JawaPos.com - Sentimen pribadi masih kental dalam debat final Pilkada DKI Jakarta. Khususnya ditujukan kepada petahana Basuki Tjahaja Purnama (Ahok).
Kata Pengamat Politik dari Universitas Mercu Buana Maksimus Ramses Lalongkoe, contoh sentimen pribadi itu yakni ditunjukkan pasangan calon nomor urut 1, Agus Harimurti-Sylviana Murni. Pasangan itu menegaskan Ahok telah melakukan kekerasan verbal dan menilai kalau sudah karakter, tidak bisa diubah.
"Nah ini kan menyerang personal orang, apa pentingnya membangun opini begitu terkait persoalan Jakarta. Tentu tidak relevan sama sekali dari subtansi persoalan Jakarta," ujarnya kepada JawaPos.com, Sabtu (11/2).
Lebih banyak membangun sentimen pribadi terhadap Ahok ketimbangkan memparkan solusi yang tepat terhadap persoalan Jakarta sesuai tema yang diangkat, menurutnya justru merugikan bagi pasangan calon tersebut. Pasalnya, itu panggung debat terakhir bagi mereka sebelum Pilkada DKI digelar pekan depan.
"Harusnya kerahkan seluruh kemampuan memaparkan solusi yang tepat, yang rasional terkait masalah di Jakarta bukan panggung untuk membangun sentimen pribadi," tutur dia.
Ramses mengatakan, membangun opini negatif terhadap pribadi pasangan calon bukan sesuatu yang diharapan publik Jakarta sebetulnya. Publik lagi-lagi ingin mendapatkan gambaran nyata solusi persoalan di Ibu Kota.
"Debat cerdas dan rasional sulit kita nikmati malam ini, karena cenderung eksplorasi wilayah karakter pribadi calon yang tidak relevan dengan topik-topik yang disuguhkan," pungkas Ramses. (dna/JPG)