JawaPos.com - Layanan internet darurat sangat dibutuhkan oleh masyarakat terdampak bencana banjir bandang hingga tanah longsor di Aceh, Sumatera Utara, hingga Sumatera Barat. Sejumlah pihak dikabarkan mengirimkan bantuan layanan Starlink untuk membantu konektivitas masyarakat di sana.
Penyedia infrastruktur digital sekaligus Authorized Starlink Reseller, FiberStar turut menyalurkan paket sembako, bantuan logistik dan konektivitas ke wilayah terdampak banjir bandang di Sumatera.
Adapun pemasangan Starlink sejauh ini sudah dilakukan pada 5 titik posko bencana. Pertama yakni Posko Lanud Soewondo yang disalurkan ke Sibolga Tapanuli Tengah dan kedua adalah Posko Gedung Bulog Medan untuk disalurkan ke Medan dan sekitarnya.
Ketiga ada Posko APJII Medan untuk disalurkan ke Sumatera Utara dan Aceh, keempat Posko Sumbar di Pekanbaru untuk Markas Kodam 19 atau Tuanku Tambusai, dan terakhir Posko BPBD Tarutung, kantor bupati Tapanuli Utara untuk disalurkan ke Tapanuli Selatan dan Tapanuli Tengah.
Pemasangan akses internet Starlink ini difokuskan pada area terdampak yang membutuhkan dukungan komunikasi cepat demi koordinasi posko, relawan, dan aparat setempat. FiberStar juga menyiapkan tambahan titik instalasi Starlink yang akan dipasang bertahap.
“Dalam penanganan bencana, kecepatan adalah kunci. Karena itu, kami tidak hanya membawa bantuan logistik, tetapi juga menghadirkan akses internet yang dapat langsung digunakan oleh tim lapangan dan warga. Komunikasi yang lancar memungkinkan distribusi bantuan menjadi lebih tepat sasaran,” kata Wisnu Wardhana selaku Customer Service Assurance Division Head FiberStar saat media gathering FiberStar di Jakarta, Kamis (4/12).
Dia menjelaskan bahwa langkah ini tak hanya respon terhadap bencana, melainkan termasuk pada bagian strategi besar FiberStar untuk membuka jalan bagi akselerasi digital di wilayah 3T (Tertinggal, Terdepan, Terluar). Banyak pula titik terdampak yang berada di area yang selama ini menghadapi tantangan geografis yang membuat jaringan fiber sulit dijangkau. Alhasil, teknologi satelit menjadi solusi yang relevan dan efektif.
“Wilayah 3T menghadapi hambatan infrastruktur yang berbeda dari kawasan urban. FiberStar hadir untuk menjembatani kesenjangan digital ini dengan menghadirkan solusi hybrid, menggabungkan infrastruktur terrestrial kami dengan teknologi satelit. Dengan dukungan Starlink, konektivitas di daerah terpencil kini bisa hadir jauh lebih cepat tanpa menunggu pembangunan jaringan yang kompleks,” tambahnya.
Konektivitas di era digital kini bukan lagi sekadar layanan tambahan, melainkan kebutuhan dasar. Di banyak wilayah 3T, kehadiran internet menjadi elemen penting untuk mendukung pendidikan, memperluas layanan kesehatan, mendorong aktivitas ekonomi digital, hingga memperkuat administrasi pemerintahan desa.
Dalam praktiknya, tim FiberStar memasang perangkat satelit dengan menyesuaikan kondisi geografis serta kebutuhan operasional posko bencana. Proses instalasi berlangsung cepat sehingga akses internet bisa segera dimanfaatkan para relawan.
Masyarakat di sekitar lokasi juga merasakan manfaatnya, mulai dari berkomunikasi dengan keluarga, mencari informasi bantuan, hingga memantau perkembangan cuaca dan situasi di daerah mereka.
“Ketika akses internet hadir, masyarakat di wilayah terdampak tidak lagi merasa terputus dari dunia luar. Mereka mendapatkan kembali rasa aman dan kemampuan untuk mengakses informasi penting. Ini adalah bagian dari misi FiberStar untuk memastikan bahwa teknologi tidak hanya dinikmati oleh masyarakat kota, tetapi juga menjadi penyelamat di saat-saat kritis,” ujar dia.
FiberStar meyakini bahwa pemerataan transformasi digital merupakan langkah penting untuk mengurangi ketimpangan antara daerah dan pusat. Dengan memadukan teknologi satelit dan infrastruktur operator netral yang mereka kelola, perluasan akses internet di wilayah terpencil dapat dilakukan dengan lebih mudah, cepat diterapkan, dan memiliki keberlanjutan jangka panjang.
Meski begitu, terdapat tantangan selama pemasangan akses Starlink ini, salah satunya masalah akses dengan target Kota Langsa, Aceh. Padahal, jarak Langsa ke Medan sebenarnya tidak sampai tiga jam.
“Kemarin sore saya sampai bingung cari akses ini adalah, hanya mau kirim ke Langsa. Padahal Langsa itu enggak nyampai tiga jam dari Medan. Dan sementara Langsa itu butuh konektivitas. Kita mau kirim ke sana jalanan terputus dari Medan,” ungkap dia.
Hal ini dikarenakan jalan tol yang berada di Kota Langsa mengalami banjir di Pangkalan Brandan, sehingga tak bisa dilewati. Bahkan jalanan ke sana, melalui Aceh Tamiang, sudah tampak seperti jalanan offroad. Alhasil, tim FiberStar memutuskan untuk melalui jalur udara.
“Itu yang pertama saya coba kontak teman-teman yang bisa dapat akses ke TNI. Ini kira-kira ada nggak pesawat buat ke Langsa? Atau misalnya kita coba lewat Lhokseumawe? Karena mungkin saking banyaknya traffic ke sana kita juga akhirnya mesti ngantri. Jadi saya baru dapet antrian ini sekarang tanggal lima ya Untuk bisa dapet ke Lhokseumawe terus baru dikirim ke Langsa,” tukasnya.
Bahkan, masalah bensin juga turut jadi persoalan saat pemasangan ini. Sebab, saat ingin mengirimkan bantuan dari Medan ke Kota Sibolga, Sumatera Utara, tim FiberStar diharuskan antri SPBU. Di saat yang sama, banyak orang juga membutuhkan bensin.
“Kita digilir dan kita dibatasi juga, nggak boleh sampai banyak ya. Kita juga kadang-kadang udah minta bantuan keluarga, bisa nggak minta bantuan. Akhirnya mereka hanya bisa kasih bantuan, tapi hanya untuk area kota itu sendiri.Karena kalau mereka kasih bantuan untuk mobil pergi ke luar kota, mereka khawatirnya nggak ada untuk bensin lagi,” tukas dia.