JawaPos.com - Ada sesuatu yang nyaris paradoks dari kesuksesan Dear You.
Di tengah industri film Tiongkok yang dipenuhi produksi berskala besar, bintang populer, franchise, dan kampanye promosi masif, film karya Lan Hongchun ini justru datang dengan hampir semua hal yang biasanya dianggap sebagai kelemahan komersial: anggaran yang sangat kecil, bahasa daerah yang dominan, tidak ada aktor papan atas, dan sebagian besar pemerannya bahkan bukan aktor profesional.
Di tengah segala keterbatasan ini, Dear You justru menemukan kekuatannya.
Film drama keluarga berdurasi 118 menit ini menjadi fenomena box office di Negeri Tirai Bambu setelah dirilis pada April 2026. Dengan anggaran produksi sekitar 14 juta yuan, Dear You berkembang menjadi film yang dibicarakan dari mulut ke mulut dan mendapatkan respons luar biasa dari penonton.
Dear You berangkat dari sebuah keluarga Chaoshan di Guangdong dan sebuah misteri yang telah bertahan selama puluhan tahun.
Xiaowei, seorang pemuda yang sedang mengalami kesulitan finansial, pergi ke Thailand untuk mencari kakeknya, Zheng Musheng. Sang kakek telah meninggalkan Tiongkok puluhan tahun sebelumnya dan selama bertahun-tahun diyakini telah membangun kehidupan baru di Thailand.
Keluarga di rumah memiliki versinya sendiri mengenai apa yang terjadi. Musheng dahulu meninggalkan istrinya, Shurou, dan anak-anak mereka dalam situasi politik dan sosial yang kacau. Ia kemudian mengirim surat dan uang kepada keluarganya melalui tradisi qiaopi—surat yang dibawa bersama kiriman uang dari perantauan kepada keluarga di tanah asal.
Tetapi komunikasi itu akhirnya terputus.
Puluhan tahun kemudian, Xiaowei berangkat ke Thailand untuk mencari kakeknya. Namun, yang ia temukan bukanlah sosok lelaki tua yang selama ini hidup dalam bayangan keluarganya, melainkan sebuah kisah yang jauh lebih rumit tentang migrasi, kemiskinan, kesetiaan, pengorbanan, dan keputusan-keputusan manusia yang konsekuensinya baru terasa beberapa generasi kemudian.
Jika ditinjauh dari judulnya, Dear You mungkin membuatnya terdengar seperti drama romantis. Padahal pusat emosinya jauh lebih luas.
Film ini berbicara tentang orang-orang yang hidupnya dipisahkan oleh sejarah, perang, migrasi, jarak geografis, dan keadaan ekonomi. Surat-surat yang dikirim dari Thailand ke Tiongkok menjadi semacam jembatan antara dua dunia yang tidak lagi bisa bertemu secara langsung.
Dear You juga menjadi karya yang menarik karena tidak buru-buru menghakimi karakter-karakternya. Ketika Xiaowei menemukan kenyataan di balik kisah kakeknya, penonton perlahan diajak memahami bahwa manusia sering kali mengambil keputusan bukan karena mereka tidak mencintai keluarganya, melainkan karena keadaan memaksa mereka memilih dari pilihan yang sama-sama buruk.
Bagian paling istimewa dari Dear You adalah fakta bahwa film ini menggunakan pemeran yang sebagian besar bukan aktor profesional. Li Sitong, pemeran Xie Nanzhi muda, misalnya, adalah mahasiswa jurusan keuangan yang belum memiliki pengalaman akting profesional ketika ditemukan Lan Hongchun. Sang sutradara melihatnya melalui video pendek sebelum kemudian memilihnya untuk film ini.
Ada pula Wu Shaoqing, yang memerankan Shurou tua. Ia dikenal sebagai kreator lokal Chaoshan berusia 80-an, bukan bintang film dengan pengalaman panjang di industri perfilman.
Wajah-wajah seperti itulah yang membuat Dear You terasa berbeda. Mereka tidak terlihat seperti orang yang sedang bermain peran sebagai keluarga. Mereka terlihat seperti orang-orang yang memang hidup di dalam keluarga tersebut.
Tidak ada kesempurnaan teknik akting yang terlalu kentara. Tidak ada gestur yang terasa dirancang untuk mengejar tangisan penonton. Ekspresi mereka sering kali sederhana, bahkan kikuk. Tetapi justru dalam kekikukan itulah terdapat kejujuran.
Jika ada kecenderungan dalam melodrama modern untuk menganggap emosi harus diperbesar agar terasa, Dear You mengambil jalan yang berbeda.
Ia tidak membutuhkan karakter yang terus-menerus menangis untuk mengatakan bahwa mereka sedang terluka.
Kesedihannya sering hadir dalam bentuk yang jauh lebih sederhana: sebuah surat, sebuah percakapan, sebuah tatapan, sebuah informasi yang terlambat diketahui, atau seseorang yang selama puluhan tahun tetap melakukan sesuatu karena merasa itulah satu-satunya hal yang benar.
Secara keseluruhan, Dear You bukan film yang sempurna.
Ada bagian-bagian yang terasa melodramatis dan struktur ceritanya terkadang terlalu nyaman dengan sentimentalitas. Namun kekurangan tersebut terasa kecil dibandingkan ketulusan yang dibawa film ini.
Yang paling mengesankan bukan hanya kisahnya. Bukan pula angka box office-nya. Melainkan kenyataan bahwa sekumpulan wajah yang sebelumnya tidak dikenal publik mampu membawa sebuah drama keluarga lintas generasi dengan begitu meyakinkan.
Dear You membuktikan bahwa untuk membuat penonton tersentuh, sebuah film tidak selalu membutuhkan bintang besar. Kadang yang dibutuhkan hanyalah cerita yang benar-benar dipercaya oleh orang-orang yang membawakannya.