← Beranda
Evil Dead Burn: Semakin Sadis, Tapi Semakin Dangkal Secara Emosional
Banu AdikaraJumat, 17 Juli 2026 | 23.58 WIB
Adegan dalam film Evil Dead Burn. (Istimewa)

JawaPos.com - Bagi pecinta film horor dengan elemen gore yang tumpah ruah di dalamnya, Evil Dead mungkin adalah salah satu franchise yang tidak pernah mengecewakan.

Dimulai dengan trilogi The Evil Dead besutan Sam Raimi, dilanjutkan dengan versi reboot berjudul Evil Dead (2013) dan Evil Dead Rise (2023), judul ini selalu berhasil membuat psikologis para penontonnya terganggu lewat adegan-adegan bersimbah darah yang kelewat sadis.

Melanjutkan dua prekuelnya, sutradara Sebastien Vanicek kini kembali meneror para penggemar film ini lewat rilisan teranyar berjudul Evil Dead Burn.

Baca Juga: Fatamorgana Kekuatan Absolut: Menakar Ulang Maskulinitas dan Jalan Pedang Miyamoto Musashi Lewat 'Vagabond'

Masih mengusung tradisi yang sama dengan judul-judul pendahulunya, Sebastien Vanicek mengajak para penontonnya untuk kembali menyaksikan rangkaian siksaan di luar nalar yang dijamin membekas di kepala.

Evil Dead Burn berkisah tentang seorang perempuan bernama Alice (Souheila Yacoub) yang sedang berduka karena baru saja kehilangan suaminya, Will Price yang tewas dalam kecelakaan lalu lintas mengerikan.

Kematian tragis Will pun membuat Alice kembali bereuni dengan ayah serta ibu Will, Edgar Price dan Susan Price yang notabene tidak pernah menyukainya.

Baca Juga: Bahasa Sunyi 'Gon' di Tengah Dunia yang Terlalu Banyak Bicara

Alice berusaha memperbaiki hubungannya dengan Edgar dan Susan. Bersama adik Will, Joseph Price dan kekasihnya Thya, ia pun memutuskan ikut berkumpul ke kabin terpencil milik keluarga Price di tengah hutan, tanpa menyadari bahwa sesuatu yang jahat sedang mengintainya.

Sesuatu yang membunuh Will. Sesuatu yang diam-diam sudah siap membuat kabin keluarga Price berubah menjadi lautan darah.

Berdurasi selama kurang lebih 110 menit, Evil Dead Burn seolah tidak ada hentinya membuat penonton bernapas sejenak.

Pembantaian demi pembantaian dalam film ini sudah terjadi tidak lebih dari 5 menit film ini dimulai. Yang membuat film ini makin mengerikan adalah fakta bahwa semua kesadisan yang terjadi disajikan lewat alat-alat sederhana yang sangat familiar dalam keseharian.

Mulai dari pancingan, pembuka botol, perkakas dapur, pintu tungku, sampai sandaran kepala jok mobil, semuanya berhasil dimaksimalkan oleh Sebastien Vanicek menjadi senjata pembunuhan yang menyiksa batin.

Secara plot, Evil Dead Burn juga punya fondasi yang cukup kuat, mengingat Alice punya hubungan yang sangat buruk dengan keluarga Will, beserta masa lalu kelamnya dengan sang suami yang tidak pernah ia ungkapkan ke siapapun.

Sayang, plot yang terbangun di atas kebrutalan tersebut tidak diimbangi dengan penokohan para karakternya. 

Baca Juga: Agitasi Sebelum Invasi: 'Pluto' dan Alegori Politik di Balik Propaganda Perang

Semua karakter di film ini seperti tidak diberi kesempatan untuk menjiwai peran mereka masing-masing. 

Akibatnya, ketika satu per satu tokoh mati dengan mengenaskan, penonton gagal untuk berempati atau merasa iba dengan mereka.

Kekosongan yang sama juga terjadi ketika para tokoh antagonis di film ini akhirnya mati satu per satu. Tidak ada kepuasan. Tidak ada perayaan. Tidak ada klimaks.

Kedangkalan emosional dalam Evil Dead Burn akhirnya membuat film ini hanya terasa sebagai siksaan visual belaka ketimbang karya yang menggojlok ketahanan perut dan emosi.

Kecuali adegan-adegan sadisnya, hampir segalanya dalam film ini begitu mudah untuk terlupakan.

Secara keseluruhan, Evil Dead Burn adalah film yang tepat untuk para penggemar film slasher horror, terlebih Anda yang memang mengikuti franchise ini. Jika Anda memang mencari pertumpahan darah dan tidak menuntut penokohan lakon yang apik, Evil Dead Burn tidak akan mengingkari keinginan ini.

EDITOR: Banu Adikara