JawaPos.com - Anggota Komite Eksekutif Percepatan Pembangunan Otonomi Khusus Papua, Paulus Waterpauw mengungkap pentingnya pembangunan yang menjadikan orang asli sebagai pusatnya. Pembangunan tidak bisa hanya difokuskan pada fisik semata.
Waterpauw mengatakan, keberhasilan tidak semata diukur dari besarnya investasi, infrastruktur, maupun proyek nasional yang dibangun, tetapi juga sejauh mana masyarakat Papua merasakan manfaat nyata dalam kehidupannya.
Pensiunan Polri ini pun menilai pentingnya dialog dalam menindaklanjuti Proyek Strategi Nasional (PSN) ketahanan pangan dan energi yang tengah berjalan di wilayah Asmat, Mappi, Merauke, dan Boven Digoel.
Dia tak menampik bahwa terdapat hambatan dalam proyek pembangunan. Untuk itu, dialog menjadi solusi dalam mencari jalan keluar terbaik, dengan tetap mengedepankan kepentingan masyarakat.
Sebagai orang asli Papua, Waterpauw percaya bahwa masyarakat setempat pada dasarnya dapat diajak berdialog secara baik. Komunikasi yang baik akan membuka kesepakahaman antar sesama.
“Jika satu kali berbicara belum berhasil, berbicara lagi. Jika dua kali belum berhasil, maka dilakukan ketiga kalinya. Dialog yang dilakukan terus menerus dengan hati yang tulus pada akhirnya akan menemukan titik temu,” ujarnya, Sabtu (24/5).
Baginya, komunikasi dengan masyarakat Papua tidak cukup hanya melalui bahasa formal pembangunan atau angka-angka investasi. Masyarakat perlu dijelaskan secara baik mengenai manfaat yang akan diperoleh, dan peluang ekonomi yang terbuka dari PSN.
Lebih penting lagi tentang kepastian masa depan orang asli Papua dapat menjadi lebih baik melalui pembangunan. Dengan demikian, masyarakat tidak merasa sebatas menjadi objek pembangunan.
Salah satu akar persoalan yang selama ini membayangi Papua adalah kemiskinan ekstrem. Kondisi itu menjadi pemicu lahirnya berbagai persoalan sosial, mulai dari keterbelakangan pendidikan, rendahnya akses kesehatan, pengangguran, hingga potensi gangguan keamanan. Oleh karena itu, pembangunan harus diarahkan untuk menyentuh akar persoalan secara nyata dan berkelanjutan.
“Salah satu yang paling utama adalah kemiskinan ekstrem, di mana pendapatan masyarakat bahkan berada di bawah garis kemiskinan. Konflik, pertentangan sosial, bahkan kekerasan bersenjata itu berawal dari kemiskinan. Kalau perut kenyang, penghasilan ada, maka pikiran tenang dan orang bisa bekerja dengan baik," tandasnya.