurnalis Republika), Andre Prasetyo Nugrono (Jurnalis TV Tempo), Rahendro Herubowo (mantan jurnalis Inews), serta lima aktivis kemanusiaan Andi Angga, Herman Budiyanto Sudarsono, Ronggo Wirasono, Asad Aras Muhammad, dan Hendro Prasetyo.

Kepulangan mereka ke Tanah Air mendapat sambutan hangat dari para keluarga yang telah menunggu. 

Dalam kesempatan itu, Herman Budianto, menceritakan peristiwa yang dialaminya selama ditangkap dan ditahan oleh tentara Israel. Ia mengaku mendapat penyiksaan selama empat hari, dengan perlakuan yang sangat keji dari para tentara Israel.

"Kami menyampaikan bahwa penyiksaan-penyiksaan yang dilakukan oleh IOF itu nyata, sangat keji, sangat brutal, dari mulai proses penculikan sampai dengan proses yang panjang, sekitar empat hari melakukan penyiksaan-penyiksaan," kata Herman menceritakan kisahnya.

Relawan kemanusiaan asal Ponorogo, Jawa Timur, itu mengungkapkan banyak dari korban penyiksaan mengalami luka serius. Menurutnya, tentara Israel tidak memiliki rasa kemanusiaan, dengan tega menyiksa para tawanannya.

"Banyak sekali yang mengalami cedera-cedera berat, rusuk patah ada sekitar 40 orang, patah tangan, patah kaki, patah hidung, ada yang ditembak dan seterusnya," bebernya.

Ia pun merasa prihatin atas masifnya kasus kekerasan seksual yang dilakukan oleh tentara Israel kepada para relawan.

"Bahkan banyak juga kasus-kasus pelecehan seksual yang diterima, baik laki-laki maupun perempuan ketika proses yang panjang tersebut," ungkapnya.

Menurutnya, militer Israel menganggap para aktivis kemanusiaan yang ditangkap seperti hewan. Para aktivis yang ditangkap dipaksa berjalan merangkak dan menunduk, tidak boleh menatap wajah-wajah para tentara Israel.

"Kami harus berjalan selalu menunduk tidak boleh menatap mereka, kami pun tidur di lantai yang tidak ada selimut, dalam kondisi baju basah," tuturnya.

Herman tidak kuasa menahan tangis atas berbagai kekerasan yang dialami selama berada di dalam tahanan. Ia menyebut, peristiwa yang dialaminya tidak menjadikannya untuk berbesar hati. Sebab, penderitaan yang dialami warga Palestina lebih perih dari apa yang dirasakannya saat ditangkap tentara Israel.

"Karena saudara kita di Palestina jauh lebih menderita dibandingkan dengan kami, kami ini hanya debu-debu yang beterbangan, yang tentu tidak patut untuk berbangga, tidak patut untuk merasa penting. Tapi mudah-mudahan ini bisa menggelorakan semangat membebaskan Palestina," ujarnya sambil menahan tangis.

Pemerintah RI kecam kekejaman Israel

Menteri Luar Negeri (Menlu) Sugiono mengecam tindakan Israel terhadap WNI yang telah rela melakukan aksi kemanusiaan ke Gaza, Palestina. Ia menegaskan, Israel secara nyata telah melanggar hukum internasional.

"Indonesia kembali mengecam perlakuan yang dilakukan, perlakuan yang diberikan kepada saudara-saudara kita. Jelas merupakan suatu pelanggaran dari hukum internasional," ujarnya.

Baca Juga: Cerita Para WNI Korban Penculikan Tentara Zionis Israel dalam Misi Global Sumud Flotilla, Dipukul, Ditendang, Hingga Disetrum

Sekretaris Jenderal (Sekjen) Partai Gerindra itu menegaskan, para aktivis dari Indonesia rela pergi ke Palestina hanya sekadar memberikan bantuan kepada warga Palestina.

"Mereka adalah masyarakat sipil yang mengusahakan bantuan kemanusiaan kepada saudara-saudaranya, saudara-saudara kita yang ada di Palestina," pungkasnya.

EDITOR: Kuswandi