← Beranda
Fenomena Alam Sinkhole Situjuah: Penjelasan, Penyebab, dan Kawasan yang Berpotensi
Rofia Ismania SartiSelasa, 27 Januari 2026 | 05.12 WIB
sinkhole di Jorong Tepi, Nagari Situjuah Batua, Kecamatan Situjuah Limo Nagari, Kabupaten Lima Puluh Kota. (Fajar R Vesky/Anggota DPRD Kab. 50 Kota)

JawaPos.com - Fenomena alam yang terjadi di Situjuah, Kabupaten Limapuluh, Sumatera Barat tengah mendapatkan perhatian masyarakat.

Sejak munculnya lubang raksasa pada  4 Januari 2026, warga pun berbondong-bondong mengambil air yang ada di lubang tersebut.

Awal kemunculan sinkhole, atau lubang besar memiliki diameter 10 meter dengan kedalaman sekitar 15 meter hingga 20 meter. Dan didalamnya terdapat air jernih. Meskipun airnya jernih, air tersebut tak layak untuk diminum, sebab berpotensi tercemar bakteri berbahaya.

Baca Juga: 5 Tanda Awal Sinkhole yang Luput dari Perhatian Warga, Retakan Tanah Jadi Sinyal Munculnya Fenomena Ini

Apa itu Sinkhole?

Menurut Science for a Changing World, sinkhole merupakan lubang yang berbentuk cekungan tanah yang tidak memiliki saluran untuk mengalirkan air ke luar. Oleh sebab itu, air yang berada di dalam sinkhole tidak dapat mengalir ke sungai, sawah atau tempat lain di permukaan tanah.

Air hujan yang masuk ke dalam sinkhole akan terkumpul dalam satu lubang, karena tidak adanya drainase alami. Air tersebut perlahan akan meresap ke dalam tanah dan mengalir ke lapisan bawah tanah.

Sinkhole tak hanya berbentuk lingkaran saja, fenomena alam ini dapat muncul dalam berbagai bentuk dan lingkungan yang berbeda tergantung pada komposisi batuan dan berbagai proses pembentukannya.

Penyebab terbentuknya Sinkhole

Meski sinkhole adalah fenomena alam,  British Geological Survey  menyebutkan bahwa pembentukan sinkhole seringkali dipercepat dan dipicu oleh perilaku manusia, seperti saluran pembuangan yang rusak, pipa air utama dan pipa pembuangan limbah, atau drainase yang dimodifikasi dan pengalihan air permukaan.

Sehingga hal itu menyebabkan sedimen terbawa ke material di bawahnya, dan menyebabkan penurunan permukaan tanah.

Berikut ini lima penyebab terbentuk sinkhole menurut Natural Environment Research Council dikutip oleh JawaPos.com:

  1. Hujan lebat dan banjir

Hujan deras atau banjir permukaan dapat memicu runtuhnya rongga yang biasanya stabil, terutama yang terbentuk di dalam  endapan permukaan

  1. Kebocoran air

Kebocoran pipa drainase, pecahnya pipa air utama, irigasi, atau bahkan tindakan mengosongkan kolam renang.

  1. Konstruksi

Konstruksi dan pembangunan juga merupakan penyebabnya. Modifikasi drainase permukaan atau perubahan beban yang dikenakan pada tanah tanpa dukungan yang memadai dapat menyebabkan terbentuknya lubang runtuhan.

  1. Perubahan ketinggian muka air tanah

Kekeringan atau pengambilan air tanah secara berlebih dapat menyebabkan Sinkhole, karena ini dapat menurunkan permukaan air tanah.

Air tanah sebenarnya membantu menopang rongga-rongga di bawah permukaan tanah dengan memberikan tekanan atau daya apung.

Ketika air tanah berkurang, penopang alami itu hilang. Akibatnya, rongga-rongga bawah tanah menjadi kering dan tidak lagi kuat menahan beban tanah di atasnya, sehingga rongga tersebut dapat runtuh dan menyebabkan lubang runtuhan di permukaan tanah.

  1. Aktivitas tambang

Aktivitas tambang juga jadi salah satu penyebabnya karena dapat mengubah kondisi tanah di bawah permukaan. Aktivitas ini dapat menurunkan muka air tanah akibat pengeringan, sehingga rongga bawah tanah kehilangan penopang dan menjadi mudah runtuah.

Aktivitas penambangan juga dapat menembus rongga yang berisi tanah liat atau sedimen. Rongga ini bersifat stabil, karena adanya penambangan tanah di dalamnya bisa ambruk.

Kawasan yang berpotensi

Sinkhole tidak hanya terjadi Situjuah saja, menurut laporan Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) di beberapa wilayah juga telah mengalami hal serupa. Dikarenakan wilayah tersebut merupakan kawasan karst.

Kawasan karst, menurut ahli geologi, wilayah yang memiliki jenis batuan di bawah permukaan tanah dapat secara alami larut oleh air tanah yang bersirkulasi di dalamnya. Batuan yang larut meliputi lapisan dan kubah garam, gypsum, batu kapur dan batuan karbonat lainnya.

Wilayah tersebut diantaranya Bantul, Gunung  Kidul, Wonogiri, Pacitan, Kebumen, dan Blitar. Di Gunung Kidul terdapat sinkhole yang muncul pada Januari 2025, dengan diameter 4 meter dan kedalaman 4 meter.

Pada tahun 2017, amblesan serupa juga terjadi di Desa Semanu dengan diameter sekitar 6 meter dan kedalaman 3 meter.

Selain di Semanu, kejadian serupa terjadi di Desa Blembeng, Kebumen, pada tahun 2023, ketika sebuah telaga mengering akibat retakan yang membuka jalur air ke sistem drainase bawah tanah. Fenomena serupa juga terjadi di Blitar (2023), saat Sungai Kaliasat Tenggong mengering akibat runtuhnya gua bawah tanah yang menopang aliran air.

EDITOR: Setyo Adi Nugroho